Selamat datang 2020

Tiap tahun harapannya masih sama: journaling di blog ini. Haha.

Kita coba lagi ya.

Milestone tahun lalu yang cukup penting dan jadi hal yang harus ditindaklanjuti tahun ini adalah:

1. Status CPNS.

Pernah cerita disini, saya ga lulus pns untuk ketiga kalinya. Ternyata Allah menakdirkan lain. Itung-itungan kelulusan direvisi, haha. Jadi lah saya lulus dan secara resmi jadi ASN di Universitas Syiah Kuala, tempat saya mengabdi sejak 2017 lalu.

Status ini bikin ribet sebenarnya. Gaji lebih sedikit tapi komitmen lebih besar, sangat terikat. Kalau dulu, sebagai dosen tetap non PNS, saya masih bebas freelancing kemana-mana sih.

Yaa.. tapi rezeki sudah diatur. Alhamdulillah semua dicukupkan Allah.

2. Acid reflux akut

Wah, kalo soal ini. Tahun 2019 adalah tahun tersering masuk IGD, bahkan rawat inap. Sedikit salah makan, langsung kambuh. Rasanya sakiiiiit dan tersiksa sekali, subhanallah. Tiap kambuh saya harus masuk IGD deh. Pernah kambuhnya tiap bulan πŸ˜‚.

Saya juga sih nakal ya. Kalau sudah sembuh, merasa jumawa, trus makan lagi tuh macam-macam rupa.

Kambuhnya asam lambung ini biasanya memang terjadi kalau saya terlalu banyak makan dan makannya terlalu beragam dalam waktu yang berdekatan. Misal, pas lebaran. Makan lontong lah, rendang, ayam. Trus ke rumah saudara disuguhin beda lagi, seperti mie kocok 😍. Dua hari bertahan, hari ketiga mual muntah mulai konsumsi obat, hari keempat cuss masuk IGD. Duhh…

Paling parah, saya pernah pingsan di kamar mandi setiabudi one, sesaat setelah muntah gara-gara makan mango sticky rice.

Sekarang saya lebih jaga makan, konsumsi kunyit jahe setiap hari. Semoga istiqamah. Tahun 2020 ini, semoga saya ga perlu masuk IGD, apalagi rawat inap. Lebih sehat jiwa dan raga.

3. Lulus beasiswa

Akhirnyaaaa… Awal September lalu dapat notifikasi offer Australia Awards Scholarship (AAS). Alhamdulillah.

Sesungguhnya ikut tes AAS waktu itu dilema. Pas saya dipanggil wawancara, keluarga kami sedang dicoba dengan kabar penyakit mematikan yang diduga diderita salah satu anggota keluarga. Kalau sakit berat begitu, pasti butuh support yang besar pula. Rasanya, ga tepat waktunya kalau saya sekolah lagi. Tapi, suami dukung saya, bilang harus tetap ikut wawancara. Saya tahu bahwa dia yang paling butuh saya saat itu 😒. Ingat-ingat ini, perasaan saya campur aduk. Walaupun, pada akhirnya kami menerima kabar sangat baik, bahwa dugaan penyakit tidak benar. Allah cuma menegur kami sebentar, supaya selalu ingat bahwa nikmat sehat itu bisa saja dalam sekejap diambil olehNya.

Anyway, long story short, awal September saya sudah ikut pre departure training di Jakarta selama 7 minggu plus 2 minggu persiapan khusus awardee PhD. Seharusnya saya berangkat Januari ini, tapi berhubung belum prajabatan jadi insha Allah akan berangkat Juni nanti. Semoga lancar dan mudah ya. Karim akan ikut saya ke Perth. Abi rencananya akan bolak-balik saja Jakarta-Perth yang alhamdulillah ga mahal-mahal amat tiketnya πŸ˜„. Perjalanan 2020 insha Allah akan banyak diisi dengan cerita soal sekolah.

4. LDR

Agustus 2019, suami pindah tempat kerja ke Jakarta. Keputusan ini juga termasuk major decision keluarga kita. Memang penghasilan akan jauh lebih besar, but at the expense of being faraway from family, psikologis anak laki-laki tanpa dampingan ayah sehari-hari, dll.

Saya sudah jelas ga bisa ikut karena status CPNS πŸ˜‚.

