#di rumah aja hari ke 15.

Wah.. sudah hari ke 15 aja ternyata sejak himbauan di rumah aja. Kondisi semakin mencekam sih, terutama karena sejak hari ini sudah berlaku darurat sipil. Warga dihimbau tidak ke luar rumah kecuali untuk hal-hal yang benar-benar perlu dan genting. Jam malam berlaku mulai 20.30-05.30 wib. Penderita positif covid19 di Banda Aceh pun semakin bertambah. Jadi ingat masa-masa darurat militer di Aceh dulu. Sama-sama cemas keluar rumah. Sama-sama terbatas pergerakan warga. Bedanya, dulu takut sama senjata. Hari ini, takut sama makhluk Allah super kecil bernama Corona. Subhanallah.

Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat. Karim sempat batuk pilek demam dan sakit tenggorokan di hari 1 himbauan social distancing berlaku. Duh, kali ini gejala begini bikin khawatir agak lebay dari biasanya. Huhuuu… Alhamdulillah, Karim sembuh dalam tiga hari, meski masih ada runny nose.

Jadi di rumah, ngapain aja?

Seperti biasa aja sih. Pagi-pagi, bikin sarapan. Trus, saya biasanya menyiapkan bahan kuliah daring. Jadwal mengajar saya hampir tiap hari juga, jadi masih cukup sibuk dengan urusan perkuliahan ini. Ini satu-satunya urusan yang masih membuat saya ingat hari, hehe. Jam 11 biasanya sudah selesai.

Sambil kerja, saya juga temani Karim belajar, gantian sama abinya. Saya lebih banyak beri worksheet berhitung dan latihan menulis. Kadang di kertas, kadang via education.com yang bisa sekalian main games. Nanti diselingi sama abi yang ajak olahraga dan berjemur, mandi, shalat dhuha, dan baca iqra’. Kalau saya tidak terlalu sibuk, kami belajar membaca tipis-tipis. Saya memang tidak paksa Karim harus bisa membaca sekarang. Tapi, minatnya untuk bisa baca cukup besar, jadi yaa memfasilitasi itu saja. Karim akan minta break nonton di HP. Syarat nonton adalah muraja’ah surah hafalan, jadi dia terpaksa mengulang hafalan tiap kali break, hehe.

Kemudian saya masak. Di rumah aja memang mengharuskan saya masak. Biasanya kalau sedang malas, kan tinggal beli ya. Sekarang, khawatir… Haha. Kami belanja stok bahan makanan untuk seminggu supaya mengurangi jadwal keluar. Alhamdulillah, sampai sekarang merasa cukup. Tapi memang kondisinya bikin cemas, barang-barang di swalayan yang sering kita datangi mulai menipis stoknya. Harga beberapa barang mulai naik.

Semoga cepat berlalu wabah ini, ya Allah. Kami tahu cobaanMu tidak akan melampaui batas kemampuan kami. Kami sabar 😢.

Kami juga jadi tidur lebih cepat sekarang. Setelah makan malam dan Isya, siap-siap tidur. Sesekali, nonton film. Sering kali, saya ikut tidur ketika menidurkan anak.

Besoknya?? Yaa begitu lagi, haha. Selingan kami, paling jalan-jalan di mobil aja. Untuk menghindari makan banyak akibat bosan dan minim kerjaan, haha… Sering-sering puasa aja. Insha Allah tidak tambah berat badan. Aamiiiinnn. 😁

KL trip. Hari ke-2.

Jadwal hari ini adalah ke dokter. Saya sudah janjian sebelumnya melalui email. Dokter akan datang jam 9.30am, jadi saya dan K siap-siap agak telat. Kita baru sarapan jam 9. Lagi pula, tempatnya di depan mata kan.

Saya sarapan ayam sisa Nando’s semalam.. hehe. K sarapan Western platter di Old Town White Coffee yang emang ada di bawah hotel ini. Lepas sarapan, nyari money changer. Ternyata, toko-toko di sini tuh baru buka jam 10am. Rate tukar uang juga baru update jam 11, jadi kalau perlu pagi buta, mending tukar sore deh. Kami pun akhirnya langsung ke RS dan re-registrasi.

