Review: Bangkit

Nonton film baru rilis di Banda Aceh?

Iya dong :D.

Ntah bagaimana bentuk kerjasamanya, long story short, kami di Banda Aceh bisa juga menikmati film yang sedang diputar di bioskop. Ada dua film yang diputar di Sultan Selim II ACC, Bangkit dan I am Hope. Berhubung saya dan suami pasti ga bisa nonton siang, kami akhirnya menonton Bangkit yang diputar pukul 20.30 wib.

Harga tiket Rp. 20.000 per orang. Kami harus melalui jalan masuk terpisah karena akhwat dan ikhwan memang duduk di section kursi terpisah pula. Gimana rasanya nonton ga berduaan? Dulu, saya sering sih nonton sendirian di bioskop. Tapi, sejak nikah dan kebanyakan aktivitas yang sifatnya hiburan selalu dilakukan sama suami, nonton kali ini agak hampa…hehe. Abis, pas gatel ingin komen ga ada temen gosipnya.

Oke, kembali ke review film ya.

Likes
Saya suka dramanya. Pemainnya juga natural sekali aktingnya. Ga ada yang lebay lah. Kadang saya terbawa juga sama emosi pemainnya, pas kehilangan anak, pas rumahnya mau retak dan istrinya jatuh, dan terutama pas adegan istri Adri menyalahkan si anak kecil yang ditolong suaminya atas kematian putrinya.

Cerita seperti ini familiar, terutama karena Aceh juga pernah kena bencana. Walaupun pas tsunami 2004 saya masih tinggal di Malang, tapi keluarga besar saya merasakan bencana dan dampaknya. Cerita-cerita sedih dan mengharukan memang bagian dari bencana.

Dislikes
Efek CGI nya buruk sekali. Betul-betul buruk. Ada bis yang terlihat sekali seperti mainan melayang di jalan yang dikondisikan patah akibat gempa. Proses jalan patah itu juga mengerikan buruknya, haha… Meski ga seburuk film Satria Baja Hitam jaman saya SD dulu, tapi yaa hampir sebelas dua belas kayak film Naga di indosiar. Very very disappointing.

Ceritanya kurang masuk akal.
Masa Tim Basarnas Indonesia cuma 6 orang aja sih? Sampai-sampai Adri, diperankan oleh Vino Sebastian, harus turun ke lapangan ga peduli dia baru kehilangan anak dan istrinya dalam keadaan sangat tertekan. Yasudlah ya kalau memang urgent kekurangan personil, banjirnya juga parah. Tapi…agak lucu kalau dia juga harus turun penyelamatan pas abis terhuyung-huyung hampir kehilangan nyawa di saluran bawah tanah. Hadeuuhh… Ga ada orang lain apa?? Hampir mati gitu… Langsung kuat lagi buat nyelamatin orang. Unbelievable.

Ngomong-ngomong soal saluran bawah tanah yang dipakai untuk mengalihkan air, itu juga kok kayak kurang riset ya. Saya sendiri rasanya kurang percaya banjir rob yang debitnya luar biasa bisa dialihkan ke saluran yang lebarnya kecil begitu. Masalahnya air itu akibat Rob laut dengan tekanan luar biasa. Kalau cuma debit air karena curah hujan aja sih masuk akal ya. Udah gitu pas di mulut laut tempat buangan akhir saluran, airnya santai bangeeett, hahaha. Bukannya harusnya deras dengan air hasil buangan ya? Padahal, pas di rumahnya Adri aja, airnya deras kayak ombak menerjang gitu.

Overall, skala 1-10, saya terpaksa harus ngasih 4 aja. Ini film mediocre menurut saya. Akting keren pemainnya belum menutupi efek CGI yang buruk dan hal-hal yang menurut saya kurang masuk akal.

Maaf, pelit nilai…hehe.

Advertisements

Minggu ini…

Minggu ini.

