KL trip. Hari ke-3.

Hari ini ke kebun binatang Zoo Negara Malaysia. Abis sarapan, sekitar jam 10an lah kami nge-grab ke Zoo. Pilihan moda paling praktis kalau bawa anak memang taxi atau grab sih ya. Walaupun K sebenarnya cukup kooperatif untuk naik angkutan umum tapi yasudahlah dekat ini. Saya ga cari tahu juga cara menuju zoo via angkum. Biaya grab dari Ampang ke Zoo 10 ringgit.

Alhamdulillah sekali kami dikasih tiket masuk harga lokal loh 😊. Padahal ga pake bohong, saya cuma ngomong pakai logat Malaysia bilang 1 adult 1 budak. Eh, dibilangin RM 59 (43 dewasa, 16 anak). Saya tentu tidak menolak dong. Lumayan sekali ini, harga untuk orang asing tuh RM 61 dewasa dan RM 33 anak.

Jalan-jalan di zoo. Cukup oke tempatnya, bersih, variasi binatang banyak, teduh juga. Ada panda segala 🐼🐼. Tapi sepertinya zoo ini lagi renovasi. Beberapa spot dilarang masuk dan bagian akuarium tampak ga terawat.

K kali ini memang lebih banyak tanya. Dulu pas kita ke Taman Safari, dia menikmati saja tanpa banyak berpikir. Ya iyalah, masih 3 tahun. Sekarang, dia mulai beropini.

Kenapa binatang-binatang dipenjara? Apakah mereka bikin sesuatu yang jahat? Kenapa ada taman kelelawar, kan mereka berkeliaran malam hari? Emang tempat ini buka malam? Kenapa semua binatang tidur dan malas di sini? Apa karena mereka di penjara?

Seru lah pertanyaan si Karim. Kadang-kadang bingung jawabnya. Dia mungkin membandingkan kondisi zoo dengan apa yang dia lihat di Taman Safari atau NatGeo Wild. Lagi pula, kebanyakan satwa di sana nocturnal kan. Jadi, yaa siang itu lagi pada malas, haha. Apalagi makanan sudah tersedia. Tidak ada alasan untuk bergerak.

Saya senang juga K banyak tanya, yang berarti proses kognitif mulai berjalan. Dia juga mulai baca angka-angka dan hitung-hitung. Misal lagi ngantri, hitung berapa jumlah orang yang ada di depan. Atau hitung jumlah binatang.

Kami makan siang di sana. Saya lihat ada restoran tapi ga mampir karena ga tertarik dengan penampakannya. Jadi, kami makan nugget dan fries saja, beli di salah satu booth makanan dekat pintu masuk. Kemudian, menuju akuarium, tempat penguin dan lokasi animal show.

Akuarium, konsepnya bagus sebenarnya. Tapi kondisi kurang terawat. Banyak akuarium kosong dan agak kotor. Bentuknya semacam gua gitu, K sedikit takut kalau pas ada suara-suara. Penguin… Uhm, saya sih kasihan ya lihat penguin di kaca gitu dengan tempat yang sempit πŸ˜‚. Basically zoo isn’t the right place for animals sih. It’s so far from their natural habitat.

Puas jalan-jalan di zoo, kami nge-grab lagi pulang ke hotel. K ketiduran dari naik mobil, sambung di hotel sampai jam 6 sore. Kami baru makan malam jam 8 di kawasan Ampang Point lagi. Sambil beli oleh-oleh juga sedikit. Besok tinggal pulang.

Kalau mau beli oleh-oleh semacam coklat, milo, cemilan-cemilan yang Malaysian gitu sebaiknya memang di super market. Jauh lebih murah daripada di toko kayak Famous Amos gitu. Apalagi kalau di bandara, meski berjudul duty free, imho harga oleh-oleh paling mahal di sana. Di super market biasanya juga banyak penawaran paket murah, terutama kalau sedang musim selebrasi kayak imlek sekarang.

Meski cuma ke satu tempat, hari ini sungguh melelahkan. Tidur cepat, besok pulang.

Advertisements

Week 8. An unforgettable day in my life.

Wohooo, it’s been a while since my last post. I almost forgot about my weekly blog post 😂😂. Not proud.

Anyway…

There’s an ‘an’, so it should be one unforgettable moment. Uhm… I am not sure if I have one in particular.

Of course I couldn’t remember my birth, so it’s forgettable, haha. We don’t really celebrate birthdays or anniversaries at home, so no… I couldn’t remember any great and memorable birthday celebration. Maybe throughout my life, two important moments so far, therefore unforgettable, were our wedding and the birth of our son. I’ve already written about the birth of our son in here (in Indonesian) so I’ll write about the first one here 😁.

