Review: Bangkit

Nonton film baru rilis di Banda Aceh?

Iya dong :D.

Ntah bagaimana bentuk kerjasamanya, long story short, kami di Banda Aceh bisa juga menikmati film yang sedang diputar di bioskop. Ada dua film yang diputar di Sultan Selim II ACC, Bangkit dan I am Hope. Berhubung saya dan suami pasti ga bisa nonton siang, kami akhirnya menonton Bangkit yang diputar pukul 20.30 wib.

Harga tiket Rp. 20.000 per orang. Kami harus melalui jalan masuk terpisah karena akhwat dan ikhwan memang duduk di section kursi terpisah pula. Gimana rasanya nonton ga berduaan? Dulu, saya sering sih nonton sendirian di bioskop. Tapi, sejak nikah dan kebanyakan aktivitas yang sifatnya hiburan selalu dilakukan sama suami, nonton kali ini agak hampa…hehe. Abis, pas gatel ingin komen ga ada temen gosipnya.

Oke, kembali ke review film ya.

Likes
Saya suka dramanya. Pemainnya juga natural sekali aktingnya. Ga ada yang lebay lah. Kadang saya terbawa juga sama emosi pemainnya, pas kehilangan anak, pas rumahnya mau retak dan istrinya jatuh, dan terutama pas adegan istri Adri menyalahkan si anak kecil yang ditolong suaminya atas kematian putrinya.

Cerita seperti ini familiar, terutama karena Aceh juga pernah kena bencana. Walaupun pas tsunami 2004 saya masih tinggal di Malang, tapi keluarga besar saya merasakan bencana dan dampaknya. Cerita-cerita sedih dan mengharukan memang bagian dari bencana.

Dislikes
Efek CGI nya buruk sekali. Betul-betul buruk. Ada bis yang terlihat sekali seperti mainan melayang di jalan yang dikondisikan patah akibat gempa. Proses jalan patah itu juga mengerikan buruknya, haha… Meski ga seburuk film Satria Baja Hitam jaman saya SD dulu, tapi yaa hampir sebelas dua belas kayak film Naga di indosiar. Very very disappointing.

Ceritanya kurang masuk akal.
Masa Tim Basarnas Indonesia cuma 6 orang aja sih? Sampai-sampai Adri, diperankan oleh Vino Sebastian, harus turun ke lapangan ga peduli dia baru kehilangan anak dan istrinya dalam keadaan sangat tertekan. Yasudlah ya kalau memang urgent kekurangan personil, banjirnya juga parah. Tapi…agak lucu kalau dia juga harus turun penyelamatan pas abis terhuyung-huyung hampir kehilangan nyawa di saluran bawah tanah. Hadeuuhh… Ga ada orang lain apa?? Hampir mati gitu… Langsung kuat lagi buat nyelamatin orang. Unbelievable.

Ngomong-ngomong soal saluran bawah tanah yang dipakai untuk mengalihkan air, itu juga kok kayak kurang riset ya. Saya sendiri rasanya kurang percaya banjir rob yang debitnya luar biasa bisa dialihkan ke saluran yang lebarnya kecil begitu. Masalahnya air itu akibat Rob laut dengan tekanan luar biasa. Kalau cuma debit air karena curah hujan aja sih masuk akal ya. Udah gitu pas di mulut laut tempat buangan akhir saluran, airnya santai bangeeett, hahaha. Bukannya harusnya deras dengan air hasil buangan ya? Padahal, pas di rumahnya Adri aja, airnya deras kayak ombak menerjang gitu.

Overall, skala 1-10, saya terpaksa harus ngasih 4 aja. Ini film mediocre menurut saya. Akting keren pemainnya belum menutupi efek CGI yang buruk dan hal-hal yang menurut saya kurang masuk akal.

Maaf, pelit nilai…hehe.

Advertisements

Review: Sabtu bersama bapak.

Senin sore kemarin saya akhirnya nemu buku Aditya Mulya yang Sabtu Bersama Bapak di bazar buku Gramedia, Hermes Mal. Believe it or not, ini buku pertama yang saya beli dalam 2 tahun terakhir. Not a good record, tapi memang saya bawa banyak sekali buku sepulang sekolah dari Melbourne 4 tahun lalu. Jadi lah saya menyicil baca yang sudah ada dulu.

Anyway, saya selalu suka dengan tulisan Aditya Mulya. Saya follower blognya. Meski kadang tidak sepenuhnya in line dengan pandangannya, saya suka cara berpikir AM yang terstruktur, logis, dan mudah dimengerti. Soal parenting juga saya belajar banyak dari blog beliau.

Nah, buku ini pun khas AM sekali. Bahasanya, diksi, mirip dengan yang ada di blog. Bedanya, pendekatan AM tentu lebih personal di blog, misal dengan menyebut pengalaman saat dia bekerja, cerita anaknya, dll. Isi cerita pun sebenarnya sudah pernah menjadi materi blog. Novel Sabtu Bersama Bapak sepertinya menjadi pemersatu pikiran-pikiran AM soal parenting selama ini, dikemas dalam cerita keluarga Gunawan dan Itje. Eh, ga cuma parenting deng, tapi juga soal membangun keluarga, yang mana ada hubungan suami istri, orangtua anak, dan menantu mertua.

Yang saya suka lagi, unsur emosi dalam buku ini terekspresi dengan pas. Garingnya ada, lucu ada, yang bikin terharu juga ada.

Paling utama adalah pesan-pesan yang disampaikan. Betapa menjadi seorang bapak itu sangat berat, sebenarnya. Bapak yang penuh pertimbangan dan matang berencana. Maka, buku ini baik sekali dibaca oleh semua orang, utamanya calon bapak dan bapak. Semoga bisa belajar dari buku ini :). Eh, tapi ya, imho buku ini untuk 21+ karena ada bagian-bagian yang khusus dewasa, hehe.

Saya sendiri terinspirasi untuk merubah beberapa hal. Ingin menjadi lebih care dan spend time lebih banyak sama orangtua, mumpung ya dua orangtua saya masih ada. Ingin work out untuk suami, hehe. Tetap belajar terus supaya jadi anak, istri, dan ibu yang lebih baik. Baca buku ini saya jadi lebih bersyukur karena alhamdulillah dikasih Allah suami super baik, pengertian, dan paling penting, punya rencana untuk kami. Kalo selama ini saya cenderung demanding, semoga sekarang bisa berpikir sebaliknya, bahwa he’s actually the one who deserves a better me.

Overall, good read. Cerita biasa, pesannya luar biasa. Saya masih mau beli buku-buku AM lainnya.