Tentang pengemis

 

Kemarin, saat melintas simpang BPKP Lampineng, saya lihat seorang ibu dengan dua anak mengemis di jalan. Sebenarnya sudah cukup sering saya melihat gerombolan pengemis ini. Saya pun sudah membiasakan diri tidak memberi sedekah kepada orang-orang seperti ini. Bukan bermaksud pelit, tapi mereka MALAS. Diamankan di Dinas Sosial pasti kabur, diberi pelatihan ina inu juga tidak berhasil, karena mindsetnya sudah pemalas. Lebih enak mengemis. Mudah dan lumayan hasilnya. Sayangnya, anak yang dibawa si ibu pengemis pun bukan anak sendiri.

Nah, hari ini kebetulan lampu merah masih agak lama. Saya perhatikan dari kaca spion tingkah pengemis. Kalau si ibu sih saya ga kasihan. Tapi anak-anak ini… terbayang wajah anak sendiri, apa jadinya kalau saya bawa-bawa dia mengemis di jalan :(. Panas, berdebu, penuh resiko… ya Allah, ga tega rasanya. Mana si ibu menggendong balita kira-kira 3 tahun dan membawa satu bocah kira-kira 5 atau 6 tahun. Saya perhatikan anak-anak itu, mereka sedang makan coklat sambil pegang plastik berisi uang. Lusuh. Rasanya saya ingin ambil yang masih balita dan bawa pulang.

Yang saya tahu, pengemis ini bersindikat. Mereka punya big boss yang mengatur lokasi dan menggaji pengemis-pengemis dibawah koordinasinya. Yang bikin heran, itu anak siapa ya? dapat darimana? kok ibunya tega? atau tidak tahu? kalau tidak tahu, pasti melapor anak hilang kan ya? mengapa tidak dicari? yaa.. kalau dicari insya Allah dapat kok, anaknya dibawa di jalan yang hampir semua orang lewat gitu. Saya tidak habis pikir dengan kejamnya manusia seperti ini. Si big boss, si pengemis, si orangtua anak… huh…

Pulangnya saya cerita ke suami. Kira-kira bagaimana jalan keluarnya ya? Kok pemerintah kota seakan tidak berbuat apa-apa. Padahal ada Satpol PP dan Wilayatul Hisbah yang bisa menertibkan mereka dan membawa ke tempat penampungan sementara untuk dibina. Suami saya bilang… pengemis masa kini ga bisa ditertibkan. Yaaitu, mindset PEMALAS susah sekali diubah. Menurut suami, yang anak-anak boleh dibina di tempat penampungan dinas sosial agar mereka punya bekal hidup. Kalau bisa sampai selesai pendidikan dasar 12 tahun. Pun, selama ini mereka mengemis diajak. Si ibu… PENJARAKAN!! Biar kapok… minimal 3 bulan supaya ingat kalau kelak mengemis lagi akan masuk bui. Tapi… kapan ya satpol PP dan WH bisa rajin menertibkan? Mereka cuma interest dengan PKL, razia jilboobs, dan pasangan indehoy sepertinya… hahaha…

Sorenya, saya dan suami jalan-jalan sore. Seperti biasa jalan-jalan berujung dengan makan-makan :). Eh, ada pengemis perempuan bongkok dan jalan dengan posisi seperti (maaf) hewan berkaki empat. Kayaknya ada masalah dengan tulang dan daging tumbuh di bagian perut hingga pahanya. Nah, saya selalu iba kalau pengemis yang seperti ini. Saya pikir, orang ini sakit, mungkin memang tidak ada cara lain mencari nafkah.

Tapi… di perjalanan pulang, saya lihat si ibu bongkok ternyata dong bisa duduk, lagi boncengan sama suaminya. Saya berasumsi suami karena si ibu peluk si bapak dari belakang. Mungkin dalam perjalanan pulang juga. Kami sempat mengikuti dari belakang, penasaran rumahnya kayak apa, hehe. Yaa… mungkin walaupun ga sakit seperti yang diperlihatkan saat mengemis, si ibu memang orang ga punya. Eh, tapi naik motor ya? Trus ada suaminya yang sehat walafiat? Suami macam apa ya yang tega menyuruh istri mengemis? :'(. Rumahnya biasa aja sih, tipe rumah bantuan tsunami di daerah Kuala. Nah, kalau pengemis model begini diapakan ya baiknya?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s