Akhirnya, kita pasrah dan berdoa. Pertimbangan utamanya, kalau pindah ke Jakarta akan membantu proses pengobatan (waktu itu masih proses validasi penyakit), karena akses ke dokter ahli yang mumpuni lebih besar. Seiring waktu, qadarullah, ternyata saya lulus beasiswa juga. Jakarta-Perth jauh lebih menguntungkan dibanding Banda Aceh-Perth.

So, we took the chance. Kami LDR. Alhamdulillah, ada saja berkah Allah untuk memudahkan kami. Kayak training dua bulan penuh di Jakarta yang mendekatkan kita. Bisa bawa anak juga. Trus suami dapat tanggung jawab untuk membawahi koordinasi kantor wilayah Aceh, jadi bisa pulang cukup sering.

Tahun 2020 kami berdoa agar selalu bisa menjaga pandangan dari hal-hal yang mendekatkan pada maksiat dan dimudahkan Allah dalam menjalani LDR.

Overall, I am thankful for the wonderful 2019, for all the lessons learned and opportunities. Hopefully 2020 will bring more barakah to our family, closer to Allah. Amien.

KL trip. Hari ke-3.

Hari ini ke kebun binatang Zoo Negara Malaysia. Abis sarapan, sekitar jam 10an lah kami nge-grab ke Zoo. Pilihan moda paling praktis kalau bawa anak memang taxi atau grab sih ya. Walaupun K sebenarnya cukup kooperatif untuk naik angkutan umum tapi yasudahlah dekat ini. Saya ga cari tahu juga cara menuju zoo via angkum. Biaya grab dari Ampang ke Zoo 10 ringgit.

Alhamdulillah sekali kami dikasih tiket masuk harga lokal loh 😊. Padahal ga pake bohong, saya cuma ngomong pakai logat Malaysia bilang 1 adult 1 budak. Eh, dibilangin RM 59 (43 dewasa, 16 anak). Saya tentu tidak menolak dong. Lumayan sekali ini, harga untuk orang asing tuh RM 61 dewasa dan RM 33 anak.

Jalan-jalan di zoo. Cukup oke tempatnya, bersih, variasi binatang banyak, teduh juga. Ada panda segala 🐼🐼. Tapi sepertinya zoo ini lagi renovasi. Beberapa spot dilarang masuk dan bagian akuarium tampak ga terawat.

K kali ini memang lebih banyak tanya. Dulu pas kita ke Taman Safari, dia menikmati saja tanpa banyak berpikir. Ya iyalah, masih 3 tahun. Sekarang, dia mulai beropini.

Kenapa binatang-binatang dipenjara? Apakah mereka bikin sesuatu yang jahat? Kenapa ada taman kelelawar, kan mereka berkeliaran malam hari? Emang tempat ini buka malam? Kenapa semua binatang tidur dan malas di sini? Apa karena mereka di penjara?

Seru lah pertanyaan si Karim. Kadang-kadang bingung jawabnya. Dia mungkin membandingkan kondisi zoo dengan apa yang dia lihat di Taman Safari atau NatGeo Wild. Lagi pula, kebanyakan satwa di sana nocturnal kan. Jadi, yaa siang itu lagi pada malas, haha. Apalagi makanan sudah tersedia. Tidak ada alasan untuk bergerak.

Saya senang juga K banyak tanya, yang berarti proses kognitif mulai berjalan. Dia juga mulai baca angka-angka dan hitung-hitung. Misal lagi ngantri, hitung berapa jumlah orang yang ada di depan. Atau hitung jumlah binatang.

Kami makan siang di sana. Saya lihat ada restoran tapi ga mampir karena ga tertarik dengan penampakannya. Jadi, kami makan nugget dan fries saja, beli di salah satu booth makanan dekat pintu masuk. Kemudian, menuju akuarium, tempat penguin dan lokasi animal show.

Akuarium, konsepnya bagus sebenarnya. Tapi kondisi kurang terawat. Banyak akuarium kosong dan agak kotor. Bentuknya semacam gua gitu, K sedikit takut kalau pas ada suara-suara. Penguin… Uhm, saya sih kasihan ya lihat penguin di kaca gitu dengan tempat yang sempit πŸ˜‚. Basically zoo isn’t the right place for animals sih. It’s so far from their natural habitat.

