Serba bisa atau tidak profesional??

Sebelumnya saya mohon maaf dulu, sepertinya postingan ini bisa memicu huru hara sama arsitek. Sebenarnya saya cuma ingin mengangkat isu kerja serba bisa yang bertentangan sama profesionalitas. Menurut pengalaman saya, yang paling serba bisa adalah lulusan arsitektur 🙂

Jadi gini yaa..

Saya melihat banyak sekali teman-teman arsitek di sekitar saya yang merasa mampu untuk melakukan berbagai hal. Misalnya nih, ada beberapa teman arsitek yang mengaku mampu ngerjain produk tata ruang seperti RTBL, RDTR, RTRW, malah sampai ke studi transportasi dan guna lahan. Kelompok ini biasanya ikutan kerja beberapa kali di perencanaan dan kemudian claim  bahwa arsitek cukup kompeten untuk melakukannya. Saya ga masalah ya dengan ini. Menurut saya, memang kompetensi seorang profesional itu ga melulu dari latar belakang pendidikan tapi pengalaman. Saya juga tidak merasa tersaingi dengan arsitek-arsitek yang akhirnya terjun ke bidang perencanaan wilayah dan kota. Toh, dosen-dosen saya pun banyak yang arsitek. Bidang PWK dan arsitektur memang serumpun dan punya akar sejarah yang sama, walaupun dalam perkembangannya ada perbedaan lingkup. PWK lebih makro mencakup segala aspek, arsitek mungkin mindsetnya lebih ke design. Ini menurut saya loh ya, melihat bagaimana teman-teman arsitek melihat ruang (baik ketika saya sekolah di Malang, Melbourne, dan pas kerja di Aceh). Apalagi di Aceh, dimana lulusan PWK bisa dihitung dengan jari. Kita memang butuh arsitek yang tertarik di bidang perkotaan.

Nah.. di Melbourne, kelompok arsitek pecinta perkotaan ini biasanya melanjutkan studi ke bidang PWK a.k.a urban & regional planning. Kenapa? Karena di Australia, keprofesionalitasan diatur dalam standar dan harus tersertifikat. Umumnya, PIA memberikan sertifikasi bagi mereka yang punya background pendidikan perencanaan, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang non-planner tapi bekerja cukup lama sebagai planner. Sebenarnya sama seperti kita di Indonesia. Semua sudah diatur, walaupun pada praktiknya pekerjaan perencana banyak diserobot oleh praktisi teknis non-perencana. Lagi-lagi.. karena emang perencana ber-SKA belum banyak, terutama di daerah-daerah seperti Aceh. Banyak proyek tata ruang yang diatas kertas dilakukan oleh perencana, tapi kenyataannya hanya sekedar pinjam nama. Akhirnya teman-teman arsitek pecinta perencanaan ini banyak lah yang bantu-bantu kerjaan kita, which I don’t mind at all. Asal… konsisten aja bro :D. Dan kalo bisa sih ambil SKA perencana aja sekalian.

Yang saya heran, beberapa teman-teman arsitek yang saya kenal disini… pun mengerjakan bidang lain yang menurut saya sih jatahnya anak sipil. Ngerjain RAB infrastruktur, gambar teknis super detil ala sipil, dan lain-lain. Apakah anak-anak sipil merasa ini pantas-pantas aja seperti opini saya tentang arsitek yang terjun di perencanaan kota? Saya ga tau. Setau saya lulusan sipil cukup berserakan di seantero Aceh dan banyak dari mereka yang perlu pekerjaan juga. Sepengalaman saya bekerja dengan lulusan arsitek yang mengerjakan proyek sipil ini, mereka ngerjainnya coba-coba sambil belajar, akhirnya bisa dan beberapa jadi jago. Saya ga keberatan kalau arsitek pecinta sipil ini akhirnya bikin SKA kek, menandakan kalau dia akhirnya pindah haluan. Yang malesin tuh kalo semua diserobot. Planning iya, kerjaan arsitektur tentu aja dong, ehh sipil juga iya. Jangan-jangan bidang kayak teknik lingkungan juga mau? Hehe… Kalau alasannya bisa belajar, semua juga bisa. Saya juga sekarang udah mulai bisa bikin RAB sipil, tapi apakah saya akan menerima pekerjaan bikin RAB? Kayaknya sih ga ya.

Yaa.. sebenarnya kerjaan kayak kita gini harus teamwork sih, terdiri dari planner, arsitektur, sipil, lingkungan, bahkan bidang sosial seperti hukum, ekonomi, dll. Semuanya bekerja sama. Cuma emang kenyataannya jadi terkotak-kotak karena pemerintah kita pun belum menghargai keprofesionalitasan. Kadang-kadang project besar aja bisa dikerjan cukup oleh satu orang, duuhhh. Atau mentang-mentang project infrastruktur isinya anak teknik semua. Diatas kertas memang perlu SKA, kenyataannya kan ga perlu-perlu amat toh.

Pada akhirnya kita-kita para pekerja memang serba salah. Mau sesuai bidang, projectnya ga banyak dong? Mana tiap kerjaan gaji dipotong sama yang ngasih kerja gila-gilaan *curcol*. Jadi, semua aja dikerjain, walopun sambil belajar. Apakah kita mau begini?

Mau serba bisa atau mau profesional? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s