Tentang transportasi kota banda aceh

Baca-baca berita di koran soal rencana Trans Kutaraja, pembangunan fly over Simpang Surabaya, under pass Beurawe-Kuta Alam… bikin saya agak kecewa. Menurut saya pemkot kita tidak punya prinsip dalam membangun sistem transportasi kota.

Mau pengembangan sistem transportasi publik yang terintegrasi dan berkelanjutan?? Atau pengembangan jaringan jalan raya yang hanya berfungsi mengurai volume kendaraan?? Saya tidak menulis mengurai kemacetan karena Banda Aceh dalam pandangan saya tidak macet-macet amat. Hanya ada tundaan pada jam-jam puncak, selebihnya aman-aman lah. Tundaan pun rasanya terjadi lebih karena behaviour pengguna kendaraan yang tidak tertib. Ya ga??

Kita tahu bahwa anggaran dana pembangunan sangat terbatas. Harus ada prioritas yang didahulukan. Saya pikir, kalau berniat serius dengan opsi satu, maka opsi dua tidak perlu dijalankan, karena dua rencana ini tidak saling mendukung.

Mari kita cermati ala-ala pengamat sok tau ūüėÄ

Sebelum memberi solusi, pemkot biasanya membuat kajian dulu. Biasanya termasuk menghitung proyeksi pertumbuhan kendaraan yang memang pesat. Tahun 2011 masih 174.859 unit. Tahun 2014 sudah 200.069 unit. Berarti kira-kira tiap tahun tumbuh rata-rata 3,15%. Lumayan ini… ekonomi Aceh aja cuma tumbuh 2,67% di triwulan II tahun 2015. Sedih amat yaa. Banyaknya kendaraan ini tentu berkontribusi terhadap tundaan-tundaan lalu lintas, angka kecelakaan tinggi, dan emisi karbon tinggi. Nah, pemkot harus bikin solusi.

Solusi satu: Tambah volume jalan alternatif.

Ini solusi betul-betul klasik. Jalan sudah tidak bisa menampung kendaraan, kita harus tambah jalan. Macet di Sp. Surabaya bunda Illi… oke, bangun fly over disana. Macet di Beurawe bundaaaa… sippp, bangun under pass ya. Nah, kalau begini, sampai kapan kita harus menambah jalan? Apakah ada batas maksimalnya? Kalau ada, bagaimana menghitung thresholdnya? Saya masih setuju dan sama sekali tidak menentang rencana perluasan jalan atau pengembangan jalan baru ya, karena dalam konteks Banda Aceh, rasanya masih perlu. Yang saya tidak setuju, penambahan volume untuk jalan alternatif seperti pembangunan fly over dan underpass tadi.

Pengalaman di banyak negara, hampir semua proyek pengembangan jalan alternatif membawa sedikit sekali manfaat. Jalan baru mungkin akan bikin perjalanan jadi lebih cepat, tapi seringkali tidak signifikan dalam menjadikan produktivitas kota meningkat. Kenapa?? Penelitian Metz (2008), Cervero (2011), dan Low (2012) bilang waktu lebih yang dihasilkan dari jalan baru itu tidak lebih dari 15 menit. Kalau 264 milyar (ini anggaran untuk bangun jembatan kita) dihabiskan untuk kita-kita supaya sampai lebih cepat 15 menit, apakah sepadan? Belum lagi urusan pembebasan lahan yang melelahkan. Hanya demi mengakomodir manusia-manusia Banda Aceh yang sangat produktif ini cepat sampai ke tempat kerjaan, sehingga ekonomi kota meningkat? Kalau lah tujuannya tempat kerja, kalau buat ngupi-ngupi aja? Ngapain lah cepat-cepat? Hehe… Lebih baik rasanya membuat manusia-manusia ini bersiap-siap lebih cepat 15 menit, sehingga bisa mengantisipasi tundaan yang mungkin terjadi di jalan. Cervero (2011) juga bilang bahwa di US, pengembangan jalan alternatif berkorelasi terhadap 40% penambahan jumlah kendaraan. Ga lama-lama, biasanya bisa terlihat dalam 1-3 tahun sejak investasi terhadap jalan tersebut dilakukan. Istilahnya, induced traffic, dimana pengalihan volume kendaraan sebenarnya mendorong terjadinya pertumbuhan kendaraan lebih banyak. Di Jakarta pun begitu. Volume jalan di Jakarta sudah sangat luas, hampir semua jalan punya jalur alternatif untuk mengurai macet. Koridor jalan pun meluas hingga ke pinggir kota. Tapi, apakah pernah lihat Jakarta tidak macet? Ehhh… belakangan, solusi Jakarta ternyata bukan tambah jalan, tapi sistem transportasi umum yang terintegrasi, efektif dan efisien. Betul ga?