Saya dapat giliran nomor 3. Sebagai referensi, saya konsultasi dengan dr. Marlik Abu. Lulusan UK dan AUS. Obgyn ini direkomendasi housemate saya yang cukup lama tinggal di Kuala Lumpur. Adik saya juga berobat sama dokter ini. Orangnya super ramah, suka bercanda. Karena ini kali pertama, pertanyaan riwayat kesehatan keluarga cukup banyak, meski sebagian catatannya sudah ada di record adik saya.

Hasilnya, alhamdulillah cukup baik, meski hormon saya harus diseimbangkan. Diagnosisnya PCOS. Gara-gara ini, jerawat saya banyak (padahal saya ga jerawatan dari dulu, bahkan pas masa puber mulus), mens berlangsung lama (selalu lebih 10 Hari), berat badan gampang naik meski saya exercise rutin lari 3x seminggu. Yaa, meski harus diet karbo sih, hahaha. Tapi PCOS ini sedikit banyak mempengaruhi metabolisme tubuh saya. Terutama jadi salah satu sebab saya sulit hamil. Saya dikasih pil hormon untuk 3 bulan. Harus kurangin karbo dan makan banyak serat. Berat badan saya sebaiknya 55-57kg. Sekarang 63kg 😂. Baiklah dok… Akan kuusahakan.

Biaya pengobatan di KL memang relatif lebih mahal dibandingkan Penang. Tapi kalau ditotal sama tiket pesawat sih sama saja. Ongkos pesawat ke Penang bisa 2x lipat lebih mahal. Apalagi kalau perginya sekeluarga, hihi… Biaya konsultasi sama dokter, RM 160. Plus obat-obatan untuk 3 bulan dan tes darah, totalnya RM 918. Please note KPJ Ampang Putri ini bukan RS mahal. Biaya akan lebih besar di RS kayak Gleaneagles, Pantai, Sunway, dll. Saya puas sih, semua diagnosis berdasar dan insha Allah ini salah satu ikhtiar untuk lebih sehat. Alhamdulillah kalau diberi rezeki adek bayi 😊.

Oya, satu hal yang saya baru tahu, exchange rate di bank negara asal lebih baik. Saya tukar duit ratenya 3700an, tapi kalau gesek via VISA bisa 3500an. Lebih untung kan… Dan gesek kartu tuh ga ada biaya tambahan. Beda kalau withdrawal via ATM, kena fee 20 ribu per penarikan (bank Muamalat). Jadi, kalau belanja saya selalu gesek kecuali belanja yang harus bayar tunai.

Beres dari RS, kami ke Aquaria KLCC. Entertaining the toddler lah. Lihat hiu, ikan-ikan… Bagus deh. K senang, alhamdulillah. Dia juga ga cranky dan pengertian. Laaaff pokoknya. Imho, aquaria jauh lebih oke daripada Sea World Jakarta. Sea tunnelnya lebih panjang dan variasi fauna lebih banyak. Tapi harga foto yang dijual mahal amat. Masa satu foto 45 ringgit. Anda pikir, budgeted traveller kayak kita mau bayar hampir 150ribu perak buat foto doang?? 😅😅. Moonmaap ya, bisa beli kaos Padini 3 pieces tuh. Hihiii…

Saya beli tiket masuk Aquaria via Traveloka. Jauh lebih murah loh, bahkan lebih murah dari rate orang lokal. Harusnya foreigner bayar RM 65 untuk dewasa, di Traveloka cuma 151rbu-an yang mana kira-kira 40an ringgit. Tapi, cek ricek juga ya. Soalnya saya cek tiket untuk Zoo Negara, harganya beda tipis, bahkan bisa lebih mahal kalau nilai tukar sedang ga bagus 😁. Kalau mau murah memang harus research lah dikit.

Kelar lihat ikan, makan siang di KLCC trus pulang ke hotel. Istirahat bentar… Jalan ke Ampang Point, nyari makan malam dan ketemu beberapa basic needs yang mure mure meriah 😊. K beli robot, as always. Kubiarkan saja demi ga cranky selama perjalanan ini 😁.

Demikian Hari ke-2. Markidur. 😴😴

KL trip. Hari ke-1.

Setelah skip health screening tahun lalu, awal tahun ini kita putuskan ke Kuala Lumpur untuk check up.

