CPNS

Lagi musim kan ya. Siapa yang ikutan daftar juga??

👆👆👆👆

Iya… saya juga. Satu, saya memang sudah mulai mengajar di unsyiah. Saya pikir tak ada salahnya merubah status dari non pns ke pns. Menurut banyak orang, status pns lebih secured. Dua, orangtua saya, meski tak pernah memaksa, ingin sekali saya jadi dosen pns. Memang tidak pernah bilang secara langsung tapi saya selalu didorong mendaftar setiap kali musim open recruitment CPNS.

Total tiga kali saya ikut berpartisipasi. Hihiii… Banyak juga ya.

Pertama, daftar formasi PU pemprov Aceh sebagai ahli perencanaan wilayah dan kota. Gagal!!

Kedua, daftar formasi dosen unsyiah prodi PWK. Saya lolos SKD dan SKB tp berakhir gagal juga di akhir.

Ketiga, daftar lagi di formasi yang sama dengan yang kedua. Kali ini, TIU 105, TWK 120, dan TKP 139. Anak mudanya TKP, hehe. Saya gagal lagi!!

Kasian amat gagal melulu… Hahaha. Kalo dulu saya pernah senang bisa hattrick dapat H1 hampir tiap semester, kali ini hattrick gagal CPNS.

Bukan… Bukan begitu.

Kalo suami saya bilang, unsyiah itu ga rezeki dapat saya 😁😁. Atau dibalik, bukan rezeki saya di unsyiah. Rezeki saya di tempat lain, atau bisa saja di unsyiah dengan status berbeda. Jadi yaa.. saya sih bersyukur saja.

Pertama kali gagal jadi PNS, saya sempat kecewa. Menganggap saya kurang pintar, masa tes begitu bisa tidak lewat? Orang sekitar saya pun begitu. Kurang belajar, kali. Kurang latihan. Dan lain-lain.

Tapi… Kalo dipikir-pikir ya, tes SKD itu sendiri ga mencerminkan kepintaran dan keunggulan kok. Kalo mau adu pintar ya sesuai bidang lah. Terutama TKPnya, kita dipaksa memakai baju orang lain untuk memilih jawaban dengan skor tinggi. Padahal, siapa yang bisa jamin skor TKP tinggi berkorelasi dengan pegawai berintegritas?

Jadi, kawan… Lulus ga lulus cpns itu cuma masalah rezeki, kok. Bukan karena bodoh atau tidak mampu. Anda lihat sendiri, ga semua PNS ternyata lebih pintar, meski dulu lolos SKD 😁. Eh, moonmaap kalo salah kata yaa… Rezekinya saja memang disana.

Advertisements

Waktu… Untuk siapa?

Dalam rangka rajin ngeblog, saya usahain tulis apa saja yang sedang terpikir di kepala. Hehe…

Sabtu lalu adalah hari terakhir saya dan kawan-kawan calon asesor mengikuti pelatihan sekaligus uji kompetensi asesor. Hari itu, kami diuji satu per satu, sampai dapat dinyatakan kompeten. Saya sendiri merasa cukup repot, harus merevisi beberapa tugas, sampai akhirnya dinyatakan kompeten. Alhamdulillah.

Qadarullah saya dapat giliran pertama sekali dan akhirnya harus menunggu kawan-kawan lain diuji. Bayangkan, kami ber-40 diuji oleh 4 asesor secara bergantian, sesuai bidang masing-masing. Huh… Hek (lelah) deh. Nah, judul hari ini muncul akibat percakapan yang kami bahas selama menunggu teman-teman lain dalam proses uji kompetensi. Percakapan antara saya dan si master asesor yang menguji saya tadi, selepas menguji semua calon asesor bidang Perencanaan Wilayah dan Kota.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan saya sudah sangat keberatan menunggu. FYI, pelatihan sudah berlangsung sejak 6 hari sebelumnya dan selalu selesai pasca maghrib, bahkan Isya. Jadi, kalau sabtu ini saya pulang malam lagi, anak saya pasti kecewa berat. Akhirnya, saya memberanikan diri minta izin ke penguji dan panitia untuk tidak menunggu kawan-kawan yang masih diuji. Toh, saya menunggu hanya untuk penutupan.

Panitia oke saja, asal penguji setuju. Menghadaplah saya ke si bapak. Kemudian, keluar lah nasihat… Hehe.

