Mau bilang apa.

Saya sedang di Meulaboh. Sedang suntuk juga dengan pekerjaan yang seharusnya saya update sekarang. Sebenarnya ingin cerita pengalaman di Baku. Tapi, sungguh saya sedang sangat suntuk sampai tak bisa menulis hal-hal menyenangkan. Hiks.

Jadi, setelah sempat jadi orang kantoran selama 2 bulan. Saya kembali menjadi freelancer. Alhamdulillah, saya selalu dapat kerjaan. Andai saya punya asisten yang pas, lebih banyak tawaran yang bisa saya ambil. Tapi apa daya. Asisten ga pas-pas, waktu pun berbatas. Komitmen saya, keluarga nomor satu. Maka, ada threshold  jumlah pekerjaan dari suami, haha. Kualitas yang penting. Daripada besok, saya kena blacklist.. Ishhh..

Anyway, pekerjaan saya ini dikelilingi oleh tukang olah, korupsi, kolusi, dan nepotisme. Betul. Ngeri… Tak usah lah didetailkan disini, semua orang tahu praktik umum yang terjadi di instansi pemerintahan kita terkait proyek. Baru saya tahu, mengapa pejabat dari instansi spesialisasi sarpras ini bisa kaya raya layaknya pengusaha kelas kakap. Tiap kali bergosip dengan suami soal orang-orang ini, kami berdoa agar dijauhkan oleh Allah dari godaan yang bikin perut anak-anak kami diisi makanan haram. Naudzubillah.

Yang bikin saya galau… Saya ini berdosa ga ya membiarkan kejadian-kejadian ini lalu lalang di depan mata saya? Bukankah kewajiban saya mengadu atau melaporkan ke KPK? Kalau tidak lapor, apakah berarti saya mendukung KKN? Di lain sisi, saya hanya tenaga ahli, yang juga digaji oleh sebagian jerih KKN itu.

Hiks, mau bilang apa?

Sebenarnya bagaimana harus bersikap terkait beginian??

Tentang Sapih.

Sudah 10 hari Karim menyapih dirinya sendiri. Betul, he weaned himself.

Sejak kira-kira K berumur 18 bulan, kita serumah (termasuk oma dan tutehnya) mulai memotivasi K supaya tidak mimik lagi. Mulai bisik-bisik mesra tiap mimik dan pas tidur, sampai omongan bahwa mimik hanya untuk anak bayi dan K sudah besar. Bahwa anak besar, seperti bang Fathan dan bang Danish (sepupu-sepupunya), tidak mimik lagi. Kalo pas ada sepupunya di rumah pun, dan K lagi mimik, mereka pasti ngeceng cengin K, bilang “maluuu masih mimik, kayak anak bayi”. Hehe…

Tapi… Kok yaa anaknya cuek aja. Tetep mimik, malah dengan frekuensi makin bikin sebal. Masalahnya pakai acara jungkir balik dan gigit. Pas dia genap dua tahun, saya berpikir sepertinya weaning with love ga mempan buat K. Ga bisa kalau cuma ala ala mama mama WWL yang pakai hipnoterapi bisa tersapih anaknya. Cara manipulasi pun sempat kita lakukan. Tempel handyplast dan pura-pura kalau mimiknya sakit. Ga ampuuhhhh…

Kita pun berencana akan paksa pakai metode cry it out loud. Cuma menunggu waktu yang tepat. Menunggu kita berdua ada di rumah, supaya proses menenangkan anak yang akan disapih lebih gampang.

Kebetulan bulan April lalu, hectic sekali buat kami. Saya dan suami ganti-gantian ke luar kota. Saya sendiri sempat ke Bali 4 hari. Pulang ke rumah 1 hari, kemudian terbang lagi ke Baku selama 6 hari. Pulang dari Bali, masih ngasih asi sih. Berharap pulang dari Baku, anaknya udah biasa ga mimik.

Betul saja. Setiba di rumah, K memang minta mimik. Saya bilang K sudah besar, kok masih minta mimik. Begitu saja, dia langsung oke. Katanya, “Karim anak besar, tidak mimik lagi. Malu sama kucing. Meong meong meong”. Hahaha…

Sepertinya dia takut, Bunda akan pergi lagi kalo dia mimik.

Malam, dia sempat merengek, memaksa, minta mimik. Kira-kira 5 menit, saya biarkan dia merengek. Akhirnya dia bilang, ” pegang mimik aja”. Beneran loh… Pegang aja, ga pake usaha mau mimik. Good boy. My big boy.

Sampai sekarang. Jika sedang rindu mimik, K minta pegang saja. Tidak mimik lagi. Malu sama kucing. Hehe…

Rupanya bisa juga yaa weaning ga pakai paksa. Alhamdulillah. K juga sepertinya emang sudah siap, jadi prosesnya sudah gampang. Saya pikir, motivasi kami sejak dia masih 18 bulan yang terus nempel di pikirannya, berhasil. Tidurnya pun lebih nyenyak nih sejak tersapih.

Tahap selanjutnya. Lepas diapers. Semoga ga pakai drama juga yaa bocil.