Karim, 5 bulan.

  • Sudah bisa posisi duduk dengan tegak tanpa support selamaaaaa… 3 detik :).
  • Suka sekali pegang-pegang dan usaha ambil-ambilin benda-benda di sekitarnya, terutama pas jalan sore narikin daun-daun.
  • Segala macam masuk mulut. Tapi lebih suka ‘makan’ kain daripada teether..hihi.. sepertinya sudah siap untuk makan, karena sering attempt to grab my food in hand. Yaa, sabar deh. Bulan depan kita makan ya sayang.
  • Cereweeett.. sering babbling sendiri. Apalagi kalo lagi ngantuk, mulai deh wldifcjcjvhfudjvbnkifj.. kalo lagi nangis kadang panggil mammmaaa.
  • Sejak kecil polanya sudah teratur. Regular feeding time every 2 hours, sufficient day sleep, and peaceful night sleep. Parents are never bothered to stay up at night. I couldn’t ask for more, we have a baby zen ūüėÄ
  • Oh..udah bisa main sendiri. Tinggal masukin ke crib, taro teether book dan dangling toys nya. Udah deh, bisa mandi, makan, beberes. Expect some mess 30-45 minutes later.
  • Paling suka keramaian. So far, belum pernah rewel kalo banyak orang. Pas udah masuk mobil, baru lah dia rewel kalo ngantuk. Bapaknya bilang.. pencitraan si karim. Gara2 semua orang memuji dia sebagai anak ganteng yang cool dan mau aja digendongin.

    Karim 5 bulan

    Karim 5 bulan

Advertisements

Himbauan untuk pemilik Cane Mamak

Postingan ini saya tulis di note facebook beberapa minggu lalu. Sepertinya harus ditransfer kesini untuk dokumentasi. Siapa tau saya mau ikut boikot facebook karena membela Israel, hehe.

Sungguh tidak menyenangkan pengalaman berbuka puasa di Cane Mamak Pango, Banda Aceh. Tanda ‚ÄúDilarang Merokok‚ÄĚ yang tergantung manis di bagian depan restoran ini ternyata hanya pajangan. Mungkin tidak berpengaruh besar kepada sebagian besar para tamu yang biasa (atau pasrah) terhadap paparan asap rokok, tapi bagi saya cukup signifikan karena saya dan teman-teman membawa anak kecil. Apalagi, memang, keputusan melakukan reservasi tempat di Cane Mamak untuk berbuka puasa didasari pertimbangan adanya tanda larangan merokok tersebut.

Selasa, 22 Juli 2014, saya dan teman-teman berbuka puasa di Cane Mamak cabang Pango. Kami duduk di bagian dalam restoran, beberapa meter dari dinding yang terpampang tanda ‚ÄúDilarang Merokok‚ÄĚ. Meja kami berisi 11 orang, 7 dewasa dan 4 anak kecil berumur 6 tahun kebawah. Tepat setelah sirene berbunyi, sekelompok anak muda yang duduk di seberang meja mulai menyalakan rokok. Pilihan yang aneh menurut logika, karena mereka memilih berbuka dengan racun. Saya tidak tau darimana rombongan ini berasal, yang jelas walaupun bergaya mahasiswa, saya pikir mereka bukan anak kuliahan. Mahasiswa pasti cukup berpendidikan dan beradab untuk mengerti tanda larangan merokok. Mahasiswa pasti menghormati hak-hak orang lain, terutama dengan keberadaan anak kecil disekitarnya, untuk tidak terpapar racun asap rokok. Mahasiswa pasti cukup memahami dan akan memperbaiki sikap atas teguran positif untuk dirinya. Mahasiswa pasti sadar bahwa hak individual untuk menghisap rokok dibatasi dengan hak orang lain yang tidak ingin terkena dampak buruk asap. Betul kan para mahasiswa?

Saya menegur sekumpulan anak muda ini, memperingatkan bahwa saya membawa bayi. Saya tidak hendak melarang mereka merokok. Namun sila keluar untuk menghormati hak orang lain. Beberapa pemuda yang pengertian, mematikan rokoknya. Na?? Sebagian besar lainnya (rombongan ini berjumlah kira-kira 15 orang) mengepul asap rokok, tak henti-henti hingga saya harus membawa bayi saya keluar dan masuk ke dalam mobil. Berkali-kali saya menegur mereka, dari nada suara rendah hingga tinggi. Tidak digubris juga, saya melapor pada pelayan. Langkah ini sia-sia, karena pelayan tidak berani menegur tamu. Akhirnya saya menghadap manajer restoran. Dari sini saya tahu bahwa tanda larangan di dinding hanya pajangan. Manajer tidak berani bertindak dengan alasan pengunjung mereka memang kebanyakan anak muda yang tidak mungkin dilarang merokok. Jika saya ingin bebas rokok, manajer merekomendasikan saya pergi ke Cane Mamak cabang Seutui, yang menyediakan ruangan khusus. Saya mempertanyakan tanda larangan merokok yang tergantung disana. Manajer mengatakan tetap tidak bisa bertindak. Saya kemudian mundur, berpikir bahwa mungkin manajer restoran juga tidak pernah menjadi mahasiswa sehingga ia tidak punya karakter mahasiswa yang saya sebutkan diatas.

Maka, melalui surat pembaca ini, saya menghimbau pemilik Cane Mamak untuk turunkan saja tanda larangan yang anda buat sebagai pajangan itu. Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa, dua kali lulus, saya mengartikan tanda larangan sebagai peraturan. Apalagi ada peraturan walikota tentang kawasan tanpa rokok (KTR) nomor 47 tahun 2011, dimana ruangan umum tertutup termasuk dalam KTR. Kalau tidak paham, peraturan ini merupakan lanjutan dari PP 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan dan UU nomor 36 tahun 2009. Memang dekor ruangan restoran anda menjadi terlihat manis dan mengundang ibu-ibu seperti saya untuk berkunjung. Tapi tidak baik ah menjadi PHP alias pemberi harapan palsu. Apalagi, anda bisa saya tuntut jika menjadi PHP seperti ini.

Salam,
Issana Burhan
Seorang ibu beradab. Banda Aceh.

PS: Surat ini saya kirim ke redaksi Serambi Indonesia pagi tadi. Berhubung ga yakin akan dimuat atau engga, yasudahlah yaa… minimal lewat facebook, hehe. Kalo ada yang bisa nge-tag pemiliknya lebih baik lagi. Memang beliau target pembaca surat ini. Terima kasih.

High school besties reunion.

Sebenarnya kebanyakan dari kita tinggal di kota yang sama. Tapi ntah kenapa ya, justru karena satu kota ini jadi jarang ketemu. Pertemanan kita diselamatkan oleh temu arisan sebulan sekali… atau kalo Fanie, teman kita yang tinggal di Jakarta, datang.

Panggilan sayang geng ini ‘desix’ a.k.a devil six :). Gara2 anggota geng ini pas sma culas2 amat, haha…

Desix reunion 2014

Desix reunion 2014

Pas kelas tiga sma, saya pindah sekolah. Kuliah juga ga bareng2. Tapi dasar teman sma ya… saya selalu nyambung sama mereka. Sepertinya pada setuju kalo teman sma itu teman yang paling melekat di hati. Ya kan?