Metode makan Karim, Baby Led Weaning (BLW)

Postingan ini sudah lama sekali ada di draft. Awalnya saya ingin dokumentasi proses makan Karim, karena kami memilih pakai metode BLW ini. Tapi yaa… posting aja jarang-jarang, gimana mau update :). Yasudlah, seadanya aja nih.

Saya dan suami pertama kali tau BLW dari majalah yang kita baca pas nunggu antrian DSOG jaman hamil. Lupa nama majalahnya apa, yang pasti saya langsung tertarik karena keterangannya BLW adalah metode makan yang dikontrol oleh bayi sendiri. Hah?? Gimana cara bayi mengontrol makanan? Ga terlalu banyak informasi disana, sehingga saya mencari-cari lebih lanjut di internet, ikutan grup BLW, dan akhirnya beli buku BLW tulisan Gill Rapley (buku ini wajib buat yang mau BLW, supaya yakin dan tau pedomannya). Terus terang, yang jadi alasan utama adalah bunda ga perlu siapin khusus makanan bayi, alias ga usah repot menghaluskan makanan, hahaha… penting sekali ini untuk emak-emak malas masak.

Beberapa hal tentang BLW versi saya dan Karim:

  1. BLW, dari namanya saja sudah baby led weaning, yang berarti memang bayi yang mengontrol asupan makanannya. Ibu hanya sebagai fasilitator. Jadi, bayi makan sendiri, tidak disuap. Karena bayi makan sendiri, maka sebisa mungkin kita menyodorkan makanan yang bisa dia pegang. Tidak dalam bentuk bubur karena bayi 6 bulan ga bisa pegang sendok kan ya. Ukuran makanan memang besar-besar pada awalnya, kira-kira seukuran ruas jari, karena bayi 6 bulan belum punya skill menjepit, baru bisa menggenggam. Makin lama makin kecil kok. Karim, hampir 9 bulan, sudah bisa ambil makanan seukuran kelereng. Dengan makan sendiri, bayi memilih makanan yang ingin dia makan, dan sebesar apa jumlah asupan yang diinginkan. Oya, syarat BLW ini adalah bayi bisa duduk tegak, yang berarti bahwa fisiknya sudah siap untuk makan. Biasanya bayi sudah bisa duduk pada usia 6 bulan. Karim dulu usia 5 bulanan sudah bisa duduk walopun agak goyang-goyang. Makan juga tidak boleh sambil senderan, harus tegak untuk menghindari tersedak. Menurut penelitian, bayi BLW cenderung lebih baik dalam mengatasi tersedak, karena terbiasa mengontrol makanan di mulutnya.
  2. Kontrol makan ada pada bayi. Ibu memberikan pilihan-pilihan makanan bergizi. Pada awalnya bayi makan sedikit. Tapi insya Allah akan semakin banyak sesuai kebutuhannya. Prinsip BLW sendiri food is for fun until one. Nah, makanan ini sebagai media belajar saja untuk kesiapan bayi makan setelah setahun nanti. Asupan utama tetap dari ASI atau SUFOR untuk ibu yang tidak bisa beri ASI. Karim sendiri pada awal makan, banyak sekali membuang makanan. Tapi dia belajar terus kan tiap hari, sekarang sampahnya makin dikit dan bajunya makin ga belepotan. Karim pilih makanan sendiri. Saya biasanya taruh potongan beberapa makanan di piring, sodorin, dan dia ambil sendiri yang mana. So far, Karim ga picky sih, cuma ada yang dia favoritkan kayak timun, jeruk, mangga, brokoli, buncis, dan sayuran hijau lainnya. Dia ga terlalu suka wortel. Kemampuan mengunyah juga semakin baik. Awal mpasi, Karim potong makanan besar-besar. Sekarang bisa halus. Terlihat dari pupupnya yang sudah ga banyak gumpalan makanan lagi, pertanda sudah mulai mencerna lebih baik. Saya ga terlalu khawatir kalau Karim makan sedikit, karena apalah arti beberapa gram buncis dengan nutrisi dari ASI saya, ya kaaan?? Bundanya harus asup nutrisi baik juga sih jadinya. Karena ASI masih jadi yang utama, jadwal menyusui Karim masih hampir sama seperti dulu, kira-kira 6-8 kali sehari. I dont mind. Food is for fun until one, remember? Lagian, kewajiban menyusui memang harus saya penuhi.