Senaaangg… 😀

Abi sudah pulang ke rumah. Suami sholeh dapat rezeki umrah gratis selama 10 hari. Setelah tinggal berdua dan merindukan abi, kami kembali menjadi trio kwek-kwek 🙂

Senang lagi karena bocah udah sembuh dari diare.

Emang paling ga enak tuh kalau anak lagi sakit ya.

K mulai ga enak minggu pagi lalu. Ga mau makan, tidur melulu, lemasnya minta ampun, muntah, demam ringan. Karena muntah mulu, saya kasih vometa 30 menit sebelum makan. Muntah berhenti tapi demam naik terus malam itu. Akhirnya ngasih paracetamol juga karena sudah diatas 37,5˚c. Lemeesss anaknya, hiks. Saya curiga dia pupupnya keras dan ga bisa keluar, bingung juga mau diapain. Makan kates, semangka, ga mempan.

Dari rekomendasi apoteker, ayah saya beliin liprolac. Yasud, minumlah bocah. Kira-kira 30 menit kemudian… pupup. Alhamdulillah. Saya pikir kelar urusan. Ternyata, sepertinya K bukan konstipasi tapi diare. Syukur juga dikasih liprolac ya, karena memang untuk menyehatkan pencernaan bukan untuk mencairkan pupup. Hasil browsingan, liprolac bisa dipakai untuk diare maupun konstipasi. Isinya lactobacillus, bakteri baik untuk menyeimbangkan kondisi saluran cerna.

Setelah 7 hari, diare K stop. Alhamdulillah.

Buat bunda-bunda yang bingung kalo anak diare, berikut tips dari dokter anak kita, dr. Raihan, SpA. Kita ke dsa karena khawatir sudah 4 hari kok K belum berhenti diare. Ternyata, kalo diare karena virus, biasanya bisa berlangsung sampai 7 hari.

Terapi diare itu ada 5:
1. Kasih lactobacillus, merknya bisa liprolac atau lactoba. Bakteri baik ini bantu menyehatkan saluran cerna. Perlu diingat, anak diare berarti sedang merespon virus atau bakteri yang ada di tubuhnya. Maka, biarin aja keluar. Ga perlu diberi pengeras pupup atau diberhentikan. Note banget ini buat suami saya yang bawaannya mau beli obat stop diare aja, hehe..
2. Jaga jangan sampai dehidrasi. Karena diare, perlu mengganti cairan yang hilang kan. Air putih ga cukup. Bisa kasih oralit, renalyt, atau pedialyt. K ga mau oralit, jadi kita ngasihnya pedialyt yang ada rasanya. Kasih ini tiap habis pup. K saya kasih 110 cc tiap habis pup.
3. Zinckids atau interzinc, pokoknya zinc lah. Ini untuk bantu penyembuhan usus yang luka atau terganggu akibat diare. K minum 10ml dalam sehari.
4. Minim serat. Kalau bisa tanpa serat. No buah kecuali pisang. No sayur sama sekali. Tadinya saya pikir sayuran hijau saja yang dilarang, ternyata K makan wortel aja langsung memicu diare lagi. Makanan lain boleh, terutama BRATY.. yaitu banana, rice, applesauce, toast, yoghurt. Kalo diare yasud makan ini aja.
5. Jaga kebersihan. Make sure tangan bersih setelah cebok. Both tangan anak dan ibu. Soalnya bisa jadi kalau kumannya menyebar, masuk lagi ke anak… ga sembuh-sembuh jadinya.

Begitu.

Senang versi emak-emak cukup sederhana memang. Asal ada suami sebagai partner bisa disuruh-suruh ngapa-ngapain, anak sehat walafiat… bahagia deh :D.

Tentang transportasi kota banda aceh

Baca-baca berita di koran soal rencana Trans Kutaraja, pembangunan fly over Simpang Surabaya, under pass Beurawe-Kuta Alam… bikin saya agak kecewa. Menurut saya pemkot kita tidak punya prinsip dalam membangun sistem transportasi kota.