Fokus utama adalah cek fertilitas karena kami belum hamil sejak masa ASI lewat, yang berarti sudah 3 tahun. Kami ingin pastikan bahwa kondisi rahim dan kesehatan saya baik-baik saja. Begitu juga dengan suami. Plus, keluhan kesehatan tambah banyak 😂. Terutama kita berdua sepertinya kena maag akut. Saya sudah dua kali ke IGD kena serangan maag, malam-malam buta pula. Duh, sakit paling ga nahan nih kalo ga berdaya pasca muntah akibat asam lambung naik.

Anyway, rencana tinggal rencana. Udah konfirmasi tiket, bikin janji sama dokter, browsing hotel, suami tiba-tiba harus ke Jakarta. Yasudlah, daripada reschedule harganya selangit dan ga refundable secara dapat AirAsia lowfare 😁, akhirnya saya berangkat sama anak muda 5 tahun yang Masha Allah pengertian sekali selama perjalanan.

Sementara suami duluan terbang, saya harus set strategi supaya K ga bete dibangunin pagi-pagi. Kalo dia cranky, bisa-bisa mood ga bagus seharian. Packing sudah selesai malam sebelum berangkat. Pagi, saya hanya membereskan rumah, shalat shubuh, email yang penting-penting, siap-siap. K hanya ganti baju dan lap-lap pake tisu basah, haha. Dia ga mau mandi soalnya. Yasudahlah ya.. daripada…..

Tiba di bandara jam 7.10. Pas lah untuk check in dan imigrasi. K juga langsung bangun dan ga rewel sama sekali. Cuma minta minum dan mulai lapar. Kami memang sudah siap dengan bekal susu, roti, dan biskuit sih. All good.

Take off on time. Kita menempati tiga seats satu row. Yeay…tapi seharusnya jatah abi :-(. Beda dengan perjalanan K sebelumnya, kali ini nanyanya lebih banyak. Kenapa awan ga jatuh-jatuh. Kenapa pesawat ga punya baling-baling tapi bisa terbang. Kenapa ada duri-duri (asumsi saya anti petir) di sayap pesawat. Kenapa kita menembus awan dan ga ketabrak. Kenapa dan kenapa lainnya. 😅😅. Alhamdulillah, meski susah mau jawab apa, karena harus memilih jawaban yang pas kan dalam bahasa yang mudah dipahami, saya berusaha jawab. Bersyukur juga proses berpikir K berjalan. Normal.

Pertanyaan-pertanyaan lanjut sampai sekarang, terutama karena dia lihat banyak perbedaan cara berpakaian di sini. Kami memang selalu inform K kalau aurat harus ditutup, sesuai ajaran Islam. Malu jika aurat terbuka. Nah, di sini memang lebih diverse ya orang-orangnya. Ada yang pakai sari, hot pants, baju terbuka bahu, dll… Hehe. K sudah pernah ke Jakarta dan Medan juga beberapa kali, tapi memang sekarang fasenya dia lebih banyak berpikir. Maka pertanyaan keluar sekarang.

Bunda, kenapa kok belakang ibu tu terbuka? Aurat ga boleh terlihat kan?

Mana suara K tu tipenya besar gitu… 🙄

Iya, aurat ga boleh terbuka untuk kita. Tapi, pakaian orang beda-beda. Ada yang ditutup semua, ada yang enggak.

Dia terima sih, walaupun pas lihat tipe yang lain, nanya lagi. Memang waktu yang tepat untuk mengajarkan perbedaan. Semoga saya ga salah mengarahkan. Saya ingin K bertoleransi, tapi tetap tahu bahwa koridor yang benar hanya di jalan Islam.

Anyway, dari KLIA kita ke KL sentral naik bis. Di bandara, saya sempat tukar duit, yang mana ga recommended ya, haha. Saya sih tukar dikit untuk makan siang dan naik bis, plus beli paket data di KL Sentral. Trus naik grab ke Ampang. Total naik 3 moda hari ini. K merasa perjalanan jauh sekali, haha. K sempat ketiduran di bis, tapi langsung on begitu sampai di KL Sentral. Ga pake minta gendong, ga pake rewel. Padahal, biasanya dia harus dikelonin dulu bangun tidur dan mewek.

Kami pilih menginap di Ampang, pas di depan hospital yang dituju, KPJ Ampang Putri. Kawasannya cukup oke sih, banyak tempat makan. Ada bank dan money changer. Convenient store juga banyak. Ga aneh-aneh juga, haha. Beda dengan kawasan KL Sentral ya, banyak yang aneh orang-orangnya di Brickfields tuh.

