Tentang diremehkan, menjadi korban bully.

Saya baru baca cerita ini. Marah sekali rasanya memang jika diremehkan orang. Apalagi jika ditambah bullying.

Saya pun pernah sangat sedih dan marah… karena diremehkan. Menjadi korban bully.

Kelas 6 sd, saya harus pindah sekolah, ikut ayah yang sekolah disana. Di Melbourne, dimana anak-anak seusia saya berbahasa Inggris. Yaiyalah… haha. Saya sendiri tak bisa bahasa Inggris saat itu, sehingga susah sekali mencari teman. Teman saya hanya satu, Qiaoyan namanya. Warga Oz keturunan tionghoa yang juga tak punya teman. Anak indonesia lain… ada. Adik saya, yang umurnya hanya terpaut setahun, juga ada di sekolah yang sama. Sayangnya, adik saya pernah ikut ayah juga selama dua tahun ke Inggris, sehingga tak punya masalah dengan bahasa. Gampang saja dia  berteman, bahkan di hari pertama. Saya sendiri… :'(.

Sudahlah sendiri, kena bully pula. Tiap senin sekolah kami memberikan pupil of the week untuk menghargai siswa yang paling berusaha dan performed di kelas pada minggu itu. Kami biasanya berbaris menurut kelas, menyanyikan lagu Advance Australia Fair, mendengar beberapa pengumuman, dan kemudian penobatan pita pupil of the week. Saya baru sebulan bersekolah. Tiba-tiba, ketika sedang asyik mengkhayal, karena tentu saya tak mengerti lah pengumuman-pengumuman itu, sekelompok anak memanggil. “Issana, go.. go get the ribbon. Go to the front.” Saya bingung. Didorong-dorong tubuh saya hingga saya terpaksa berjalan ke depan. Sempat geer juga akan mendapat pita. Rupanya, yang memberikan pita kebingungan. Bukan nama saya yang mereka panggil. Sekeliling pun heran melihat saya naik ke podium. Untung panitia baik hati. Saya diberikan pita juga meski harus dikembalikan sesudahnya. Sorak sorai dari komplotan pebully terdengar nyaring dan sangat menyakitkan. Sakitnya tuh disini… *tunjuk dada*.

Saya diremehkan dengan sangat hina gara-gara tak bisa bahasa inggris. Bukan sekali itu saja saya menjadi korban bully. Tapi itu yang paling membekas.

Untung yaa saya anak bebal. Saya survived dengan baik. Saya tetap masuk tim softball sekolah, menjadi pitcher yang sempat diandalkan. Saya tetap dengan riang bangun pagi untuk ke sekolah bersama adik-adik saya meski tahu bahwa makan siang ala indonesia saya akan diejek sebagai makanan menjijikkan (saya pernah makan di kamar mandi gara-gara bekal saya diejek, hiks). Saya tetap belajar dengan baik dan memilih jadi relawan di perpus sekolah saat recess karena minim teman. Belakangan teman saya juga nambah kok, seiring dengan bahasa inggris yang membaik. Tapi, memang di setiap sekolah itu pasti ada kelompok yang suka iseng ya, terutama harus saya akui, mereka adalah anak-anak yang dibilang ‘keren’.

Buat saya, ketika sudah mampu melewatinya dengan baik, perasaan diremehkan ini bisa menjadi anugerah juga. Bahwa, diremehkan ternyata menjadi senjata untuk menjadi lebih baik.

Tapi, tentu… meremehkan tetap tak baik. Tak bagus. Kejam. Perasaan tiap orang berbeda. Seringkali perasaan diremehkan ini bukannya menjadi motivasi tapi mematikan percaya diri. Hingga depresi… hiks… Tak semua korban bullying seperti saya. Banyak diantara kami yang seketika kehilangan self esteem. Kemudian kabur dari rumah, kemudian tak berhasrat ke sekolah. Atau kemudian bunuh diri. Minimal seperti Qiaoyan, teman saya, yang tak tahan kena bully. Ia selalu kabur ke rumahnya yang berjarak 50 meter dari rumah saat recess dan lunch time.

Memang, bullying ini memprihatinkan. Entah efek apa yang dihasilkan dalam jangka panjang. Susahnya, anak-anak ini menganggap bullying sebagai bagian dari bercanda. Yang melakukannya anak-anak keren pula.

Maka, saya pun berusaha sekali untuk tak meremehkan orang lain. Meski susah juga loh, terutama jika terjadi spontan. Sering ya.. untuk hal sepele yang biasa kita lakukan, kemudian ada yang tak mampu melakukannya, kita dengan cepat berkata, “haa?? Gitu aja ga bisa??”. Tulisan ini pun saya tujukan sebagai pengingat diri. Semoga saya bisa menuntun anak kami nanti agar tak jadi korban bully, apalagi pelaku bullying.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s