Puas jalan-jalan di zoo, kami nge-grab lagi pulang ke hotel. K ketiduran dari naik mobil, sambung di hotel sampai jam 6 sore. Kami baru makan malam jam 8 di kawasan Ampang Point lagi. Sambil beli oleh-oleh juga sedikit. Besok tinggal pulang.

Kalau mau beli oleh-oleh semacam coklat, milo, cemilan-cemilan yang Malaysian gitu sebaiknya memang di super market. Jauh lebih murah daripada di toko kayak Famous Amos gitu. Apalagi kalau di bandara, meski berjudul duty free, imho harga oleh-oleh paling mahal di sana. Di super market biasanya juga banyak penawaran paket murah, terutama kalau sedang musim selebrasi kayak imlek sekarang.

Meski cuma ke satu tempat, hari ini sungguh melelahkan. Tidur cepat, besok pulang.

KL trip. Hari ke-2.

Jadwal hari ini adalah ke dokter. Saya sudah janjian sebelumnya melalui email. Dokter akan datang jam 9.30am, jadi saya dan K siap-siap agak telat. Kita baru sarapan jam 9. Lagi pula, tempatnya di depan mata kan.

Saya sarapan ayam sisa Nando’s semalam.. hehe. K sarapan Western platter di Old Town White Coffee yang emang ada di bawah hotel ini. Lepas sarapan, nyari money changer. Ternyata, toko-toko di sini tuh baru buka jam 10am. Rate tukar uang juga baru update jam 11, jadi kalau perlu pagi buta, mending tukar sore deh. Kami pun akhirnya langsung ke RS dan re-registrasi.

Saya dapat giliran nomor 3. Sebagai referensi, saya konsultasi dengan dr. Marlik Abu. Lulusan UK dan AUS. Obgyn ini direkomendasi housemate saya yang cukup lama tinggal di Kuala Lumpur. Adik saya juga berobat sama dokter ini. Orangnya super ramah, suka bercanda. Karena ini kali pertama, pertanyaan riwayat kesehatan keluarga cukup banyak, meski sebagian catatannya sudah ada di record adik saya.

Hasilnya, alhamdulillah cukup baik, meski hormon saya harus diseimbangkan. Diagnosisnya PCOS. Gara-gara ini, jerawat saya banyak (padahal saya ga jerawatan dari dulu, bahkan pas masa puber mulus), mens berlangsung lama (selalu lebih 10 Hari), berat badan gampang naik meski saya exercise rutin lari 3x seminggu. Yaa, meski harus diet karbo sih, hahaha. Tapi PCOS ini sedikit banyak mempengaruhi metabolisme tubuh saya. Terutama jadi salah satu sebab saya sulit hamil. Saya dikasih pil hormon untuk 3 bulan. Harus kurangin karbo dan makan banyak serat. Berat badan saya sebaiknya 55-57kg. Sekarang 63kg πŸ˜‚. Baiklah dok… Akan kuusahakan.

Biaya pengobatan di KL memang relatif lebih mahal dibandingkan Penang. Tapi kalau ditotal sama tiket pesawat sih sama saja. Ongkos pesawat ke Penang bisa 2x lipat lebih mahal. Apalagi kalau perginya sekeluarga, hihi… Biaya konsultasi sama dokter, RM 160. Plus obat-obatan untuk 3 bulan dan tes darah, totalnya RM 918. Please note KPJ Ampang Putri ini bukan RS mahal. Biaya akan lebih besar di RS kayak Gleaneagles, Pantai, Sunway, dll. Saya puas sih, semua diagnosis berdasar dan insha Allah ini salah satu ikhtiar untuk lebih sehat. Alhamdulillah kalau diberi rezeki adek bayi 😊.

Oya, satu hal yang saya baru tahu, exchange rate di bank negara asal lebih baik. Saya tukar duit ratenya 3700an, tapi kalau gesek via VISA bisa 3500an. Lebih untung kan… Dan gesek kartu tuh ga ada biaya tambahan. Beda kalau withdrawal via ATM, kena fee 20 ribu per penarikan (bank Muamalat). Jadi, kalau belanja saya selalu gesek kecuali belanja yang harus bayar tunai.