Istirahat di hotel, malamnya saya dan K makan malam di Nando’s yang cuma 20 meter dari hotel. Finally!! Hahaha. Saya selalu kangen Nando’s, tempat favorit sama teman-teman kalo lagi stress assignments jaman kuliah di Melbourne. Kalo di Melbourne, Nando’s ini makanan murahan. Kalo di sini, kayaknya tergolong agak pricey.

Kami sempat ke Ampang Point di belakang hotel juga. Tapi ga interesting sih, jadi cuma lihat-lihat sebentar, beli susu K, dan pulang.

Tidur.

Rekap pengeluaran hari ini.

  1. Makan siang di KLIA 17.05
  2. Bis KLIA-KL sentral 18.00 (dewasa 12, anak 6).
  3. Paket data 30.00 (digi 1,5gb untuk 7 hari plus bonus 1gb/hari untuk jam 1pm-7pm, telpon gratis 20 menit ke Indo).
  4. Grab 19.50 (KL sentral-Ampang, tol 2.50).
  5. Deposit hotel 50.00 (bisa diambil lagi pas checkout).
  6. Tax turis 20.00 (10/malam)
  7. Nando’s 32.90
  8. Snacks 13.75

Desember

Whoaaa udah Desember aja. Tahun ini, selain ngajar, ada 5 project yang lumayan bikin pusing. Three down, two more to go. Huhuuuu.. perasaan lemburan terus tapi ga kelar-kelar. Sementara nilai mahasiswa belum disetor-setor.

Tiap tahun tuh selalu bikin resolusi tahun depan ga mau ambil kerjaan banyak, mau fokus sama anak, mau ikut banyak pengajian, dan yasudahlah switch ke dunia penelitian aja. Tapi nyatanya, ku tak bisa menolak. Mostly bukan soal duitnya, tapi tantangannya. Kayak ngerjain RDTR, saya mau karena jarang-jarang bisa dapat kerjaan RDTR. Trus ditawarin RTR ekowisata. Itu juga menarik karena menangani langsung kawasan ekosistem Leuser. Diajakin mendampingi Rancangan Qanun, mau juga karena pengalaman pertama pegang Naskah Akademis. Sebenarnya sudah membatasi 3 aja. Tapi, belakangan kampus pun demanding, studi kerjasama dengan instansi pemerintah pun ku terkena getahnya. Bukan cuma satu, tapi dua dan tiga. Hiks… Kasihan Karim. Kadang-kadang bobok ga ketemu ketek. Plus dimarahin kalo emaknya lagi bete telat keluar pagi gara-gara bangun kesiangan.

Yah, tiada solusi selain bersyukur. Orang lain mungkin susah cari sumber rezeki. Sambil mengucap syukur alhamdulillah, mari kita selesaikan kerjaan ini satu-satu. Sebelum Desember berakhir.

CPNS

Lagi musim kan ya. Siapa yang ikutan daftar juga??

👆👆👆👆

Iya… saya juga. Satu, saya memang sudah mulai mengajar di unsyiah. Saya pikir tak ada salahnya merubah status dari non pns ke pns. Menurut banyak orang, status pns lebih secured. Dua, orangtua saya, meski tak pernah memaksa, ingin sekali saya jadi dosen pns. Memang tidak pernah bilang secara langsung tapi saya selalu didorong mendaftar setiap kali musim open recruitment CPNS.

Total tiga kali saya ikut berpartisipasi. Hihiii… Banyak juga ya.

Pertama, daftar formasi PU pemprov Aceh sebagai ahli perencanaan wilayah dan kota. Gagal!!

Kedua, daftar formasi dosen unsyiah prodi PWK. Saya lolos SKD dan SKB tp berakhir gagal juga di akhir.

Ketiga, daftar lagi di formasi yang sama dengan yang kedua. Kali ini, TIU 105, TWK 120, dan TKP 139. Anak mudanya TKP, hehe. Saya gagal lagi!!

Kasian amat gagal melulu… Hahaha. Kalo dulu saya pernah senang bisa hattrick dapat H1 hampir tiap semester, kali ini hattrick gagal CPNS.

Bukan… Bukan begitu.

Kalo suami saya bilang, unsyiah itu ga rezeki dapat saya 😁😁. Atau dibalik, bukan rezeki saya di unsyiah. Rezeki saya di tempat lain, atau bisa saja di unsyiah dengan status berbeda. Jadi yaa.. saya sih bersyukur saja.

