Drama PLN

Ceritanya begini.

Rumah orangtua saya, yang lokasinya di belakang rumah induk, disewa oleh satu keluarga. Tapi, nasib kurang baik, keluarga ini meninggalkan rumah sewa dalam kondisi tagihan listrik menunggak hingga 4 juta rupiah. Tak mampu bayar segera, PLN pun memutus aliran listrik. Meteran dicabut. Dengan janji bahwa si keluarga penyewa akan membayar tunggakan, orangtua saya, meski misuh-misuh sebal, ga tega juga memaksa mereka dalam keadaan sedang susah. Risikonya, biaya pasang terpaksa nanti harus ditanggung orangtua saya lagi kan.

Janji tinggal janji. Sudah lewat enam bulan sejak mereka pindah, sampai sekarang orangtua saya belum menerima kabar apa pun. Padahal, adik perempuan saya berencana menempati rumah dalam waktu dekat. Pasalnya, pemasangan listrik baru bersyarat tunggakan lunas. Berat juga kalau harus melunasi tagihan listrik yang bahkan tidak pernah dipakainya. Hihi, kasihan ya. Sementara si keluarga penyewa, meski terus berjanji membayar, tak kunjung melunasi. Niat menyicil pun tak ada realisasinya. Kami doakan keluarga ini mendapat hidayah dari Allah, semoga mereka dijauhi dari azab hutang.

Akhirnya, orang tua saya, dengan niat membantu anaknya, minta adik saya mengurus pemasangan ulang ke PLN. Asumsi tagihan 4 juta rupiah.

Eh, ternyata tagihan sudah berlipat jadi 9 juta. Wow… Mejik!!! Kami minta rincian tagihan. Mengejutkan, tagihan bulan Januari hingga Juni 2016 aja ada loh… Sebesar 600ribuan setiap bulannya. Ada juga yang sejumlah 700ribuan. Kita bingung. Meterannya aja dicabut. Hitung pakai apa coba PLN? Darimana keluar angka sekian?

Bertanya begitu… Eh, kami dituduh mencuri arus. Katanya, “orang Aceh ni banyak yang begitu bu, listrik udah putus bisa ngambil arus”. Ampuuunn dah ni orang, kami padahal berniat baik mau bayar tagihan, malah kena serang. Kami tantang mereka periksa langsung ke rumah. Katanya, kalau memang meteran sudah dicabut, kami diminta bawa surat bongkar meteran.

Omaygat… Semakin panas lah ya kita, hahaha. Tepatnya, adik saya yang perlu dikipas-kipas. Pertama, kalau pun kami mengambil arus, tau darimana ngambilnya hingga sekian rupiah? Kok angkanya spesifik sekali? Sementara bukti tak ada. Kedua, kalau mau mengecek meteran masih ada atau tidak, survei saja lah ke rumah. Lihat tuh sendiri. Nanti kita bawa surat bongkar dituduh surat palsu pula. Ga habis pikir saya. Huh…

Kami sudah bilang, surat bongkar ada di penyewa rumah. Kebetulan penyewa pasang listrik pascabayar atas namanya (bukan nama orangtua saya sebagai pemilik rumah). Kami berniat baik membayar tunggakan, karena rumah milik orangtua kami. Kalau bukan, kami sebenarnya tidak perlu susah-susah mengurus ke PLN. Biar PLN saja yang kejar-kejar itu pelanggan, kan ada KTPnya juga.

Dari sini, kita sama-sama tahu PLN ternyata bukan hanya tidak profesional dalam memenuhi kebutuhan listrik masyarakat, pemadaman tanpa pemberitahuan, dsb. Tapi juga tidak profesional dalam hal manajemen tagihan. Bagaimana sistem administrasinya ya, kok pencabutan meteran tidak tercatat? Atau tidak masuk dalam sistem tagihannya? Dalam hal perekrutan karyawan juga, sebaiknya PLN meniru perusahaan pelayanan semacam Telkomsel, yang CSnya tetap senyum ramah (plus minta maaf) ke pelanggan yang sudah melemparkan caci maki. Ga usah berlebihan lah membela perusahaan anda. Giring saja kami ke manajer, jika tak mampu menjawab masalah. Lebih baik begitu.

Hari ini, tunggakan listrik belum terbayar. Hati panas. Marah memang sangat mengonsumsi hati ya. Tidak baik ini.

Semoga PLN lebih kompromis besok. Kami berniat mengadu pada yang berwenang jika PLN kukuh dengan tagihan yang tak berdasar.

Advertisements