Mau pengembangan sistem transportasi publik yang terintegrasi dan berkelanjutan?? Atau pengembangan jaringan jalan raya yang hanya berfungsi mengurai volume kendaraan?? Saya tidak menulis mengurai kemacetan karena Banda Aceh dalam pandangan saya tidak macet-macet amat. Hanya ada tundaan pada jam-jam puncak, selebihnya aman-aman lah. Tundaan pun rasanya terjadi lebih karena behaviour pengguna kendaraan yang tidak tertib. Ya ga??

Kita tahu bahwa anggaran dana pembangunan sangat terbatas. Harus ada prioritas yang didahulukan. Saya pikir, kalau berniat serius dengan opsi satu, maka opsi dua tidak perlu dijalankan, karena dua rencana ini tidak saling mendukung.

Mari kita cermati ala-ala pengamat sok tau 😀

Sebelum memberi solusi, pemkot biasanya membuat kajian dulu. Biasanya termasuk menghitung proyeksi pertumbuhan kendaraan yang memang pesat. Tahun 2011 masih 174.859 unit. Tahun 2014 sudah 200.069 unit. Berarti kira-kira tiap tahun tumbuh rata-rata 3,15%. Lumayan ini… ekonomi Aceh aja cuma tumbuh 2,67% di triwulan II tahun 2015. Sedih amat yaa. Banyaknya kendaraan ini tentu berkontribusi terhadap tundaan-tundaan lalu lintas, angka kecelakaan tinggi, dan emisi karbon tinggi. Nah, pemkot harus bikin solusi.

Solusi satu: Tambah volume jalan alternatif.

Ini solusi betul-betul klasik. Jalan sudah tidak bisa menampung kendaraan, kita harus tambah jalan. Macet di Sp. Surabaya bunda Illi… oke, bangun fly over disana. Macet di Beurawe bundaaaa… sippp, bangun under pass ya. Nah, kalau begini, sampai kapan kita harus menambah jalan? Apakah ada batas maksimalnya? Kalau ada, bagaimana menghitung thresholdnya? Saya masih setuju dan sama sekali tidak menentang rencana perluasan jalan atau pengembangan jalan baru ya, karena dalam konteks Banda Aceh, rasanya masih perlu. Yang saya tidak setuju, penambahan volume untuk jalan alternatif seperti pembangunan fly over dan underpass tadi.

Pengalaman di banyak negara, hampir semua proyek pengembangan jalan alternatif membawa sedikit sekali manfaat. Jalan baru mungkin akan bikin perjalanan jadi lebih cepat, tapi seringkali tidak signifikan dalam menjadikan produktivitas kota meningkat. Kenapa?? Penelitian Metz (2008), Cervero (2011), dan Low (2012) bilang waktu lebih yang dihasilkan dari jalan baru itu tidak lebih dari 15 menit. Kalau 264 milyar (ini anggaran untuk bangun jembatan kita) dihabiskan untuk kita-kita supaya sampai lebih cepat 15 menit, apakah sepadan? Belum lagi urusan pembebasan lahan yang melelahkan. Hanya demi mengakomodir manusia-manusia Banda Aceh yang sangat produktif ini cepat sampai ke tempat kerjaan, sehingga ekonomi kota meningkat? Kalau lah tujuannya tempat kerja, kalau buat ngupi-ngupi aja? Ngapain lah cepat-cepat? Hehe… Lebih baik rasanya membuat manusia-manusia ini bersiap-siap lebih cepat 15 menit, sehingga bisa mengantisipasi tundaan yang mungkin terjadi di jalan. Cervero (2011) juga bilang bahwa di US, pengembangan jalan alternatif berkorelasi terhadap 40% penambahan jumlah kendaraan. Ga lama-lama, biasanya bisa terlihat dalam 1-3 tahun sejak investasi terhadap jalan tersebut dilakukan. Istilahnya, induced traffic, dimana pengalihan volume kendaraan sebenarnya mendorong terjadinya pertumbuhan kendaraan lebih banyak. Di Jakarta pun begitu. Volume jalan di Jakarta sudah sangat luas, hampir semua jalan punya jalur alternatif untuk mengurai macet. Koridor jalan pun meluas hingga ke pinggir kota. Tapi, apakah pernah lihat Jakarta tidak macet? Ehhh… belakangan, solusi Jakarta ternyata bukan tambah jalan, tapi sistem transportasi umum yang terintegrasi, efektif dan efisien. Betul ga?