Pertama kali gagal jadi PNS, saya sempat kecewa. Menganggap saya kurang pintar, masa tes begitu bisa tidak lewat? Orang sekitar saya pun begitu. Kurang belajar, kali. Kurang latihan. Dan lain-lain.

Tapi… Kalo dipikir-pikir ya, tes SKD itu sendiri ga mencerminkan kepintaran dan keunggulan kok. Kalo mau adu pintar ya sesuai bidang lah. Terutama TKPnya, kita dipaksa memakai baju orang lain untuk memilih jawaban dengan skor tinggi. Padahal, siapa yang bisa jamin skor TKP tinggi berkorelasi dengan pegawai berintegritas?

Jadi, kawan… Lulus ga lulus cpns itu cuma masalah rezeki, kok. Bukan karena bodoh atau tidak mampu. Anda lihat sendiri, ga semua PNS ternyata lebih pintar, meski dulu lolos SKD 😁. Eh, moonmaap kalo salah kata yaa… Rezekinya saja memang disana.

Waktu… Untuk siapa?

Dalam rangka rajin ngeblog, saya usahain tulis apa saja yang sedang terpikir di kepala. Hehe…

Sabtu lalu adalah hari terakhir saya dan kawan-kawan calon asesor mengikuti pelatihan sekaligus uji kompetensi asesor. Hari itu, kami diuji satu per satu, sampai dapat dinyatakan kompeten. Saya sendiri merasa cukup repot, harus merevisi beberapa tugas, sampai akhirnya dinyatakan kompeten. Alhamdulillah.

Qadarullah saya dapat giliran pertama sekali dan akhirnya harus menunggu kawan-kawan lain diuji. Bayangkan, kami ber-40 diuji oleh 4 asesor secara bergantian, sesuai bidang masing-masing. Huh… Hek (lelah) deh. Nah, judul hari ini muncul akibat percakapan yang kami bahas selama menunggu teman-teman lain dalam proses uji kompetensi. Percakapan antara saya dan si master asesor yang menguji saya tadi, selepas menguji semua calon asesor bidang Perencanaan Wilayah dan Kota.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan saya sudah sangat keberatan menunggu. FYI, pelatihan sudah berlangsung sejak 6 hari sebelumnya dan selalu selesai pasca maghrib, bahkan Isya. Jadi, kalau sabtu ini saya pulang malam lagi, anak saya pasti kecewa berat. Akhirnya, saya memberanikan diri minta izin ke penguji dan panitia untuk tidak menunggu kawan-kawan yang masih diuji. Toh, saya menunggu hanya untuk penutupan.

Panitia oke saja, asal penguji setuju. Menghadaplah saya ke si bapak. Kemudian, keluar lah nasihat… Hehe.

Saya hanya di rumah selama 3-4 jam saja. Selebihnya dedikasi saya di luar rumah.

Ga protes Pak, orang rumahnya?

Yaaa.. mungkin protes. Tapi ga berani bilang. Pekerjaan saya memang menuntut begitu. Bla bla…

Mmhhh… sila kalau bapak berdedikasi hingga tak punya waktu untuk orang yang mencintai bapak sepenuh hati. Saya sih ga mau begitu Pak. Tentu yang ini dalam hati saja ya 😁.

Saya sih menghargai ya waktu si bapak untuk pekerjaannya. Tapi… Apa iya kita sampai harus mengorbankan waktu untuk keluarga? Bukankah keluarga tempat kita kembali? Kalau meninggal, emang yang ngurusin jenazah kita orang kantor? Kalo sakit, emang yang repot orang kantor?

Banyak orang, termasuk si bapak, berpikir waktu liburan nanti lah yang akan menjadi family time.

Nah, kalo liburan, Saya ga boleh diganggu.

Oke Pak. Sila deh begitu. Saya ga mau kayak bapak… Ini juga dalam hati, wakakaka.

Untuk situasi emergency, saya pun sering meninggalkan keluarga. Tapi, ga selalu. Kalau ngikutin kerjaan, kapan habisnya? Ga habis-habis kan.

Akhirnya, setelah bercakap-cakap basa basi, saya memutuskan untuk tidak minta persetujuan siapa-siapa lagi. Saya menelepon suami untuk jemput. Pelan-pelan saya melipir ke belakang, bawa tas, turun ke basement dan pulang bersama suami dan anak. Jam 11 malam, kami sudah tidur bertiga. Bahagia.

