Revitalisasi Lapangan Golf Lampuuk, Setuju?

Pemerintah Aceh mengalokasikan dana 33 milyar untuk revitalisasi lapangan golf di Lampuuk. Dari link ini, Hazwan Amin (Sekum Persatuan Golf Indonesia Provinsi Aceh) menginformasikan bahwa keberadaan lapangan golf yang lebih indah dan bertaraf internasional bisa menarik perhatian pegolf nasional dan luar negeri, sehingga dapat mendatangkan pemasukan bagi daerah. Tersebut pula, terdapat rata-rata 100 pegolf lokal yang rutin terbang ke Medan untuk bermain golf. Artinya, jika mereka mengeluarkan 5 juta setiap bulan untuk golf, maka Aceh kehilangan 500 juta rupiah.

Kalkulasinya menggiurkan ya? Jika dikali 12 bulan, maka pemda bisa mendapatkan 6 Milyar. Dengan modal 33 Milyar tadi, pemda akan balik modal dalam jangka waktu 5-6 tahun. Tapi apa betul begitu?

Sebenarnya, dalam berbagai praktek perencanaan wilayah, membangun padang golf dianggap bisa menjadi stimulan pertumbuhan kawasan. Prinsipnya, suatu employment centre selalu diikuti dengan terbukanya peluang bagi masyarakat untuk berusaha (perdagangan dan jasa) di kawasan sekitarnya. Misalnya ada kampus, pasti langsung diikuti dengan banyak tempat kos atau usaha warung, laundry, tempat fotokopi, dll. Terbuka jalan baru saja, seperti yang terjadi di jalan baru Batoh, langsung menstimulasi pertumbuhan ruko-ruko. Begitu juga dengan keberadaan padang golf. Harapannya, kawasan di sekitar padang golf bisa berkembang seiring dengan tersedianya lapangan kerja baru yang muncul disana. Apalagi kawasan seperti Lampuuk yang terkenal indah dengan pantainya. Jika terintegrasi, lengkap dengan sarana dan prasarana yang memadai, diikuti dengan aturan-aturan yang bikin pendatang aman dan nyaman, pasti kawasan ini bisa jadi indah sekali. Kayak di luar negeri, gitu…. hahaha.

Tapi, saya termasuk yang tidak setuju dengan pembangunan padang golf ini. Buat saya, ada beberapa masalah.

Satu.

Saya setuju dengan beberapa pengamat di koran yang bilang bahwa pemerintah seharusnya lebih memprioritaskan pembangunan yang menguntungkan rakyat banyak. Kita tahu bahwa golf bukan olahraga favorit rakyat Aceh, kan. Berapa banyak proporsi penduduk yang terakomodasi dengan keberadaan fasilitas ini? Tentu harus dihitung, karena menggunakan uang rakyat dan lahan rakyat. Bayangkan lahan sebesar itu hanya dinikmati oleh segelintir orang. Sungguh a waste of land. Saya setuju dengan pendapat bahwa ada keresahan tentang prioritas pemerintah yang terlalu berlebihan dalam mendanai proyek yang dianggap hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu. Bisa di browsing lah. Rakyat masih miskin kok bikin lapangan golf? Sementara rumah dhuafa tak kunjung cukup anggaran.

Oke lah, pemda berpikiran bahwa dampak tidak bisa segera, tetapi dalam jangka panjang. Tapi, kok saya meragukan kemampuan pemerintah kita untuk mengelola dan merawat bisnis daerah ya. Siapa yang akan dinobatkan sebagai pengelola? Dinas Pemuda dan Olahraga? Dinas Pariwisata? Bikin BUMD? Uhmm.. Bisa di browsing sendiri, aset pemerintah mana yang terawat dengan baik? Merawat lapangan golf, konon, selain harus intensif, mahal sekali loh. Pun, harus diserahkan kepada yang ahli lansekap padang golf. Kalo menurut situs ini, perawatannya bisa mencapai 1,8juta dolar per tahun alias 150 ribu dolar per bulan alias hampir 2 milyar rupiah/bulan. Apakah kita mampu? Berapa banyak lagi anggaran daerah yang harus dikucurkan untuk padang golf ini? Sebanding tidak dengan manfaatnya?

