Minggu ke-25

W25

Alhamdulillah, sudah lewat 25 minggu si bayi didalam perut. Hasil USG terakhir di minggu 24 semuanya normal, berat oke, air ketuban cukup, tulang belakang normal, ukuran kepala normal, dan detak jantung bagus. Posisi plasenta juga bagus, kepalanya dibawah terus, paling pindah-pindah dikit. Yang masih dipertanyakan adalah jenis kelaminnya. Pas minggu 20 kita ke dr. Andalas, dengan yakinnya beliau bilang laki-laki. Trus terakhir kita ke dr. Niken dan dia bilang inong :D. Yaaa, perempuan atau laki-laki sama aja ya nak. Yang penting sehat-sehat terus, lahir dan batin, fisik dan mentalnya. Amien. 

Highlight penting melewati bulan ke-6 ini adalah saya dan suami berhasil khatam Alquran 2x. Kita ngaji gantian, sambil salah satunya membaca terjemahan. Targetnya 3x sih, karena belum sanggup sebulan sekali. Maksudnya tiap trimester, si bayi bisa ikut latihan khatam Quran juga bareng kita. Kata ustadzah sih anaknya bisa jadi lebih pintar nanti. Amien ya Rabb. Tinggal satu kali lagi khatam nih. Semoga bisa terus konsisten mengaji, dengan harapan doa-doa kita untuk si bayi dikabulkan Allah SWT :D.

Okay lah, TTFN. Will post more soon.

 

Serba bisa atau tidak profesional??

Sebelumnya saya mohon maaf dulu, sepertinya postingan ini bisa memicu huru hara sama arsitek. Sebenarnya saya cuma ingin mengangkat isu kerja serba bisa yang bertentangan sama profesionalitas. Menurut pengalaman saya, yang paling serba bisa adalah lulusan arsitektur 🙂

Jadi gini yaa..

Saya melihat banyak sekali teman-teman arsitek di sekitar saya yang merasa mampu untuk melakukan berbagai hal. Misalnya nih, ada beberapa teman arsitek yang mengaku mampu ngerjain produk tata ruang seperti RTBL, RDTR, RTRW, malah sampai ke studi transportasi dan guna lahan. Kelompok ini biasanya ikutan kerja beberapa kali di perencanaan dan kemudian claim  bahwa arsitek cukup kompeten untuk melakukannya. Saya ga masalah ya dengan ini. Menurut saya, memang kompetensi seorang profesional itu ga melulu dari latar belakang pendidikan tapi pengalaman. Saya juga tidak merasa tersaingi dengan arsitek-arsitek yang akhirnya terjun ke bidang perencanaan wilayah dan kota. Toh, dosen-dosen saya pun banyak yang arsitek. Bidang PWK dan arsitektur memang serumpun dan punya akar sejarah yang sama, walaupun dalam perkembangannya ada perbedaan lingkup. PWK lebih makro mencakup segala aspek, arsitek mungkin mindsetnya lebih ke design. Ini menurut saya loh ya, melihat bagaimana teman-teman arsitek melihat ruang (baik ketika saya sekolah di Malang, Melbourne, dan pas kerja di Aceh). Apalagi di Aceh, dimana lulusan PWK bisa dihitung dengan jari. Kita memang butuh arsitek yang tertarik di bidang perkotaan.

Nah.. di Melbourne, kelompok arsitek pecinta perkotaan ini biasanya melanjutkan studi ke bidang PWK a.k.a urban & regional planning. Kenapa? Karena di Australia, keprofesionalitasan diatur dalam standar dan harus tersertifikat. Umumnya, PIA memberikan sertifikasi bagi mereka yang punya background pendidikan perencanaan, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang non-planner tapi bekerja cukup lama sebagai planner. Sebenarnya sama seperti kita di Indonesia. Semua sudah diatur, walaupun pada praktiknya pekerjaan perencana banyak diserobot oleh praktisi teknis non-perencana. Lagi-lagi.. karena emang perencana ber-SKA belum banyak, terutama di daerah-daerah seperti Aceh. Banyak proyek tata ruang yang diatas kertas dilakukan oleh perencana, tapi kenyataannya hanya sekedar pinjam nama. Akhirnya teman-teman arsitek pecinta perencanaan ini banyak lah yang bantu-bantu kerjaan kita, which I don’t mind at all. Asal… konsisten aja bro :D. Dan kalo bisa sih ambil SKA perencana aja sekalian.

Yang saya heran, beberapa teman-teman arsitek yang saya kenal disini… pun mengerjakan bidang lain yang menurut saya sih jatahnya anak sipil. Ngerjain RAB infrastruktur, gambar teknis super detil ala sipil, dan lain-lain. Apakah anak-anak sipil merasa ini pantas-pantas aja seperti opini saya tentang arsitek yang terjun di perencanaan kota? Saya ga tau. Setau saya lulusan sipil cukup berserakan di seantero Aceh dan banyak dari mereka yang perlu pekerjaan juga. Sepengalaman saya bekerja dengan lulusan arsitek yang mengerjakan proyek sipil ini, mereka ngerjainnya coba-coba sambil belajar, akhirnya bisa dan beberapa jadi jago. Saya ga keberatan kalau arsitek pecinta sipil ini akhirnya bikin SKA kek, menandakan kalau dia akhirnya pindah haluan. Yang malesin tuh kalo semua diserobot. Planning iya, kerjaan arsitektur tentu aja dong, ehh sipil juga iya. Jangan-jangan bidang kayak teknik lingkungan juga mau? Hehe… Kalau alasannya bisa belajar, semua juga bisa. Saya juga sekarang udah mulai bisa bikin RAB sipil, tapi apakah saya akan menerima pekerjaan bikin RAB? Kayaknya sih ga ya.

