2017, mengajar.

2017. Tahun pertama saya mengajar di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Unsyiah. 

Ini pengalaman baru bagi saya karena selain harus banyak meng-update ilmu, saya juga harus belajar soal metode dan pendekatan mengajar untuk mahasiswa. Tentu berbeda kan ya, mendidik siswa sekolah dan mahasiswa. Menurut saya, mereka butuh fasilitator saja dalam mencari ilmu. Tapi, seiring perjalanan mengajar, ternyata mereka perlu banyak ‘disuapi’ juga agar tidak melenceng, hehe.

Saya masih belajar menjadi guru. Mencari pendekatan-pendekatan agar mahasiswa saya tidak ngantuk, agar mereka terpicu untuk berpikir dan beropini, bukan sekedar menghafal definisi. 

Semoga 2018 saya ber-progress menjadi guru yang lebih mumpuni. Amien.

2017, memilah sampah.

2017. Tahun pertama saya memilah sampah di rumah, sekaligus mencoba composting dengan metode takakura. Konsisten? Tidak, hehe. Saya punya satu keranjang takakura yang disiapkan dengan susah payah. Sempat cukup rajin juga merawat takakura agar tak berbelatung, membuat cairan mol, menjaga kelembapannya dengan menabur sekam, dll. Tapi seiring sibuk yang cukup menyita waktu, akhirnya begitu takakura penuh, saya beralih ke biopori. 

Biopori jauh lebih mudah. Tinggal melubangi tanah sedalam kira-kita 60-100cm, kemudian masukkan sampah organik ke dalam lubang. Tutup dengan daun-daun kering agar tidak bau. Saya juga menabur tanah/sekam agar tidak berlalat. Sampai sekarang, kami punya tiga lubang biopori yang lestari, hehe. Lestari ini maksudnya berkelanjutan karena bisa digunakan terus menerus. Dalam jangka waktu satu bulan saja, lubang yang tadinya penuh bisa diisi kembali. Tanah di lubang juga mulai menghitam, pertanda cukup subur dan sampah berubah menjadi kompos.

So far, saya happy dengan proses memilah dan mengelola sampah di rumah, meski masih terbatas sampah organik. Minimal, saya ikut mereduksi sampah yang harus dibawa ke landfill dan turut memperpanjang umur TPA. Jika produksi sampah rumah tangga per hari itu 4 kg dan 3 kg diantaranya adalah sampah organik, at least kami sudah mengurangi 90 kg sampah organik per bulan. Wow… Dipikir-pikir, langkah kecil ini baik juga ya. Apalagi kalau dilakukan banyak rumah tangga. Pasti jumlahnya menjadi sangat significant. Sayangnya, kami belum mulai melakukan benchmarking pengelolaan sampah ini. Seharusnya jika ingin melihat progress dan menentukan target tertentu, benchmarking menjadi dasar yang baik.

Nah, tantangannya tinggal sampah anorganik. Terus terang, usaha kami minim sekali dalam hal ini. Kami punya reusable bags untuk berbelanja, untuk belanja dapur dan belanja groceries. Agak sedikit gampang menolak plastik saat grocery shopping, tapi tidak untuk belanja dapur… 😂😂😂. Tas daur ulang saya secara dominan hanya menjadi tempat menampung belanjaan kecil-kecil yang sudah ditaruh di dalam plastik kecil-kecil juga 😂. Belum lagi kalau saya belanja spontan dan lupa bawa tas belanja. Terpaksa pakai plastik lagi. Akhirnya, plastik masih banyak tersimpan di laci dapur kami. 

Tantangan lainnya adalah tempat pembuangan sampah anorganik. Usaha memilah sampah belum didukung oleh pemerintah kota yang secara sembarangan masih mengumpulkan sampah tak pandang jenis. Semua terhambur menjadi satu, organik, anorganik, bahkan sampah berbahaya seperti bekas baterai, dan lainnya. Sedangkan kami tak konsisten juga mengantar sampah anorganik ke tempat pengumpulannya. Akhirnya, memang masih bergantung pada pengumpul sampah kota. Yah, minimal sampah kami memudahkan pemulung ketika memilih sampah.

Meski banyak tantangan, yang mana dapat diselesaikan secara bertahap dan inkremental, hehe… di tahun 2018 ini, kami tetap ingin meneruskan aksi pilah sampah di rumah ini. Meneruskan composting dengan biopori dan takakura, Serta bisa diet plastik lebih ketat. Tentu, niat saya tahun ini bisa melakukan benchmarking sampah. Setidaknya menjadi data eksisting produksi sampah rumah tangga kami.