I remember that I was not that bridezilla type who planned and perfectly organized every single thing in regards to the wedding. Especially because I was in the middle of finishing my master thesis. We prepared things from a far, I was in Melbourne and my (soon to be, at the time) husband was in Aceh. He took care of things he had to do like preparing gifts for the bride and taking care of all necessary documents, i took care of things that can be ordered online from the down under, haha… Like wedding souvenirs and invitation cards.

So, yes… I didn’t have that epic wedding invitation cards with pictures of both of us holding hands together, haha. Well, we didn’t do pre wedding photos mostly because it wasn’t right according to our religion and family values. My parents said a definite no to pre wedding shots.
Mom and my baby sister took the most vital role for the wedding. They sent pictures of different wedding stalls for me to choose, different kind of flowers, etc. I trusted my mom’s tastebud so she was the one who picked the catering. I was the last daughter to get marry at home, so mom kinda knew best what and which, haha. I returned home a month before the date to prepare the rest. Not much, really. Everything was already booked, all I had to do was just pampering myself with body and skin treatment 😁.

The reception was so-so. Indonesian wedding is not very intimate. There were friends and relatives, of course, but there were also lots of my parents’ friends and colleagues whom I didn’t really know 😚.

Nonetheless, it was unforgettable because…

1. It was the moment when I saw my dad cried for me. He never really cries before. I remembered he also sobbed at my sister’s wedding and told me, “I have finished my responsibilities towards your sister. I am not a perfect dad but I hope I’ve done enough for her.” Though in reality he never stops being a father, of course, it is true that a daughter (in Islam) literally become the responsibility of her husband once she got married. I understand, a moment like wedding must have made him sad and lost…like loosing a daughter, handing his girl to a person he barely knows. I hugged him tight, just as a tight as I hugged my mom the night before, telling him that I will always be his girl. 

2. It was my first time alone with a man, in a room…haha. Well, we’ve been alone before at the restaurant, in the car, and other places, but not in a bedroom or empty room. It was a bit awkward to be alone like that, especially because I knew he had waited a moment like that for so long, haha. No extra stories for this :).

3. It was a very uncomfortable day, ever. I wore acehnese traditional wedding gown with several kinds of trinkets, including keureusang (a big jewellery chest pinned on the dress, like a brooch, made of gold encrusted with diamonds, fake diamonds, haha), 26 pieces of simplah (also jewelleries, mixed of hexagonal and octagonal plates decorated with carved flowers and leaves), more traditional jewelleries I couldn’t name, and the epic dhoe plate (forehead jewellery made from gold and shaped like a crown). Believe me, I carried like 10kgs of jewelleries on my body plus maybe around 3kgs on my head. Headache all along those six pretty hours while we had to smile and take photos with the guests. 

The torturing ‘crown’…

So, due to reason number three, I promise I would never do wedding again 😄. I had enough. Just one wedding, forever and ever. Insha Allah.

Olah sampah di rumah

Niat untuk menerapkan olah sampah ramah lingkungan sudah ada sejak lama. Dulu, saat sekolah di Melbourne, memang sudah ‘terpaksa’ pilah sampah organik dan non organik, kemudian ditempatkan ke wadah berbeda juga. Kalau tong sampah bercampur, local council akan kirim surat teguran ke rumah. Males kan… Hehe. Kenyataannya, ga susah juga sih pilih-pilih sampah. Saya pun bukan yang tipe environmentalist kayak teman saya yang sampai mencuci bersih sampah anorganik seperti botol-botol bekas, baik plastik atau kaca. Keren yaaa… Kuliahnya di bidang lingkungan sih, harus begitu 😄.

Nah, sepulang sekolah, saya tinggal di rumah orangtua yang tidak menerapkan prinsip 3R dalam pengelolaan sampahnya. Agak susah yaa… Masa kita aja yang pilih-pilih terus ujung-ujungnya dicampur lagi. Haha, sebenarnya ini alasan 😚.

Kami baru mulai memilah sampah lagi saat sudah tinggal di rumah sendiri. Termasuk baru-baru ini kami mencoba membuat takakura untuk sampah organik rumah tangga. Jadi, di rumah, ada 3 wadah; takakura untuk sampah organik (sisa sayur, buah, nasi, sisa makanan), kardus untuk sampah anorganik (botol, kaca, kertas, plastik), dan tong sampah untuk sampah selain keduanya kayak sisa makanan atau sampah dapur dari hewan (tulang ikan, sisa pesiang udang, dll), tisu (hehe.. masih nakal nih).