For any urban contexts, the highly congested areas and less congested areas, or the developed and the developing cities, the road network will never deliver the goal to enhance travel speeds in order to reduce travel time.

Solusi dua: Trans Kutaraja.

Oke… biar bunda dapat penghargaan lagi, bikin angkutan umum lah. Lagipula, rupanya ini program nasional, bro. Bis-bis dapat dari pusat (baca disini http://aceh.tribunnews.com/2016/01/06/bus-trans-koetaradja-tunggu-diserahkan-presiden) Boleh lah…

Tapi, kita harus apresiasi. Ini harus dijalankan dengan serius karena dilihat dari sudut pandang mana pun, opsi ini lebih sesuai dengan prinsip transportasi berkelanjutan. Lebih ramah lingkungan karena satu moda dapat mengangkut lebih banyak orang, sehingga emisi karbon yang dikeluarkan tentu ditanggung bersama. Kemudian, keberadaan angkutan umum terutama memenuhi indikator berkeadilan sosial. Jika penambahan luasan jalan, misal melalui fly over maupun underpass, hanya mengurai kemacetan ke jalur alternatif baru dan bisa jadi hanya dinikmati oleh pemilik kendaraan pribadi, angkutan umum yang efektif dan efisien akan memberikan aksesibilitas lebih baik pada lebih banyak kalangan masyarakat. Terdapat kelompok penduduk rentan yang mempunyai keterbatasan mobilitas, seperti kelompok difabel, kelompok anak dan perempuan, dan masyarakat miskin, yang sangat membutuhkan keberadaan sarana transportasi publik.

Terutama bagi perkotaan Banda Aceh (meliputi seluruh wilayah administrasi kota Banda Aceh dan beberapa kecamatan di Aceh Besar yang menjadi penyangga kawasan perkotaan), dengan proporsi penduduk miskin mencapai 25% dari jumlah rumah tangga yang ada, keterbatasan akses transportasi publik mengurangi kelompok rentan ini dalam mendapatkan pelayanan sosial dan kesempatan kerja. Penting untuk menjadi catatan bahwa meskipun rasio kendaraan pribadi dan jumlah populasi di perkotaan Banda Aceh mencapai 1,3:1 (rata-rata 1 KK bisa mempunyai 1 kendaraan bermotor), BPS menyebutkan 80 persen dari kendaraan tersebut adalah sepeda motor, yang mempunyai kapasitas penumpang terbatas. Bagi kebanyakan kelompok keluarga miskin di Aceh yang memiliki sepeda motor, secara tradisi dan peran gendernya dalam rumah tangga, laki-laki biasanya menjadi pengguna utama kendaraan yang dimiliki. Dengan kata lain, perempuan biasanya menjadi kelompok yang lebih terpinggir dan bergantung pada keberadaan angkutan umum. Padahal, perempuan biasanya bertugas untuk belanja keperluan rumah tangga serta mengantar dan menjemput anak sekolah. Mobilitas perempuan, terutama pada kelompok keluarga miskin, akan menjadi sangat terbatas dengan keterbatasan layanan angkutan umum.

Kok semakin serius tulisan ini ya?? Saya perlu mengurai ini karena banyak sekali komentar, Trans Kutaraja untuk siapa? Yaa… setidaknya untuk kelompok rentan ini.