Saya hanya di rumah selama 3-4 jam saja. Selebihnya dedikasi saya di luar rumah.

Ga protes Pak, orang rumahnya?

Yaaa.. mungkin protes. Tapi ga berani bilang. Pekerjaan saya memang menuntut begitu. Bla bla…

Mmhhh… sila kalau bapak berdedikasi hingga tak punya waktu untuk orang yang mencintai bapak sepenuh hati. Saya sih ga mau begitu Pak. Tentu yang ini dalam hati saja ya 😁.

Saya sih menghargai ya waktu si bapak untuk pekerjaannya. Tapi… Apa iya kita sampai harus mengorbankan waktu untuk keluarga? Bukankah keluarga tempat kita kembali? Kalau meninggal, emang yang ngurusin jenazah kita orang kantor? Kalo sakit, emang yang repot orang kantor?

Banyak orang, termasuk si bapak, berpikir waktu liburan nanti lah yang akan menjadi family time.

Nah, kalo liburan, Saya ga boleh diganggu.

Oke Pak. Sila deh begitu. Saya ga mau kayak bapak… Ini juga dalam hati, wakakaka.

Untuk situasi emergency, saya pun sering meninggalkan keluarga. Tapi, ga selalu. Kalau ngikutin kerjaan, kapan habisnya? Ga habis-habis kan.

Akhirnya, setelah bercakap-cakap basa basi, saya memutuskan untuk tidak minta persetujuan siapa-siapa lagi. Saya menelepon suami untuk jemput. Pelan-pelan saya melipir ke belakang, bawa tas, turun ke basement dan pulang bersama suami dan anak. Jam 11 malam, kami sudah tidur bertiga. Bahagia.

Sementara, penutupan acara uji kompetensi asesor tadi baru berlangsung pukul 1 dini hari. Terbayang, jika tetap bertahan, saya pasti menggerutu kesal. Menunggu yang tidak perlu. Sayangnya, menunggu macam itu disebut dedikasi, bagian dari attitude yang diharapkan dalam bekerja. Padahal, tidak on time itu indikasi kinerja kurang efisien ga sih?

Duh.. kalau begitu, mohon maaf… Tak jadi asesor pun tak apa.

Waktu saya mahal. Bukan untuk kerja.

Mentor

Saya melihat kecenderungan anak-anak muda sekarang berpikir lebih strategis.

Dulu… Selesai kuliah, fresh graduate melamar kerja, memulai pekerjaan dari yang remeh hingga mencapai posisi baik dan sangat baik. Jadi tukang foto kopi dan bikinin kopi buat staf-staf juga boleh, sambil unjuk bakat agar cepat naik pangkat. Hehe… Ya begitu lah. Berjenjang.

Sekarang… Jika mau cepat meroket, cari saja mentor. Mentor yang sudah punya nama, tentunya. Jadi asisten sang mentor, pegang-pegang tasnya, mengerjakan tugas remehnya, sering-sering beri masukan bagus dan cerdas saat berdiskusi. Mentor biasanya membimbing kita dengan lebih baik dibanding bekerja di dalam organisasi yang sistemnya lebih kompleks. Bonusnya, jejaring sang mentor tentu menjadi jejaring kita juga. Ya kan? Rekomendasi dari sang mentor pasti menjadi penting bagi kita.

Beberapa teman saya mengamalkan jurus mencari mentor. Terbukti berhasil. Dibanding saya yang memulai praktek sebagai urban planner tak ber’mentor’ dari nol… alias dari level desa, beberapa desa, sampai bisa dikenal di level provinsi… teman-teman saya yang ‘ikut’ sang mentor relatif lebih cepat karirnya. Setahun saja pegang-pegang tas Pak mentor, langsung dapat posisi officer dan direkom menjadi dosen. Doi tentu tak perlu menjadi fasilitator desa bertahun-tahun, langsung bisa menjadi speaker di level provinsi.

Cerdas? Pasti… Selain takdir Allah, anda tentu harus cerdas untuk dapat ikut seseorang yang akan kita sebut ‘mentor’. Tak mungkin mentor memilih asisten hanya berbekal ‘ini anak temen saya’, hehe…

Minim pengalaman? Ga juga loh… Ikut mentor justru memperkaya pengalaman. Pengalaman yang berbeda pastinya dengan mereka yang memulai dari bawah. Eits.. jadi asisten kan juga mulai dari bawah ya.

Maka… Jika mau cepat meroket, cari mentor saja 😀.