Takakura, komposter sederhana. Cocok untuk keluarga kecil atau anak kos 😄

Wadah untuk sampah anorganik, akan diambil pengumpul sampah daur ulang.

Takakura sudah jelas ya, output nya kompos. Saat ini, takakura kita belum matang, masih diisi terus tiap hari dan baru setengah penuh. So far so good sih sepertinya. Bagian bawah keranjang cukup hangat yang menandakan terjadinya pengomposan. Sampah juga tidak bau, bau tanah biasa saja. Bagian atas agak berjamur, mungkin karena saya masukkan sampah nasi. Sudah saya aduk-aduk supaya lebih merata dan bercampur tanah lagi. Doakan semoga kompos saya bagus ya :D.

Salah satu referensi saya membuat takakura ada di blog ini. Banyak sih sebenarnya, termasuk video di YouTube kalau masih bingung sama penjelasan artikel. Agak beda dengan takakura yang di blog itu, takakura saya pakai kardus bukan plastik hitam. Trus, bantal sekam saya dimasukkan ke kantong kanvas tipis bekas, bukan tas jaring. Soalnya cukup susah cari tas jaring atau kain jaring disini. Jadi yasudahlah memanfaatkan yang ada di rumah saja. Yang penting fungsi bantal sekam bisa tetap optimal, yaitu menjaga kelembapan.

Mencari sekam juga susah-susah gampang disini. Saya tanya ke banyak tempat nursery tanaman, pada ga jual. Ke TPS 3R juga tidak ada. Akhirnya, kita jalan-jalan ke pabrik olah padi di daerah Lam Ateuk, ada sekam segunung bisa diambil gratis. Tentu kita hanya mengambil satu goni untuk stok. Itu pun belum habis sampai sekarang. Sekam, selain untuk bantal sekam bisa ditabur sesekali ke campuran sampah supaya tidak terlalu basah.

Prinsip keranjang takakura. Pics taken from here.

Kalau sampah anorganik, rencananya akan kita beri ke pengumpul sampah daur ulang. Paling dekat dengan rumah saya, ada pengumpul di Hutan Kota BNI atau di cluster pengumpul di daerah Baet, Kajhu. Kalau tinggal di daerah Ulee Lheue, ada TPS Lambung yang punya Bank Sampah. Idealnya sampah dibersihkan dulu ya, tapi kita belum nih. Next rubbish goal lah ya, haha…

Usaha kita mengolah sampah memang belum optimal. Secara kasar, 30% sampah rumah tangga kami masih berujung ke TPS karena tidak tahu mau diapakan. Plus, meskipun saya sudah menghindar penggunaan plastik dengan memakai recycle bag, masih ada saja plastik kecil-kecil bawaan dari belanjaan kecil-kecil yang ga terduga. Suami saya juga nih, masih ngeles kalau kita butuh plastik untuk buang sampah 😎😥. 

PR nih, mengurangi penggunaan plastik. 

Tapi, setidaknya kami sudah memulai. Saya ingin anak-anak saya nantinya sudah merubah paradigma pengelolaan sampah, yaa.. ada perbaikan lah di generasi mendatang. Manfaatnya juga lumayan. Tong sampah tidak bau. Kompos bisa untuk tanam-tanam (project selanjutnya ini, greening the house 😇).

Review: Bangkit

Nonton film baru rilis di Banda Aceh?

Iya dong :D.

Ntah bagaimana bentuk kerjasamanya, long story short, kami di Banda Aceh bisa juga menikmati film yang sedang diputar di bioskop. Ada dua film yang diputar di Sultan Selim II ACC, Bangkit dan I am Hope. Berhubung saya dan suami pasti ga bisa nonton siang, kami akhirnya menonton Bangkit yang diputar pukul 20.30 wib.

Harga tiket Rp. 20.000 per orang. Kami harus melalui jalan masuk terpisah karena akhwat dan ikhwan memang duduk di section kursi terpisah pula. Gimana rasanya nonton ga berduaan? Dulu, saya sering sih nonton sendirian di bioskop. Tapi, sejak nikah dan kebanyakan aktivitas yang sifatnya hiburan selalu dilakukan sama suami, nonton kali ini agak hampa…hehe. Abis, pas gatel ingin komen ga ada temen gosipnya.

Oke, kembali ke review film ya.

Likes
Saya suka dramanya. Pemainnya juga natural sekali aktingnya. Ga ada yang lebay lah. Kadang saya terbawa juga sama emosi pemainnya, pas kehilangan anak, pas rumahnya mau retak dan istrinya jatuh, dan terutama pas adegan istri Adri menyalahkan si anak kecil yang ditolong suaminya atas kematian putrinya.