For any urban contexts, the highly congested areas and less congested areas, or the developed and the developing cities, the road network will never deliver the goal to enhance travel speeds in order to reduce travel time.

Solusi dua: Trans Kutaraja.

Oke… biar bunda dapat penghargaan lagi, bikin angkutan umum lah. Lagipula, rupanya ini program nasional, bro. Bis-bis dapat dari pusat (baca disini http://aceh.tribunnews.com/2016/01/06/bus-trans-koetaradja-tunggu-diserahkan-presiden) Boleh lah…

Tapi, kita harus apresiasi. Ini harus dijalankan dengan serius karena dilihat dari sudut pandang mana pun, opsi ini lebih sesuai dengan prinsip transportasi berkelanjutan. Lebih ramah lingkungan karena satu moda dapat mengangkut lebih banyak orang, sehingga emisi karbon yang dikeluarkan tentu ditanggung bersama. Kemudian, keberadaan angkutan umum terutama memenuhi indikator berkeadilan sosial. Jika penambahan luasan jalan, misal melalui fly over maupun underpass, hanya mengurai kemacetan ke jalur alternatif baru dan bisa jadi hanya dinikmati oleh pemilik kendaraan pribadi, angkutan umum yang efektif dan efisien akan memberikan aksesibilitas lebih baik pada lebih banyak kalangan masyarakat. Terdapat kelompok penduduk rentan yang mempunyai keterbatasan mobilitas, seperti kelompok difabel, kelompok anak dan perempuan, dan masyarakat miskin, yang sangat membutuhkan keberadaan sarana transportasi publik.

Terutama bagi perkotaan Banda Aceh (meliputi seluruh wilayah administrasi kota Banda Aceh dan beberapa kecamatan di Aceh Besar yang menjadi penyangga kawasan perkotaan), dengan proporsi penduduk miskin mencapai 25% dari jumlah rumah tangga yang ada, keterbatasan akses transportasi publik mengurangi kelompok rentan ini dalam mendapatkan pelayanan sosial dan kesempatan kerja. Penting untuk menjadi catatan bahwa meskipun rasio kendaraan pribadi dan jumlah populasi di perkotaan Banda Aceh mencapai 1,3:1 (rata-rata 1 KK bisa mempunyai 1 kendaraan bermotor), BPS menyebutkan 80 persen dari kendaraan tersebut adalah sepeda motor, yang mempunyai kapasitas penumpang terbatas. Bagi kebanyakan kelompok keluarga miskin di Aceh yang memiliki sepeda motor, secara tradisi dan peran gendernya dalam rumah tangga, laki-laki biasanya menjadi pengguna utama kendaraan yang dimiliki. Dengan kata lain, perempuan biasanya menjadi kelompok yang lebih terpinggir dan bergantung pada keberadaan angkutan umum. Padahal, perempuan biasanya bertugas untuk belanja keperluan rumah tangga serta mengantar dan menjemput anak sekolah. Mobilitas perempuan, terutama pada kelompok keluarga miskin, akan menjadi sangat terbatas dengan keterbatasan layanan angkutan umum.