Anyway, imho angkutan umum memang mutlak harus disediakan oleh pemerintah, karena mobilitas erat kaitannya dengan produktivitas ekonomi penduduk. Bank Dunia di tahun 2008 pernah melaporkan bahwa karakteristik utama kemiskinan di Aceh berhubungan dengan rendahnya aksesibilitas dalam mendapatkan pelayanan publik dan pekerjaan, antara lain rendahnya tingkat pendidikan akibat biaya transportasi tinggi untuk mencapai sarana pendidikan dan banyaknya rumah tangga yang masih bergantung pada pekerjaan di sektor pertanian karena keterbatasan akses untuk mencapai lokasi pekerjaan lainnya. Belum lagi jika menimbang kebutuhan kelompok penduduk rentan lainnya, seperti kelompok difabel, anak-anak dan lansia, yang jelas-jelas sangat terbatas pergerakannya. Jika bertujuan menyediakan sarana perkotaan yang berkeadilan sosial, tentu kebutuhan-kebutuhan kelompok penduduk ini harus pula terinklusi pada sistem transportasi publik kita.

Jadi… opsi satu atau dua?? Tidak bisa dua-duanya!!

Karena anggaran yang diperlukan untuk transportasi umum yang baik itu besar. Rencana pengembangan sistem transportasi umum (Trans Kutaraja) harus dilakukan secara menyeluruh. Seperti yang kita baca di berbagai media, banyak sekali rekomendasi dan pekerjaan rumah untuk pemkot yang disuarakan warga untuk mewujudkan Trans Kutaraja yang lebih baik. Penataan parkir, evaluasi dan pengawasan garis sempadan bangunan, moda dan infrastruktur pendukung bis yang lebih ramah difabel, optimalisasi rute layanan, integrasi bus dan labi-labi, dan lain-lain. Tentu semua ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saya sih berpikir 264 milyar bisa dialihkan untuk mendukung rencana transportasi kota yang lebih efektif dan efisien, berkeadilan bagi semua. Pemenuhan kriteria utama transportasi berkelanjutan: ramah lingkungan; aman dan nyaman; berkeadilan sosial; dan mendukung konektivitas dengan moda angkutan lainnya, sudah seharusnya menjadi bagian dari rencana jangka menengah pembangunan kota.

Jika angkutan umum bagus, rasanya pengendara pun akan beralih moda transportasi. Tujuan awal menekan angka pertumbuhan kendaraan dapat tercapai.

Tentang pengemis

 

Kemarin, saat melintas simpang BPKP Lampineng, saya lihat seorang ibu dengan dua anak mengemis di jalan. Sebenarnya sudah cukup sering saya melihat gerombolan pengemis ini. Saya pun sudah membiasakan diri tidak memberi sedekah kepada orang-orang seperti ini. Bukan bermaksud pelit, tapi mereka MALAS. Diamankan di Dinas Sosial pasti kabur, diberi pelatihan ina inu juga tidak berhasil, karena mindsetnya sudah pemalas. Lebih enak mengemis. Mudah dan lumayan hasilnya. Sayangnya, anak yang dibawa si ibu pengemis pun bukan anak sendiri.

Nah, hari ini kebetulan lampu merah masih agak lama. Saya perhatikan dari kaca spion tingkah pengemis. Kalau si ibu sih saya ga kasihan. Tapi anak-anak ini… terbayang wajah anak sendiri, apa jadinya kalau saya bawa-bawa dia mengemis di jalan :(. Panas, berdebu, penuh resiko… ya Allah, ga tega rasanya. Mana si ibu menggendong balita kira-kira 3 tahun dan membawa satu bocah kira-kira 5 atau 6 tahun. Saya perhatikan anak-anak itu, mereka sedang makan coklat sambil pegang plastik berisi uang. Lusuh. Rasanya saya ingin ambil yang masih balita dan bawa pulang.