Saya berpikir, jika potensi keuntungan lumayan besar, mengapa tidak menggandeng investor saja? Saya yakin, jika betul bisa bikin balik modal kurang dari 10 tahun, pengusaha bisa tergiur. Tugas pemerintah kan sebagai fasilitator pembangunan. Yaa.. fasilitasi lah. Jika bisa menyediakan lahan dan improve infrastruktur, struktur dan fasilitas pelengkap diserahkan saja pada sektor swasta melalui mekanisme public private partnership (PPP). Asal tidak asal-asal saja ya dalam bagi-bagi kemitraannya. Dengan cara ini, pemerintah tidak perlu membuang anggaran full untuk lapangan golf. Sisanya dapat dipakai untuk hal lainnya yang bisa menstimulasi produktivitas wilayah.

Tapi, lagi… jangan-jangan investor tidak mau karena hitung-hitungan perawatan ini tidak sebanding dengan pemasukan dari 100 pegolf Aceh yang rutin ke Medan? Berharap turis main golf disini? Come on, harus kita akui turis terbanyak yang datang ke Aceh adalah turis backpacker (untuk turis Eropa dan US). Terbanyak adalah turis negara tetangga (Malaysia, mostly), yang mana ga doyan main golf tetapi berkunjung ke Sabang, mesjid-mesjid, atau pasar Aceh baru.  Eh, data turis ini maaf ya ga official tapi dapat dari obrolan teman yang dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Aceh. Kalau ngomongin potensi turis, pemerintah malah harus pikirin ini nih… sepertinya lebih prioritas dibandingkan revitalisasi lapangan golf. Imho, sudah saatnya lah melakukan cost benefit analysis untuk setiap kebijakan yang akan diterapkan. Jangan nafsu saja punya lapangan golf level dunia… hehe…

Sebenarnya, jika alasannya ingin memanfaatkan dan menaikkan nilai lahan yang ada, sekaligus mengejar target menjadi tuan rumah PON, bagaimana kalau lahan golf yang sekarang dijadikan semacam sport centre saja, lengkap dengan kolam renang, lapangan futsal, lapangan badminton, lapangan basket, lapangan tenis, dll, dihiasi dengan taman-taman yang bikin betah? Lapangan golf mini buat latihan ecek-ecek juga boleh lah :p. Bikin yang bagus, terawat, aman dan nyaman??? Saya yakin fasilitas publik semacam ini lebih dapat mendatangkan banyak keuntungan sekaligus bermanfaat bagi masyarakat banyak.

Dua.

Sebenarnya ini yang paling penting. Lapangan golf sangat amat merusak lingkungan. Bahkan, saya pernah membaca artikel aktivis lingkungan fundamental yang menyebutkan lebih baik lahan ditelantarkan daripada menjadikannya sebagai lapangan golf. Menurut laporan UNDP, perawatan lapangan golf membutuhkan banyak sekali air, sehingga dapat mengurangi kapasitas air bersih secara drastis. Jika sumber air didapatkan dari sumur, pemompaan air secara berlebihan akan menyebabkan instrusi salinitas pada air tanah. Katanya, penggunaan air untuk lapangan golf ukuran rata-rata (dengan 18 hole) sama dengan penggunaan air untuk 60.000 jiwa penduduk desa. Itu soal air. Soal tanah, Situs ini bilang bahwa rata-rata lapangan golf di Thailand membutuhkan 1500 kg pupuk kimia, pestisida, dan herbisida setiap tahunnya. Kita tahu ya, lapangan golf ini maintenance nya warrrrbiasa, supaya rumput tetap asri, indah, dan menawan. Sayang, olahraga golf ini sama levelnya dengan olahraga balap mobil dan motor, dalam hal mencemar lingkungan. Beda tipe polutannya aja.

Hati-hati juga, jika rupanya padang golf tak laku, susah sekali untuk mengkonversi lahan untuk peruntukan lain. Pengalaman di New Jersey yang pernah mengkonversi bekas lahan golf menjadi perumahan, baca disini, pemerintahnya harus membiayai remediasi lahan seluas 50 are yang sudah terkontaminasi arsenik dan zat lainnya, agar layak menjadi permukiman penduduk.

Begitu pendapat saya. Jadi, meskipun dari sudut pandang perencanaan wilayah, lapangan golf bisa menstimulasi pertumbuhan baru juga meningkatkan harga lahan di sekitarnya, saya tetap tak setuju revitalisasi proyek ini. Dalam konteks Aceh, alternatif lain harus dipertimbangkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s