Kok semakin serius tulisan ini ya?? Saya perlu mengurai ini karena banyak sekali komentar, Trans Kutaraja untuk siapa? Yaa… setidaknya untuk kelompok rentan ini.

Anyway, imho angkutan umum memang mutlak harus disediakan oleh pemerintah, karena mobilitas erat kaitannya dengan produktivitas ekonomi penduduk. Bank Dunia di tahun 2008 pernah melaporkan bahwa karakteristik utama kemiskinan di Aceh berhubungan dengan rendahnya aksesibilitas dalam mendapatkan pelayanan publik dan pekerjaan, antara lain rendahnya tingkat pendidikan akibat biaya transportasi tinggi untuk mencapai sarana pendidikan dan banyaknya rumah tangga yang masih bergantung pada pekerjaan di sektor pertanian karena keterbatasan akses untuk mencapai lokasi pekerjaan lainnya. Belum lagi jika menimbang kebutuhan kelompok penduduk rentan lainnya, seperti kelompok difabel, anak-anak dan lansia, yang jelas-jelas sangat terbatas pergerakannya. Jika bertujuan menyediakan sarana perkotaan yang berkeadilan sosial, tentu kebutuhan-kebutuhan kelompok penduduk ini harus pula terinklusi pada sistem transportasi publik kita.

Jadi… opsi satu atau dua?? Tidak bisa dua-duanya!!

Karena anggaran yang diperlukan untuk transportasi umum yang baik itu besar. Rencana pengembangan sistem transportasi umum (Trans Kutaraja) harus dilakukan secara menyeluruh. Seperti yang kita baca di berbagai media, banyak sekali rekomendasi dan pekerjaan rumah untuk pemkot yang disuarakan warga untuk mewujudkan Trans Kutaraja yang lebih baik. Penataan parkir, evaluasi dan pengawasan garis sempadan bangunan, moda dan infrastruktur pendukung bis yang lebih ramah difabel, optimalisasi rute layanan, integrasi bus dan labi-labi, dan lain-lain. Tentu semua ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saya sih berpikir 264 milyar bisa dialihkan untuk mendukung rencana transportasi kota yang lebih efektif dan efisien, berkeadilan bagi semua. Pemenuhan kriteria utama transportasi berkelanjutan: ramah lingkungan; aman dan nyaman; berkeadilan sosial; dan mendukung konektivitas dengan moda angkutan lainnya, sudah seharusnya menjadi bagian dari rencana jangka menengah pembangunan kota.

Jika angkutan umum bagus, rasanya pengendara pun akan beralih moda transportasi. Tujuan awal menekan angka pertumbuhan kendaraan dapat tercapai.

Advertisements

Warm heart

I was away all afternoon yesterday, for a meeting. K was at home with his dad and gramma.

I got home just before the azan maghrib was broadcasted. I found K outside with my mom, sitting in the verandah. He quickly ran onto me and hugged me and said… rinduuuu.

*tearwept*

My mom said K asked her to go outside to accompany him waiting for me.

“Oma, yok yok, kelual”.
“Unggu nda”.

My heart melted.

I felt so warm inside.

Happy anniversary #4th

image

Dua is taken from here.

Oh Allah, bless our marriage and let it be a means for us to become closer to You in love and devotion. Let it be a source of untold blessings, happiness and joy.

Oh Allah, let our marriage be a way for us and our families to enter Jannah.Ya Allah, protect our marriage from the whisperings of Shaytan. Give us the strength to live together in justice, equity, love and, mercy.

My Lord, let this marriage bring untold blessings to us individually, to our families, and our children Insha Allah.

My Creator, bless us with children who will be a source of great joy and happiness.

Oh Allah, give us the love which you had blessed Muhammad, Allah’s Peace and blessings be upon him, and Khadija with, May Allah be pleased with her.

K’s first trip

Kalo perjalanan via darat, K udah pernah ke Meulaboh beberapa kali. Selain karena mama masih kerja disana, saya pun kebetulan ngerjain project disana.