Yang saya tahu, pengemis ini bersindikat. Mereka punya big boss yang mengatur lokasi dan menggaji pengemis-pengemis dibawah koordinasinya. Yang bikin heran, itu anak siapa ya? dapat darimana? kok ibunya tega? atau tidak tahu? kalau tidak tahu, pasti melapor anak hilang kan ya? mengapa tidak dicari? yaa.. kalau dicari insya Allah dapat kok, anaknya dibawa di jalan yang hampir semua orang lewat gitu. Saya tidak habis pikir dengan kejamnya manusia seperti ini. Si big boss, si pengemis, si orangtua anak… huh…

Pulangnya saya cerita ke suami. Kira-kira bagaimana jalan keluarnya ya? Kok pemerintah kota seakan tidak berbuat apa-apa. Padahal ada Satpol PP dan Wilayatul Hisbah yang bisa menertibkan mereka dan membawa ke tempat penampungan sementara untuk dibina. Suami saya bilang… pengemis masa kini ga bisa ditertibkan. Yaaitu, mindset PEMALAS susah sekali diubah. Menurut suami, yang anak-anak boleh dibina di tempat penampungan dinas sosial agar mereka punya bekal hidup. Kalau bisa sampai selesai pendidikan dasar 12 tahun. Pun, selama ini mereka mengemis diajak. Si ibu… PENJARAKAN!! Biar kapok… minimal 3 bulan supaya ingat kalau kelak mengemis lagi akan masuk bui. Tapi… kapan ya satpol PP dan WH bisa rajin menertibkan? Mereka cuma interest dengan PKL, razia jilboobs, dan pasangan indehoy sepertinya… hahaha…

Sorenya, saya dan suami jalan-jalan sore. Seperti biasa jalan-jalan berujung dengan makan-makan :). Eh, ada pengemis perempuan bongkok dan jalan dengan posisi seperti (maaf) hewan berkaki empat. Kayaknya ada masalah dengan tulang dan daging tumbuh di bagian perut hingga pahanya. Nah, saya selalu iba kalau pengemis yang seperti ini. Saya pikir, orang ini sakit, mungkin memang tidak ada cara lain mencari nafkah.

Tapi… di perjalanan pulang, saya lihat si ibu bongkok ternyata dong bisa duduk, lagi boncengan sama suaminya. Saya berasumsi suami karena si ibu peluk si bapak dari belakang. Mungkin dalam perjalanan pulang juga. Kami sempat mengikuti dari belakang, penasaran rumahnya kayak apa, hehe. Yaa… mungkin walaupun ga sakit seperti yang diperlihatkan saat mengemis, si ibu memang orang ga punya. Eh, tapi naik motor ya? Trus ada suaminya yang sehat walafiat? Suami macam apa ya yang tega menyuruh istri mengemis? :'(. Rumahnya biasa aja sih, tipe rumah bantuan tsunami di daerah Kuala. Nah, kalau pengemis model begini diapakan ya baiknya?

 

Himbauan untuk pemilik Cane Mamak

Postingan ini saya tulis di note facebook beberapa minggu lalu. Sepertinya harus ditransfer kesini untuk dokumentasi. Siapa tau saya mau ikut boikot facebook karena membela Israel, hehe.

Sungguh tidak menyenangkan pengalaman berbuka puasa di Cane Mamak Pango, Banda Aceh. Tanda “Dilarang Merokok” yang tergantung manis di bagian depan restoran ini ternyata hanya pajangan. Mungkin tidak berpengaruh besar kepada sebagian besar para tamu yang biasa (atau pasrah) terhadap paparan asap rokok, tapi bagi saya cukup signifikan karena saya dan teman-teman membawa anak kecil. Apalagi, memang, keputusan melakukan reservasi tempat di Cane Mamak untuk berbuka puasa didasari pertimbangan adanya tanda larangan merokok tersebut.