Sementara, penutupan acara uji kompetensi asesor tadi baru berlangsung pukul 1 dini hari. Terbayang, jika tetap bertahan, saya pasti menggerutu kesal. Menunggu yang tidak perlu. Sayangnya, menunggu macam itu disebut dedikasi, bagian dari attitude yang diharapkan dalam bekerja. Padahal, tidak on time itu indikasi kinerja kurang efisien ga sih?

Duh.. kalau begitu, mohon maaf… Tak jadi asesor pun tak apa.

Waktu saya mahal. Bukan untuk kerja.

Mentor

Saya melihat kecenderungan anak-anak muda sekarang berpikir lebih strategis.

Dulu… Selesai kuliah, fresh graduate melamar kerja, memulai pekerjaan dari yang remeh hingga mencapai posisi baik dan sangat baik. Jadi tukang foto kopi dan bikinin kopi buat staf-staf juga boleh, sambil unjuk bakat agar cepat naik pangkat. Hehe… Ya begitu lah. Berjenjang.

Sekarang… Jika mau cepat meroket, cari saja mentor. Mentor yang sudah punya nama, tentunya. Jadi asisten sang mentor, pegang-pegang tasnya, mengerjakan tugas remehnya, sering-sering beri masukan bagus dan cerdas saat berdiskusi. Mentor biasanya membimbing kita dengan lebih baik dibanding bekerja di dalam organisasi yang sistemnya lebih kompleks. Bonusnya, jejaring sang mentor tentu menjadi jejaring kita juga. Ya kan? Rekomendasi dari sang mentor pasti menjadi penting bagi kita.

Beberapa teman saya mengamalkan jurus mencari mentor. Terbukti berhasil. Dibanding saya yang memulai praktek sebagai urban planner tak ber’mentor’ dari nol… alias dari level desa, beberapa desa, sampai bisa dikenal di level provinsi… teman-teman saya yang ‘ikut’ sang mentor relatif lebih cepat karirnya. Setahun saja pegang-pegang tas Pak mentor, langsung dapat posisi officer dan direkom menjadi dosen. Doi tentu tak perlu menjadi fasilitator desa bertahun-tahun, langsung bisa menjadi speaker di level provinsi.

Cerdas? Pasti… Selain takdir Allah, anda tentu harus cerdas untuk dapat ikut seseorang yang akan kita sebut ‘mentor’. Tak mungkin mentor memilih asisten hanya berbekal ‘ini anak temen saya’, hehe…

Minim pengalaman? Ga juga loh… Ikut mentor justru memperkaya pengalaman. Pengalaman yang berbeda pastinya dengan mereka yang memulai dari bawah. Eits.. jadi asisten kan juga mulai dari bawah ya.

Maka… Jika mau cepat meroket, cari mentor saja 😀.

Rezeki umrah.

Tahun lalu saya sempat nulis postingan ini. Bahwa tempat pertama yang wajib saya datangi kalau punya duit adalah Mekkah di Arab Saudi.

Allah memang maha baik. Akhir Februari lalu, saya dan suami diberi rezeki bisa umrah ke tanah suci 😅. Alhamdulillah. Pengalaman ini juga bikin saya percaya sekali rezeki itu memang sudah diatur sama Allah. Kalau dipikir-pikir, pendapatan kami berdua sepertinya sama aja kayak tahun sebelumnya. Malah, awal tahun ini suami harus bersabar tertunda gaji karena anggaran daerah belum disahkan (sampai sekarang, hehe). Tapi bonus dari Allah datang tahun ini. Ini memang panggilan, jadi kita yakin saja rezeki di masa mendatang itu sudah dijamin sama Allah asal percaya dan mau usaha. Mau tunda sampai gajian juga (agar lebih secure), kalo dipanggil sekarang dan dimudahkan, ya alhamdulillah kan 😁. Kalo kata Karim, anak saya, alhamdulillah tak henti-henti.

Semoga rezeki ini bisa kami balas dengan lebih taat kepadaNya. Amien ya Rabbal’alamin.

2017, mengajar.