Banda Aceh – Meulaboh cuma 4 jam, dan kita bisa stop sesukanya kalo K rewel karena bosan atau mau tidur. Pas umur di bawah setahun sih enak ya bawa dia, kalo rewel tempelin ninin beres urusan. Makin gede, makin ga mempan jurus ninin, haha… ngamuk sih ngamuk aja. Terpaksa berhenti sebentar untuk sekedar dia lepas bosan di mobil.

Nah, pas kita mau ajak ke Jakarta itu… kita pun mulai bayangin ga enaknya dulu. Takut dia ga nyaman di pesawat, fakta bahwa kita ga akan bisa nonton bioskop (di banda aceh ga ada bioskop, nonton jadi agenda wajib sebenarnya kalo pas keluar kota :D), cranky kalo naik taxi (bayangin disini tuh kemana-mana cuma 30 menitan max, di jkt kan bisa berjam-jam kena macet), deesbe deeste lah.

Sempat memutuskan ga bawa bocah juga. Udah pake persiapan nitip ke mama, tapi yaa jatahnya ngurus anak emang. Mama tiba-tiba ada tugas mendadak dari kantor dan batal lah rencana titip menitip.

Kenyataannya…

Sebelum naik pesawat, kita biarin dia main biar capek. Katanya biar nyampe pesawat, anaknya langsung pengen tidur. Iya sih, K capek berat. Apalagi flight kita delay sejam. Harusnya berangkat jam 10 pagi, jadi jam 11. Sebenarnya pas juga sama jam nap K. Tapiii… K rupanya terlalu excited main sehingga dia menolak tidur, huhu. Padahal pas dia tunjuk nursery room, saya udah lega. Eehh, ruangannya penuh mainan bok, malah keenakan main juga anaknya. Akhirnya… K baru minta bobok pas dengan waktu harus boarding. Alamaakkk… mana ini first time kan. K heran kenapa banyak orang dusel-dusel naro barang sementara dia ingin nyaman karena ngantuk. Pecah lah tangisan bocah.. haha.. maaf ya para penumpang. K stop nangis pas pesawat udah kelar takeoff dan seat belt boleh dilepas. That was the longest takeoff ever deh. Sambil cengengesan sama suami menghadapi pandangan kasihan (atau sebal juga??) dari orang-orang. Selanjutnya, bocah pules sampe hampir nyampe Cengkareng. Alhamdulillah. Landing pun aman.

Tangisan kembali pecah pas kita di taxi. Waktu itu jumat sore yang mana super macet menuju kalibata. 2 jam di taxi bikin K ga nyaman dan bosan. Yasud lah, kita cuma bisa usaha mengalihkan nangis aja. Nangis diem nangis diem nangis diem… sampe rumah kakak ipar saya di kalibata. Hehe… kami pun semakin khawatir Jakarta mungkin bukan tujuan liburan yang tepat untuk bawa bocil hampir dua tahun ini.

Besoknya, kita full acara keluarga. Malamnya aja sempat ke kalibata city nyari makanan karena bosan sama makanan rumah. K baik-baik saja :D.

Minggu, kita ke Seaworld Ancol. Aman banget!! K menikmati lihat akuarium dan ikan. Pulangnya, kita mampir ke Tamcit nyari batik pak suami. K juga anteng aja. Kalo ngantuk tinggal bobok di stroller. Malamnya sempat ke PS janjian sama tante saya, ga cranky sama sekali. Perjalanan di taxi pun lancar aja meski sempat macet juga sebenarnya. Kayaknya dia udah adaptasi juga ya sama lama di jalan.

Senin, kita ke ke GI karena janjian sama sahabat saya pas di Malang, Bintang. Kelar makan siang sama Bintang, kita ke Tamcit lagi karena masih kebayang barang yang dilihat kemarin.. hehe.. maghrib baru nyampe rumah. K pun menikmati jalan-jalan dari mol ke mol, hehe. Mau tidur tinggal dorong stroller aja. Asal jam makan terjaga, bocah aman sentosa.