Beres dari RS, kami ke Aquaria KLCC. Entertaining the toddler lah. Lihat hiu, ikan-ikan… Bagus deh. K senang, alhamdulillah. Dia juga ga cranky dan pengertian. Laaaff pokoknya. Imho, aquaria jauh lebih oke daripada Sea World Jakarta. Sea tunnelnya lebih panjang dan variasi fauna lebih banyak. Tapi harga foto yang dijual mahal amat. Masa satu foto 45 ringgit. Anda pikir, budgeted traveller kayak kita mau bayar hampir 150ribu perak buat foto doang?? πŸ˜…πŸ˜…. Moonmaap ya, bisa beli kaos Padini 3 pieces tuh. Hihiii…

Saya beli tiket masuk Aquaria via Traveloka. Jauh lebih murah loh, bahkan lebih murah dari rate orang lokal. Harusnya foreigner bayar RM 65 untuk dewasa, di Traveloka cuma 151rbu-an yang mana kira-kira 40an ringgit. Tapi, cek ricek juga ya. Soalnya saya cek tiket untuk Zoo Negara, harganya beda tipis, bahkan bisa lebih mahal kalau nilai tukar sedang ga bagus 😁. Kalau mau murah memang harus research lah dikit.

Kelar lihat ikan, makan siang di KLCC trus pulang ke hotel. Istirahat bentar… Jalan ke Ampang Point, nyari makan malam dan ketemu beberapa basic needs yang mure mure meriah 😊. K beli robot, as always. Kubiarkan saja demi ga cranky selama perjalanan ini 😁.

Demikian Hari ke-2. Markidur. 😴😴

KL trip. Hari ke-1.

Setelah skip health screening tahun lalu, awal tahun ini kita putuskan ke Kuala Lumpur untuk check up.

Fokus utama adalah cek fertilitas karena kami belum hamil sejak masa ASI lewat, yang berarti sudah 3 tahun. Kami ingin pastikan bahwa kondisi rahim dan kesehatan saya baik-baik saja. Begitu juga dengan suami. Plus, keluhan kesehatan tambah banyak πŸ˜‚. Terutama kita berdua sepertinya kena maag akut. Saya sudah dua kali ke IGD kena serangan maag, malam-malam buta pula. Duh, sakit paling ga nahan nih kalo ga berdaya pasca muntah akibat asam lambung naik.

Anyway, rencana tinggal rencana. Udah konfirmasi tiket, bikin janji sama dokter, browsing hotel, suami tiba-tiba harus ke Jakarta. Yasudlah, daripada reschedule harganya selangit dan ga refundable secara dapat AirAsia lowfare 😁, akhirnya saya berangkat sama anak muda 5 tahun yang Masha Allah pengertian sekali selama perjalanan.

Sementara suami duluan terbang, saya harus set strategi supaya K ga bete dibangunin pagi-pagi. Kalo dia cranky, bisa-bisa mood ga bagus seharian. Packing sudah selesai malam sebelum berangkat. Pagi, saya hanya membereskan rumah, shalat shubuh, email yang penting-penting, siap-siap. K hanya ganti baju dan lap-lap pake tisu basah, haha. Dia ga mau mandi soalnya. Yasudahlah ya.. daripada…..

Tiba di bandara jam 7.10. Pas lah untuk check in dan imigrasi. K juga langsung bangun dan ga rewel sama sekali. Cuma minta minum dan mulai lapar. Kami memang sudah siap dengan bekal susu, roti, dan biskuit sih. All good.

Take off on time. Kita menempati tiga seats satu row. Yeay…tapi seharusnya jatah abi :-(. Beda dengan perjalanan K sebelumnya, kali ini nanyanya lebih banyak. Kenapa awan ga jatuh-jatuh. Kenapa pesawat ga punya baling-baling tapi bisa terbang. Kenapa ada duri-duri (asumsi saya anti petir) di sayap pesawat. Kenapa kita menembus awan dan ga ketabrak. Kenapa dan kenapa lainnya. πŸ˜…πŸ˜…. Alhamdulillah, meski susah mau jawab apa, karena harus memilih jawaban yang pas kan dalam bahasa yang mudah dipahami, saya berusaha jawab. Bersyukur juga proses berpikir K berjalan. Normal.