Cerita seperti ini familiar, terutama karena Aceh juga pernah kena bencana. Walaupun pas tsunami 2004 saya masih tinggal di Malang, tapi keluarga besar saya merasakan bencana dan dampaknya. Cerita-cerita sedih dan mengharukan memang bagian dari bencana.

Dislikes
Efek CGI nya buruk sekali. Betul-betul buruk. Ada bis yang terlihat sekali seperti mainan melayang di jalan yang dikondisikan patah akibat gempa. Proses jalan patah itu juga mengerikan buruknya, haha… Meski ga seburuk film Satria Baja Hitam jaman saya SD dulu, tapi yaa hampir sebelas dua belas kayak film Naga di indosiar. Very very disappointing.

Ceritanya kurang masuk akal.
Masa Tim Basarnas Indonesia cuma 6 orang aja sih? Sampai-sampai Adri, diperankan oleh Vino Sebastian, harus turun ke lapangan ga peduli dia baru kehilangan anak dan istrinya dalam keadaan sangat tertekan. Yasudlah ya kalau memang urgent kekurangan personil, banjirnya juga parah. Tapi…agak lucu kalau dia juga harus turun penyelamatan pas abis terhuyung-huyung hampir kehilangan nyawa di saluran bawah tanah. Hadeuuhh… Ga ada orang lain apa?? Hampir mati gitu… Langsung kuat lagi buat nyelamatin orang. Unbelievable.

Ngomong-ngomong soal saluran bawah tanah yang dipakai untuk mengalihkan air, itu juga kok kayak kurang riset ya. Saya sendiri rasanya kurang percaya banjir rob yang debitnya luar biasa bisa dialihkan ke saluran yang lebarnya kecil begitu. Masalahnya air itu akibat Rob laut dengan tekanan luar biasa. Kalau cuma debit air karena curah hujan aja sih masuk akal ya. Udah gitu pas di mulut laut tempat buangan akhir saluran, airnya santai bangeeett, hahaha. Bukannya harusnya deras dengan air hasil buangan ya? Padahal, pas di rumahnya Adri aja, airnya deras kayak ombak menerjang gitu.

Overall, skala 1-10, saya terpaksa harus ngasih 4 aja. Ini film mediocre menurut saya. Akting keren pemainnya belum menutupi efek CGI yang buruk dan hal-hal yang menurut saya kurang masuk akal.

Maaf, pelit nilai…hehe.

Lancar…

Tadi shubuh, saya buru-buru keluar rumah buat ngantar mama ke bandara. Masih pakai baju tidur, ambil jubah hitam andalan dan hijab instan, menyambar handphone, masukin Karim yang sedang tidur ke mobil, langsung tancap gas. Flight si mama jam 6, tapi kita bangun pas adzan shubuh berkumandang, yaitu jam 5.20 sodara-sodara!! Jadinya… super kilat dah ga pake siap-siap langsung jalan. Kebetulan di rumah, kita tinggal bertiga. Ayah sedang ke Surabaya dan suami saya sedang dinas ke Lombok. Jadi lah harapan satu-satunya saya yang antar mama ke bandara, sambil bawa anak di pagi buta.

Alhamdulillah, ternyata mama masih bisa berangkat. Saya dan Karim bisa pulang.

Tiket parkir ada… tapi, yang ga ada itu dompet sayaaaa, hahaha… gimana coba bayar parkirnya? Uprek laci, kantong kursi, nemu seribu rupiah saja. Oh ya Allah… Karim juga sudah bangun, ikutan bilang, “ga ada duit kita”. πŸ™‚

Yasudlah, nyampe loket parkir, saya dengan memelas bilang bahwa saya kelupaan bawa dompet dan betul-betul hanya punya seribu.

Alhamdulillah lagi, yang jaga loket sambil senyum bilang gapapa. Saya langsung berterima kasih dan mendoakan agar rezekinya lancar, selalu dilindungi Allah SWT.

Karim… yang memang sedang dalam fase copycat turut berdoa.

“Kakak dilindungi Allah. Amien. Eeknya lancar. Amien”.

Hahahaha… kok eek??

Ini pasti karena beberapa hari ini pupup K sedang agak keras. Pas ngedan, saya selalu doain dia supaya pupup lancar.

Hadeuh… lancar dah pagi tadi, ketawa sama bocah copycat.

Birthday Season

Hubby’s bday is today.

K’s in 5 days.

Mine in two weeks.

We’ll be having no party..hehe. Maybe a lil celebration for K, just to remind him that 2 is a big number… that he is indeed a big boy now. That it is time to wean and to sleep separately πŸ™‚

We’re turning older. Hopefully, we’ll be wiser, smarter, and healthier, too. May Allah bless us. Amien.