Selasa, kita pulang. Flight jam 5.30 pagi itu bantu juga sih. K masih bobok pas kita siap-siap, di taxi, boarding, sampe takeoff. Bangun pas sarapan. Yaa udah waktunya bangun sih emang, K biasa bangun jam 7. So far so good, until…

Landing!! Ntah kenapa K ga nyaman, padahal udah disodorin ninin, makanan. Pas landing pergi, kita ngasih makanan aja sih buat dia makan. Aman. Nah ini… ga mau apa-apa. Ngeh ngoh berujung nangis…hihii… penumpang lain tentu bete. Ada yang bersimpati bilang suruh tutup kupingnya lah, pakein kapas lah. Duh, bu ibu… boleh googling deh, tutup kuping anak ga ngaruh apa-apa. Soal mengatasi perubahan tekanan udara drastis saat di pesawat, bisa makan, ngunyah, nguap, atau nangis. Salah satu referensi yang saya baca malah nyaranin bawa headset… bukan untuk balitanya, tapi untuk penumpang yang ngomel dan bete sama anak kita, hahaha. Tapi tentu sebagai ibu baik hati, saya mengiyakan saja lah sambil senyum-senyum. K stop nangis pas pesawat mendarat di bandara Iskandar Muda. Alhamdulillah.

Ternyata bocil ga rewel-rewel amat ya. Alasan nangis cukup masuk akal, capek atau ngantuk, bukan karena ga jelas. Walaupun kita gagal nonton bioskop, tentu saja :).

Lesson learned lagi.. kalau bawa anak ga recommend pakai maskapai Singa. Sungguh tidak nyaman. Bangku sempit, pelayanan ya ga usah ngarep lah namanya juga budgeted airline, sering delay bisa bikin anak bete, dan nature penumpangnya yang lebih grasah grusuh. Don’t get me wrong, saya juga tergolong penumpang maskapai ini, karena lebih murah. Tapi, emang, kok penumpang maskapai lain lebih nyantai aja gitu bawaannya. Pas pulang, kita naik maskapai Baju Khas Indonesia. Jauh berbeda perasaannya. Penumpang lebih tertib dan santai, bangku lega terutama space buat kaki, dan pelayanan lebih oke. Kalo ada cacatnya, cuma pas urusan check in di Halim. Kecil sekali ya ruangannya. Antrian mengular karena hanya ada 2 counter check in, sementara penerbangan pagi itu cukup padat.

Begitu lah perjalanan K yang pertama. Semoga next time, bisa jalan-jalan lagi dengan bahagia, ga pake nangis.

Eh, 2016!!

Seperti biasa, saya tidak bisa berkomitmen ngeblog dengan rutin. Plus, saya lupa password blog sehingga alasan tidak menulis semakin kuat, haha…

Anyway, sudah 2016 aja. Time really flies. 

Tahun 2015, ga ada milestone yang signifikan sih. Hidup saya seputar menjadi ibu toddler setahunan yang super aktif. Alhamdulillah, tumbuh kembang Karim sesuai harapan. Makin pintar, makin banyak tingkah polahnya, makin lucu lah pokoknya. Semoga tahun ini, di umurnya yang akan dua tahun, tumbuh kembangnya semakin baik, semakin pintar, semakin sholeh, semakin bisa belajar banyak lagi. Amien.

Selain itu, saya mulai freelance¬†sebagai urban planner. Saya mengerjakan dua projects¬†aja sih, supaya tidak terlalu sibuk. Biasanya, saya bekerja pagi sampai jam 12 siang. Selama waktu itu, Karim dititip di¬†daycare. Kasihan memang, kecil-kecil sudah masuk penitipan. Tapi… saya merasa perlu punya¬†me time. Dari jaman sekolah, kuliah, bekerja, sampai sekarang sudah menikah pun, saya selalu cukup aktif. Nah, selama setahun kan di rumah terus yaa, ngurusin anak..¬†mostly.¬†Walaupun bahagia ngurus anak dan rumah sendiri, ternyata saya gampang stress dan sebal untuk hal-hal yang sepele. Diam-diam, saya juga jadi cemburu dengan aktivitas suami yang masih normal dan lancar-lancar saja. Sementara saya di rumah, seringkali merasa kurang berguna. Bukan berarti saya menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga ya. Saya hanya capek dan bosan.