Pertanyaan-pertanyaan lanjut sampai sekarang, terutama karena dia lihat banyak perbedaan cara berpakaian di sini. Kami memang selalu inform K kalau aurat harus ditutup, sesuai ajaran Islam. Malu jika aurat terbuka. Nah, di sini memang lebih diverse ya orang-orangnya. Ada yang pakai sari, hot pants, baju terbuka bahu, dll… Hehe. K sudah pernah ke Jakarta dan Medan juga beberapa kali, tapi memang sekarang fasenya dia lebih banyak berpikir. Maka pertanyaan keluar sekarang.

Bunda, kenapa kok belakang ibu tu terbuka? Aurat ga boleh terlihat kan?

Mana suara K tu tipenya besar gitu… πŸ™„

Iya, aurat ga boleh terbuka untuk kita. Tapi, pakaian orang beda-beda. Ada yang ditutup semua, ada yang enggak.

Dia terima sih, walaupun pas lihat tipe yang lain, nanya lagi. Memang waktu yang tepat untuk mengajarkan perbedaan. Semoga saya ga salah mengarahkan. Saya ingin K bertoleransi, tapi tetap tahu bahwa koridor yang benar hanya di jalan Islam.

Anyway, dari KLIA kita ke KL sentral naik bis. Di bandara, saya sempat tukar duit, yang mana ga recommended ya, haha. Saya sih tukar dikit untuk makan siang dan naik bis, plus beli paket data di KL Sentral. Trus naik grab ke Ampang. Total naik 3 moda hari ini. K merasa perjalanan jauh sekali, haha. K sempat ketiduran di bis, tapi langsung on begitu sampai di KL Sentral. Ga pake minta gendong, ga pake rewel. Padahal, biasanya dia harus dikelonin dulu bangun tidur dan mewek.

Kami pilih menginap di Ampang, pas di depan hospital yang dituju, KPJ Ampang Putri. Kawasannya cukup oke sih, banyak tempat makan. Ada bank dan money changer. Convenient store juga banyak. Ga aneh-aneh juga, haha. Beda dengan kawasan KL Sentral ya, banyak yang aneh orang-orangnya di Brickfields tuh.

Istirahat di hotel, malamnya saya dan K makan malam di Nando’s yang cuma 20 meter dari hotel. Finally!! Hahaha. Saya selalu kangen Nando’s, tempat favorit sama teman-teman kalo lagi stress assignments jaman kuliah di Melbourne. Kalo di Melbourne, Nando’s ini makanan murahan. Kalo di sini, kayaknya tergolong agak pricey.

Kami sempat ke Ampang Point di belakang hotel juga. Tapi ga interesting sih, jadi cuma lihat-lihat sebentar, beli susu K, dan pulang.

Tidur.

Rekap pengeluaran hari ini.

  1. Makan siang di KLIA 17.05
  2. Bis KLIA-KL sentral 18.00 (dewasa 12, anak 6).
  3. Paket data 30.00 (digi 1,5gb untuk 7 hari plus bonus 1gb/hari untuk jam 1pm-7pm, telpon gratis 20 menit ke Indo).
  4. Grab 19.50 (KL sentral-Ampang, tol 2.50).
  5. Deposit hotel 50.00 (bisa diambil lagi pas checkout).
  6. Tax turis 20.00 (10/malam)
  7. Nando’s 32.90
  8. Snacks 13.75

Desember

Whoaaa udah Desember aja. Tahun ini, selain ngajar, ada 5 project yang lumayan bikin pusing. Three down, two more to go. Huhuuuu.. perasaan lemburan terus tapi ga kelar-kelar. Sementara nilai mahasiswa belum disetor-setor.

Tiap tahun tuh selalu bikin resolusi tahun depan ga mau ambil kerjaan banyak, mau fokus sama anak, mau ikut banyak pengajian, dan yasudahlah switch ke dunia penelitian aja. Tapi nyatanya, ku tak bisa menolak. Mostly bukan soal duitnya, tapi tantangannya. Kayak ngerjain RDTR, saya mau karena jarang-jarang bisa dapat kerjaan RDTR. Trus ditawarin RTR ekowisata. Itu juga menarik karena menangani langsung kawasan ekosistem Leuser. Diajakin mendampingi Rancangan Qanun, mau juga karena pengalaman pertama pegang Naskah Akademis. Sebenarnya sudah membatasi 3 aja. Tapi, belakangan kampus pun demanding, studi kerjasama dengan instansi pemerintah pun ku terkena getahnya. Bukan cuma satu, tapi dua dan tiga. Hiks… Kasihan Karim. Kadang-kadang bobok ga ketemu ketek. Plus dimarahin kalo emaknya lagi bete telat keluar pagi gara-gara bangun kesiangan.

