Olah sampah di rumah

Niat untuk menerapkan olah sampah ramah lingkungan sudah ada sejak lama. Dulu, saat sekolah di Melbourne, memang sudah ‘terpaksa’ pilah sampah organik dan non organik, kemudian ditempatkan ke wadah berbeda juga. Kalau tong sampah bercampur, local council akan kirim surat teguran ke rumah. Males kan… Hehe. Kenyataannya, ga susah juga sih pilih-pilih sampah. Saya pun bukan yang tipe environmentalist kayak teman saya yang sampai mencuci bersih sampah anorganik seperti botol-botol bekas, baik plastik atau kaca. Keren yaaa… Kuliahnya di bidang lingkungan sih, harus begitu 😄.

Nah, sepulang sekolah, saya tinggal di rumah orangtua yang tidak menerapkan prinsip 3R dalam pengelolaan sampahnya. Agak susah yaa… Masa kita aja yang pilih-pilih terus ujung-ujungnya dicampur lagi. Haha, sebenarnya ini alasan 😚.

Kami baru mulai memilah sampah lagi saat sudah tinggal di rumah sendiri. Termasuk baru-baru ini kami mencoba membuat takakura untuk sampah organik rumah tangga. Jadi, di rumah, ada 3 wadah; takakura untuk sampah organik (sisa sayur, buah, nasi, sisa makanan), kardus untuk sampah anorganik (botol, kaca, kertas, plastik), dan tong sampah untuk sampah selain keduanya kayak sisa makanan atau sampah dapur dari hewan (tulang ikan, sisa pesiang udang, dll), tisu (hehe.. masih nakal nih).

Takakura, komposter sederhana. Cocok untuk keluarga kecil atau anak kos 😄

Wadah untuk sampah anorganik, akan diambil pengumpul sampah daur ulang.

Takakura sudah jelas ya, output nya kompos. Saat ini, takakura kita belum matang, masih diisi terus tiap hari dan baru setengah penuh. So far so good sih sepertinya. Bagian bawah keranjang cukup hangat yang menandakan terjadinya pengomposan. Sampah juga tidak bau, bau tanah biasa saja. Bagian atas agak berjamur, mungkin karena saya masukkan sampah nasi. Sudah saya aduk-aduk supaya lebih merata dan bercampur tanah lagi. Doakan semoga kompos saya bagus ya :D.

Salah satu referensi saya membuat takakura ada di blog ini. Banyak sih sebenarnya, termasuk video di YouTube kalau masih bingung sama penjelasan artikel. Agak beda dengan takakura yang di blog itu, takakura saya pakai kardus bukan plastik hitam. Trus, bantal sekam saya dimasukkan ke kantong kanvas tipis bekas, bukan tas jaring. Soalnya cukup susah cari tas jaring atau kain jaring disini. Jadi yasudahlah memanfaatkan yang ada di rumah saja. Yang penting fungsi bantal sekam bisa tetap optimal, yaitu menjaga kelembapan.

Mencari sekam juga susah-susah gampang disini. Saya tanya ke banyak tempat nursery tanaman, pada ga jual. Ke TPS 3R juga tidak ada. Akhirnya, kita jalan-jalan ke pabrik olah padi di daerah Lam Ateuk, ada sekam segunung bisa diambil gratis. Tentu kita hanya mengambil satu goni untuk stok. Itu pun belum habis sampai sekarang. Sekam, selain untuk bantal sekam bisa ditabur sesekali ke campuran sampah supaya tidak terlalu basah.

Prinsip keranjang takakura. Pics taken from here.

Kalau sampah anorganik, rencananya akan kita beri ke pengumpul sampah daur ulang. Paling dekat dengan rumah saya, ada pengumpul di Hutan Kota BNI atau di cluster pengumpul di daerah Baet, Kajhu. Kalau tinggal di daerah Ulee Lheue, ada TPS Lambung yang punya Bank Sampah. Idealnya sampah dibersihkan dulu ya, tapi kita belum nih. Next rubbish goal lah ya, haha…

Usaha kita mengolah sampah memang belum optimal. Secara kasar, 30% sampah rumah tangga kami masih berujung ke TPS karena tidak tahu mau diapakan. Plus, meskipun saya sudah menghindar penggunaan plastik dengan memakai recycle bag, masih ada saja plastik kecil-kecil bawaan dari belanjaan kecil-kecil yang ga terduga. Suami saya juga nih, masih ngeles kalau kita butuh plastik untuk buang sampah 😎😥. 

PR nih, mengurangi penggunaan plastik. 

Tapi, setidaknya kami sudah memulai. Saya ingin anak-anak saya nantinya sudah merubah paradigma pengelolaan sampah, yaa.. ada perbaikan lah di generasi mendatang. Manfaatnya juga lumayan. Tong sampah tidak bau. Kompos bisa untuk tanam-tanam (project selanjutnya ini, greening the house 😇).