Yaa.. sebenarnya kerjaan kayak kita gini harus teamwork sih, terdiri dari planner, arsitektur, sipil, lingkungan, bahkan bidang sosial seperti hukum, ekonomi, dll. Semuanya bekerja sama. Cuma emang kenyataannya jadi terkotak-kotak karena pemerintah kita pun belum menghargai keprofesionalitasan. Kadang-kadang project besar aja bisa dikerjan cukup oleh satu orang, duuhhh. Atau mentang-mentang project infrastruktur isinya anak teknik semua. Diatas kertas memang perlu SKA, kenyataannya kan ga perlu-perlu amat toh.

Pada akhirnya kita-kita para pekerja memang serba salah. Mau sesuai bidang, projectnya ga banyak dong? Mana tiap kerjaan gaji dipotong sama yang ngasih kerja gila-gilaan *curcol*. Jadi, semua aja dikerjain, walopun sambil belajar. Apakah kita mau begini?

Mau serba bisa atau mau profesional? 

Senam hamil

Posting ah 🙂

Hari ini pertama kalinya ikutan senam hamil. Saya memang ingin sekali melahirkan dengan persalinan normal nantinya, dan salah satu caranya adalah rajin jalan pagi selama 30 menit dan ikutan senam hamil untuk relaksasi, latihan napas, dan ngencangin otot paha dan vagina. Kalo jalan pagi, saya dan suami baru mulai weekend lalu. Rencananya kita mau jalan tiap weekend dulu, ntar masuk bulan ke 7 baru mulai rutin tiap hari. Masalahnya emang waktu sih. Pagi-pagi biasanya buru-buru siapin sarapan lah, beres-beres lah, dan mau siap-siap ngantor kan. Hih.. ngeles yaaa ini, haha.

Anyway, ternyata senam hamil benar-benar bikin fresh. Biasanya siang-siang, sekitar jam 2, saya pasti udah ngantuk setengah mati di kantor. Bawaannya pegal.. yaa karena kebanyakan duduk juga sih. Trus jam 3an udah buru-buru pengen pulang karena capek :D. Hari ini, saya senam jam 9-10 pagi. Kebetulan ga harus ngantor. Pulang… belanja sebentar ke pasar Lamnyong trus masak. Beres-beres rumah, tau-tau udah jam 2 siang. Makan siang, shalat, mandi… dan baru mulai kerja jam 3. Tumben belum capek udah jam segitu. Biasanya pasti pengen tiduran aja, ga jadi kerja, haha.. Pas kerja juga badan cuma pegal-pegal di kaki dikit, yaa orang ga hamil duduk lama juga pegal kali ya. Lumayan produktif hari ini. Bisa selesai satu laporan, yang besok bisa langsung di print. Alhamdulillah. Laporan ini lumayan penting soalnya untuk pencairan duit bumil, hihi…

Soal senam hamil, saya sendirian aja loh di kelas. Berdua sama instruktur. Dua teman yang minat senam hamil belum ikutan mulai. Ngobrol-ngobrol sama instrukturnya, dia bilang emang di Aceh minat bumil untuk senam hamil ga terlalu bagus. Sedikit sekali yang aware sama pentingnya exercise saat hamil, terutama kalau mau persalinan normal. Banyak ibu-ibu yang akhirnya kesakitan berat pas melahirkan dan ujung-ujungnya minta operasi aja, yaa gara-gara kurang tau gimana cara relaksasi, cara napas yang benar. Bumil yang kurang exercise.. otot-otot perut, paha dan vaginanya juga lebih kaku. Ini sih teorinya. Realnya, ada temen saya ga pernah exercise melahirkannya gampang aja tuh. Mudah-mudahan saya juga nanti gampang melahirkannya, amien ya Rabb.

Oya, di Banda Aceh cukup sulit untuk cari tempat senam hamil. Saya akhirnya nemu di First Aerobic Centre di daerah Lampriet. Instrukturnya Nora, biasanya juga ngajarin aerobic, BL, dan yoga. Dulu, sebelum nikah, saya sempat ikutan BL juga sama Nora. Kata dia, lokasi senam hamil jarang ada disini karena peminatnya ga banyak. Jadi, mending kelasnya ga dibuka. Gitu… kasian yaa. Harganya juga ga mahal-mahal amat, 300 ribu sebulan, masuk 2x seminggu.

Buat yang mau tau manfaatnya, saya copy paste beberapa link nih.

Senam Ibu Hamil

Pemanasan untuk Ibu Hamil

Manfaat Olahraga untuk Ibu Hamil