2017. Tahun pertama saya mengajar di Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota, Unsyiah. 

Ini pengalaman baru bagi saya karena selain harus banyak meng-update ilmu, saya juga harus belajar soal metode dan pendekatan mengajar untuk mahasiswa. Tentu berbeda kan ya, mendidik siswa sekolah dan mahasiswa. Menurut saya, mereka butuh fasilitator saja dalam mencari ilmu. Tapi, seiring perjalanan mengajar, ternyata mereka perlu banyak ‘disuapi’ juga agar tidak melenceng, hehe.

Saya masih belajar menjadi guru. Mencari pendekatan-pendekatan agar mahasiswa saya tidak ngantuk, agar mereka terpicu untuk berpikir dan beropini, bukan sekedar menghafal definisi. 

Semoga 2018 saya ber-progress menjadi guru yang lebih mumpuni. Amien.

2017, memilah sampah.

2017. Tahun pertama saya memilah sampah di rumah, sekaligus mencoba composting dengan metode takakura. Konsisten? Tidak, hehe. Saya punya satu keranjang takakura yang disiapkan dengan susah payah. Sempat cukup rajin juga merawat takakura agar tak berbelatung, membuat cairan mol, menjaga kelembapannya dengan menabur sekam, dll. Tapi seiring sibuk yang cukup menyita waktu, akhirnya begitu takakura penuh, saya beralih ke biopori. 

Biopori jauh lebih mudah. Tinggal melubangi tanah sedalam kira-kita 60-100cm, kemudian masukkan sampah organik ke dalam lubang. Tutup dengan daun-daun kering agar tidak bau. Saya juga menabur tanah/sekam agar tidak berlalat. Sampai sekarang, kami punya tiga lubang biopori yang lestari, hehe. Lestari ini maksudnya berkelanjutan karena bisa digunakan terus menerus. Dalam jangka waktu satu bulan saja, lubang yang tadinya penuh bisa diisi kembali. Tanah di lubang juga mulai menghitam, pertanda cukup subur dan sampah berubah menjadi kompos.

So far, saya happy dengan proses memilah dan mengelola sampah di rumah, meski masih terbatas sampah organik. Minimal, saya ikut mereduksi sampah yang harus dibawa ke landfill dan turut memperpanjang umur TPA. Jika produksi sampah rumah tangga per hari itu 4 kg dan 3 kg diantaranya adalah sampah organik, at least kami sudah mengurangi 90 kg sampah organik per bulan. Wow… Dipikir-pikir, langkah kecil ini baik juga ya. Apalagi kalau dilakukan banyak rumah tangga. Pasti jumlahnya menjadi sangat significant. Sayangnya, kami belum mulai melakukan benchmarking pengelolaan sampah ini. Seharusnya jika ingin melihat progress dan menentukan target tertentu, benchmarking menjadi dasar yang baik.

Nah, tantangannya tinggal sampah anorganik. Terus terang, usaha kami minim sekali dalam hal ini. Kami punya reusable bags untuk berbelanja, untuk belanja dapur dan belanja groceries. Agak sedikit gampang menolak plastik saat grocery shopping, tapi tidak untuk belanja dapur… 😂😂😂. Tas daur ulang saya secara dominan hanya menjadi tempat menampung belanjaan kecil-kecil yang sudah ditaruh di dalam plastik kecil-kecil juga 😂. Belum lagi kalau saya belanja spontan dan lupa bawa tas belanja. Terpaksa pakai plastik lagi. Akhirnya, plastik masih banyak tersimpan di laci dapur kami. 

Tantangan lainnya adalah tempat pembuangan sampah anorganik. Usaha memilah sampah belum didukung oleh pemerintah kota yang secara sembarangan masih mengumpulkan sampah tak pandang jenis. Semua terhambur menjadi satu, organik, anorganik, bahkan sampah berbahaya seperti bekas baterai, dan lainnya. Sedangkan kami tak konsisten juga mengantar sampah anorganik ke tempat pengumpulannya. Akhirnya, memang masih bergantung pada pengumpul sampah kota. Yah, minimal sampah kami memudahkan pemulung ketika memilih sampah.

Meski banyak tantangan, yang mana dapat diselesaikan secara bertahap dan inkremental, hehe… di tahun 2018 ini, kami tetap ingin meneruskan aksi pilah sampah di rumah ini. Meneruskan composting dengan biopori dan takakura, Serta bisa diet plastik lebih ketat. Tentu, niat saya tahun ini bisa melakukan benchmarking sampah. Setidaknya menjadi data eksisting produksi sampah rumah tangga kami.