Advertisements

Smiling wife.

Inspired by a blog I read (can’t remember which), I challenged myself to smile more often to my beloved husband. Not that I usually cranky, but just to smile more. Smile brings positive vibes and certainly makes people (and ourselves) happy, too. Right?

So.. I started looking for something I can remember to make me smile. It’s harder for me to smile when I’m tired or not in the good mood. I thought I have to think of something funny so I can maintain the smiling monalisa.

This is weird, but my ‘excuse’ to laugh is to think about my husband’s ex girlfriend, hahaha. Well, he had never actually told me about her. All I know is that she’s 14 older than him. I know they were in serious relationship, though. I once found a book from her for my husband (it has some pretty words with her sign on it). That was when I first knew her full name and straight away googled her, haha… (I know my husband doesn’t read this blog, maybe someday but who cares 😚). She’s beautiful, maybe even prettier than me in terms of physical appearance and the way she took care of her glowing skin and all that. No wonder, a young man would fall in love with her. But strangely I don’t envy her. Instead, I thought it’s funny how my husband could be in a relationship with such a mature woman. I imagined, had they been together now… They would look like mom and son, hehe. Am I evil or what?? But, everytime I think of it, I laughed so hard. Sometimes I laughed harder because I think I am too crazy to think of something like that. 

Anyway, the smiling challenge works well. I smile more often. I always smile when I look at him. I smile when we talk. I smile when I tell him to help around. I smile when he helps around the house. He felt more appreciated. He felt loved. And a lot of times, the smiles bring not only positive vibe but more intimate moment. We’re a couple who love cuddling already, but with that smiling therapy… We stop by each other more often just to hug or to simply look at each other’s face.

We want to continue doing this.

Oh… He doesn’t know, though, sometimes I smile for all the wrong reason, hahaha. 

Menjadi ibu

01.35. 

Duh, saya tidak bisa tidur. Blog walking dari tadi, sampai akhirnya scrolling blog favorit saya saat ini Tripping Mom. Saya jadi ingin curhat 😅.

Begini…

K itu males sekolah. Kalo ditanya mau sekolah atau tidak, jawabannya pasti tidak. Tapi ya, kalo diantar ke sekolah, dia juga tidak menolak sebenarnya. Hanya sewaktu-waktu saja K benar-benar menolak dan menangis. Kadang-kadang, dia juga memikirkan modus supaya tidak ke sekolah. Menunda mandi, kemudian mandi yang lama, makan yang lama, sampai to the point bilang tidak mau sekolah.

Saya tentu galau. Hati kecil saya berkata, memang seharusnya bocah seumuran ini nempel sama saya. Entah buat main atau apa lah. Anak ini dititip ke saya, bukan ke Bunda Sita, Bunda Farah, atau Bunda Yuni, di sekolah 😂. Saya tidak anti toddler ke sekolah sih. Alasan saya menitipkan K di PAUD juga karena merasa saya butuh me time, dan percayalah in my case that means working part time in the field I am interested in. Saya juga berpikir, toh disana K cuma main-main, tidak dipaksa belajar. Plus, kalo K sedang tidak mau sekolah, hampir selalu saya biarkan dia di rumah. Saya merelakan waktu kerja saya di pagi hari dan menemani K. Meski harus dikompensasi dengan lembur di malam hari, yang mana sudah kurang work juga untuk saya. Entah sejak melahirkan atau sejak menginjak kepala tiga… Saya gampang ngantuk dan tidak konsentrasi bekerja tengah malam. Walaupun kalau terpaksa, beda lagi ceritanya, hihiii…

Belakangan, modus tidak mau sekolah ini semakin sering. Seringkali, malah muncul di saat saya harus bertemu orang atau menyelesaikan pekerjaan bersama Tim. Bawa K saat kerja itu bukan pilihan karena pasti tidak efektif dan efisien. Akhirnya, terpaksa dititip ke sekolah. Kemudian… Lihat anak nangis, galau lagi 😥. Apalagi kalau baca tulisan soal fitrah anak dan ibu. Ya Allah, pahala saya sesederhana menjaga dan merawat anak dan suami. Pahala nulis laporan juga cuma sekelebat, masa saya mau tukar pahala bersama anak saya dengan ini?

Maka… Bulan Februari ini, saya bertekad. K tidak sekolah lagi. Mudah-mudahan istiqamah. Saya mulai bikin jadwal aktivitas anak nih. Pekerjaan saya sedang tidak banyak juga sekarang. Mungkin saya akan pertimbangkan ambil satu project yang bergaji oke saja. Kalau pun harus lembur tidak berlarut-larut. Tidak terlalu sibuk business trip seperti tahun lalu…hehe. Karim akan kembali ke sekolah saat dia siap. Siapa tau saya malah bisa homeschooling K ya 😇.

Semoga Allah memudahkan niat baik saya. Amin.