Selasa, 22 Juli 2014, saya dan teman-teman berbuka puasa di Cane Mamak cabang Pango. Kami duduk di bagian dalam restoran, beberapa meter dari dinding yang terpampang tanda “Dilarang Merokok”. Meja kami berisi 11 orang, 7 dewasa dan 4 anak kecil berumur 6 tahun kebawah. Tepat setelah sirene berbunyi, sekelompok anak muda yang duduk di seberang meja mulai menyalakan rokok. Pilihan yang aneh menurut logika, karena mereka memilih berbuka dengan racun. Saya tidak tau darimana rombongan ini berasal, yang jelas walaupun bergaya mahasiswa, saya pikir mereka bukan anak kuliahan. Mahasiswa pasti cukup berpendidikan dan beradab untuk mengerti tanda larangan merokok. Mahasiswa pasti menghormati hak-hak orang lain, terutama dengan keberadaan anak kecil disekitarnya, untuk tidak terpapar racun asap rokok. Mahasiswa pasti cukup memahami dan akan memperbaiki sikap atas teguran positif untuk dirinya. Mahasiswa pasti sadar bahwa hak individual untuk menghisap rokok dibatasi dengan hak orang lain yang tidak ingin terkena dampak buruk asap. Betul kan para mahasiswa?

Saya menegur sekumpulan anak muda ini, memperingatkan bahwa saya membawa bayi. Saya tidak hendak melarang mereka merokok. Namun sila keluar untuk menghormati hak orang lain. Beberapa pemuda yang pengertian, mematikan rokoknya. Na?? Sebagian besar lainnya (rombongan ini berjumlah kira-kira 15 orang) mengepul asap rokok, tak henti-henti hingga saya harus membawa bayi saya keluar dan masuk ke dalam mobil. Berkali-kali saya menegur mereka, dari nada suara rendah hingga tinggi. Tidak digubris juga, saya melapor pada pelayan. Langkah ini sia-sia, karena pelayan tidak berani menegur tamu. Akhirnya saya menghadap manajer restoran. Dari sini saya tahu bahwa tanda larangan di dinding hanya pajangan. Manajer tidak berani bertindak dengan alasan pengunjung mereka memang kebanyakan anak muda yang tidak mungkin dilarang merokok. Jika saya ingin bebas rokok, manajer merekomendasikan saya pergi ke Cane Mamak cabang Seutui, yang menyediakan ruangan khusus. Saya mempertanyakan tanda larangan merokok yang tergantung disana. Manajer mengatakan tetap tidak bisa bertindak. Saya kemudian mundur, berpikir bahwa mungkin manajer restoran juga tidak pernah menjadi mahasiswa sehingga ia tidak punya karakter mahasiswa yang saya sebutkan diatas.

Maka, melalui surat pembaca ini, saya menghimbau pemilik Cane Mamak untuk turunkan saja tanda larangan yang anda buat sebagai pajangan itu. Sebagai orang yang pernah menjadi mahasiswa, dua kali lulus, saya mengartikan tanda larangan sebagai peraturan. Apalagi ada peraturan walikota tentang kawasan tanpa rokok (KTR) nomor 47 tahun 2011, dimana ruangan umum tertutup termasuk dalam KTR. Kalau tidak paham, peraturan ini merupakan lanjutan dari PP 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan dan UU nomor 36 tahun 2009. Memang dekor ruangan restoran anda menjadi terlihat manis dan mengundang ibu-ibu seperti saya untuk berkunjung. Tapi tidak baik ah menjadi PHP alias pemberi harapan palsu. Apalagi, anda bisa saya tuntut jika menjadi PHP seperti ini.

Salam,
Issana Burhan
Seorang ibu beradab. Banda Aceh.

PS: Surat ini saya kirim ke redaksi Serambi Indonesia pagi tadi. Berhubung ga yakin akan dimuat atau engga, yasudahlah yaa… minimal lewat facebook, hehe. Kalo ada yang bisa nge-tag pemiliknya lebih baik lagi. Memang beliau target pembaca surat ini. Terima kasih.