Akhirnya, dengan izin suami, saya mulai beraktivitas di luar rumah. Alhamdulillah, saya lebih bahagia :D. Karim di daycare mulai jam 8.30 sampai jam 14.00. Saya bekerja, entah ngerjain pekerjaan rumah tangga kayak nyuci dan beres-beres, atau ngerjain pekerjaan sampingan saya sebagai urban planner. Di atas jam 2 siang, saya full main sama Karim dan jadi ibu juga istri lah. I am happier. Happy mommy, happy baby, kan.

Tahun 2016, saya ga punya target bekerja lebih giat, haha. Freelance aja saya sudah senang, karena ada variasi kegiatan. Lainnya, saya masih handle Bina Antarbudaya sebagai ketua chapter dan Polyglot Indonesia chapter Aceh sebagai koordinator regional. Jadi, saya happy dengan kesibukan saat ini. Bergabung dengan komunitas ini juga yang bikin saya tetap merasa motivated, karena bertemu dengan banyak anak muda keren di Banda Aceh. Semoga 2016, masih ada project yang bisa dikerjakan dan hal-hal menarik yang bisa menyumbang terhadap perkembangan dan pembelajaran diri. Amien.

2015 juga jadi tahun pertama liburan keluarga. I mean, yang ada Karimnya. Tahun 2014, kita ga liburan sama sekali karena bayi masih piyik dan waktunya ga pas-pas terus. Komitmen kita setahun sekali harus liburan. Jadi 2015, ga jauh-jauh juga sih, kita ke Jakarta Desember lalu. Kebetulan ada acara keluarga juga. Benar-benar ga kita duga, Karim behave sekali selama perjalanan. Padahal, sebelum berangkat udah timbang-timbang worst case scenario, mengingat bocil kan ga betahan di satu tempat. Nanti diceritain di postingan terpisah, insha Allah.

Nah, tahun ini, kita tetap harus liburan. Belum tahu kapan sih, yang jelas WAJIB banget ini biar ga bosan. Terutama kita ingin liburan berduaan lagi, haha. Selama ini, keluar berdua aja mau pacaran cukup susah. Walaupun tinggal di rumah orangtua, mama dan ayah saya ini pekerja. Mereka baru di rumah menjelang malam. Pasti udah capek kan, kasihan kalau dititipin cucu lagi.¬†Weekend¬†juga susah… si nenek kakek mau pacaran juga, haha. Gpp lah ya. Emang waktunya harus urus anak, dinikmati aja. Meski… tetap ada cita-cita mau liburan berdua, some time this year ūüôā

Hal besar lainnya yang kita selesaikan di tahun 2015 adalah rumah. Rumah mini yang mengharuskan gaji suami dipotong setiap bulan, hahaha… Alhamdulillah, kecil-kecil tapi milik sendiri. Kita sedang dalam tahap nambah dapur di belakang, jadi belom ditinggalin juga sih. Tahun ini, resolusinya adalah mengisi rumah mini ini dan bisa tinggal disana a.s.a.p. Kamar di rumah mama yang sekarang sudah cukup penuh karena barang-barang semakin banyak. Mainan bocil juga ikut memenuhi kamar. Emang saatnya kita pindah sih.

Jadiii… 2016 ini sebenarnya hanya menjalankan dan melanjutkan hal yang itu-itu juga. Insha Allah, bisa jalan dengan lebih baik. Kita juga ingin menjalankan hidup ini dengan ketaatan yang lebih sama Allah SWT.¬†Saya juga ingin bisa menutup aurat lebih baik lagi.¬†Semoga semuanya dimudahkan Allah, amien. Amien ya rabbal ‘alamin.