  3. Metode makan yaa biasa, bisa dikukus atau dipanggang. Kalo saya, sebisa mungkin buah tetep disaji fresh. Timun, pir, apel, walau kata orang keras, ternyata Karim bisa mengunyahnya tuh. Potong agak tipis-tipis lebar aja untuk memudahkan dia gigit makanan. Sayuran dan buah yang agak susah dimakan fresh biasanya saya kukus sampe kira-kira bisa dikunyah pakai gusinya lah. Karim sampe sekarang belum tumbuh gigi. Kentang, labu kuning, labu, buncis, brokoli, dsb dst, saya kukus atau panggang. Protein seperti ikan, udang, telur, telur, tahu saya kukus atau panggang juga. Kami sekeluarga ga punya sejarah alergi, jadi Karim memang saya sodorin apa aja. Untuk yang ada alergi, sebaiknya pakai aturan 3 hari makan itu lah, untuk pastikan bahwa satu makanan itu ga ngefek ke anak. Oya, ini juga enaknya BLW. Makanan yang disodorin kan utuh ga tercampur makanan lain. Kita jadi bisa tahu betul anak suka yang mana, atau alergi sama makanan apa. Anak juga terbiasa melihat sayur utuh atau buah utuh. Banyak teman saya yang anaknya menjadi picky eater, terutama untuk sayur, karena makanan bayinya disaring halus. Banyak emak-emak yang harus sembunyiin sayuran dalam makanan. Harapan saya, Karim juga ga jadi pemilih dalam hal makan nantinya.
  4. Insting Karim dengan BLW ini adalah mengunyah. Jadi, kalau anak spoonfed biasanya kan langsung pengen menelan ya *CMIIW, Karim selalu mengontrol makanan yang masuk dengan mengunyah dulu. Dia tetep akan kunyah walopun disuapin obat…hahaha… dan karena kebiasaan pegang makanan sendiri, kalo disuapin obat pakai sendok agak susah memang. Ini downside-nya. Tapi pinter juga dia, kalo minum bisa langsung telan tuh. Mungkin karena pakai gelas kali yaa.. instingnya bukan makan tapi minum. Begitu pun kalau sesekali dia disuapin neneknya atau tantenya pakai sendok. Yang ada sendok diambil buat dikunyah-kunyah. Karim mulai saya kasih sendok juga sih, buat belajar makan pakai alat makan. Jadi, saya sendokin makanannya trus ngasih ke dia buat dia suapin sendiri ke mulutnya.
  5. Persiapan makan, sama aja kayak metode spoonfed. Saya beli high chair karena pengen Karim makan ga lari-lari dan slabber plastik untuk antisipasi makanan belepotan. Udah itu aja sih.
  6. BLW memang belum umum di keluarga saya. Tapi alhamdulillah adaptasi di keluarga bagus. Ayah saya biasa aja. Ibu saya ga masalah dan ga bawel-bawel amat. Tapi namanya juga nenek-nenek, suka gemas lihat Karim makan lama dan kadang makanan dibenyek-benyek dimainin pula. Ibu saya kadang suapin Karim makanan berupa bubur. Saya ga terlalu strict sih soal harus full BLW, yaa Karim mungkin butuh disuapin juga kan sesekali. Namanya juga belajar makan. Kalau titip Karim sama nenek atau tantenya, yaa Karim pasti disuapin. Meski nenek dan tante pasti mengeluh karena sendoknya direbutin mulu :).

Kalau baca-baca di grup ibu-ibu, BLW ini cocok-cocokan juga. Dengan Karim, saya merasa BLW adalah yang paling tepat. Tapi mungkin ga semua ibu merasakannya. Jadi, kalau pilih metode makan, yaa… insting ibunya aja sih. Ga ada istilah metode yang paling tepat sepertinya. Sama kayak mau pakein pospak atau clodi. Mau full asi atau campur sufor. Mau pakai pembantu apa ga. Semuanya tergantung sama kebutuhan bayi, bunda, dan ayah. Metode silahkan disesuaikan. Dengan saya menghargai ibu-ibu yang memilih spoonfeeding, saya ingin dihargai juga sebagai ibu penganut BLW. Abiiiss.. suka sebel kalo ada yang komen, ihh anaknya nanti kesedak (Karim insya Allah belum pernah tersedak), ihh nanti kurang gizi (berat badan Karim progressnya bagus, diatas kurva sedikit), ihh repot.. lamaaa dan belepotan gitu (alhamdulillah meski lama dan belepotan bikin Karim belajar makan lebih baik).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s