Yah, tiada solusi selain bersyukur. Orang lain mungkin susah cari sumber rezeki. Sambil mengucap syukur alhamdulillah, mari kita selesaikan kerjaan ini satu-satu. Sebelum Desember berakhir.

CPNS

Lagi musim kan ya. Siapa yang ikutan daftar juga??

πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†πŸ‘†

Iya… saya juga. Satu, saya memang sudah mulai mengajar di unsyiah. Saya pikir tak ada salahnya merubah status dari non pns ke pns. Menurut banyak orang, status pns lebih secured. Dua, orangtua saya, meski tak pernah memaksa, ingin sekali saya jadi dosen pns. Memang tidak pernah bilang secara langsung tapi saya selalu didorong mendaftar setiap kali musim open recruitment CPNS.

Total tiga kali saya ikut berpartisipasi. Hihiii… Banyak juga ya.

Pertama, daftar formasi PU pemprov Aceh sebagai ahli perencanaan wilayah dan kota. Gagal!!

Kedua, daftar formasi dosen unsyiah prodi PWK. Saya lolos SKD dan SKB tp berakhir gagal juga di akhir.

Ketiga, daftar lagi di formasi yang sama dengan yang kedua. Kali ini, TIU 105, TWK 120, dan TKP 139. Anak mudanya TKP, hehe. Saya gagal lagi!!

Kasian amat gagal melulu… Hahaha. Kalo dulu saya pernah senang bisa hattrick dapat H1 hampir tiap semester, kali ini hattrick gagal CPNS.

Bukan… Bukan begitu.

Kalo suami saya bilang, unsyiah itu ga rezeki dapat saya 😁😁. Atau dibalik, bukan rezeki saya di unsyiah. Rezeki saya di tempat lain, atau bisa saja di unsyiah dengan status berbeda. Jadi yaa.. saya sih bersyukur saja.

Pertama kali gagal jadi PNS, saya sempat kecewa. Menganggap saya kurang pintar, masa tes begitu bisa tidak lewat? Orang sekitar saya pun begitu. Kurang belajar, kali. Kurang latihan. Dan lain-lain.

Tapi… Kalo dipikir-pikir ya, tes SKD itu sendiri ga mencerminkan kepintaran dan keunggulan kok. Kalo mau adu pintar ya sesuai bidang lah. Terutama TKPnya, kita dipaksa memakai baju orang lain untuk memilih jawaban dengan skor tinggi. Padahal, siapa yang bisa jamin skor TKP tinggi berkorelasi dengan pegawai berintegritas?

Jadi, kawan… Lulus ga lulus cpns itu cuma masalah rezeki, kok. Bukan karena bodoh atau tidak mampu. Anda lihat sendiri, ga semua PNS ternyata lebih pintar, meski dulu lolos SKD 😁. Eh, moonmaap kalo salah kata yaa… Rezekinya saja memang disana.

Waktu… Untuk siapa?

Dalam rangka rajin ngeblog, saya usahain tulis apa saja yang sedang terpikir di kepala. Hehe…

Sabtu lalu adalah hari terakhir saya dan kawan-kawan calon asesor mengikuti pelatihan sekaligus uji kompetensi asesor. Hari itu, kami diuji satu per satu, sampai dapat dinyatakan kompeten. Saya sendiri merasa cukup repot, harus merevisi beberapa tugas, sampai akhirnya dinyatakan kompeten. Alhamdulillah.

Qadarullah saya dapat giliran pertama sekali dan akhirnya harus menunggu kawan-kawan lain diuji. Bayangkan, kami ber-40 diuji oleh 4 asesor secara bergantian, sesuai bidang masing-masing. Huh… Hek (lelah) deh. Nah, judul hari ini muncul akibat percakapan yang kami bahas selama menunggu teman-teman lain dalam proses uji kompetensi. Percakapan antara saya dan si master asesor yang menguji saya tadi, selepas menguji semua calon asesor bidang Perencanaan Wilayah dan Kota.

Waktu menunjukkan pukul 9 malam dan saya sudah sangat keberatan menunggu. FYI, pelatihan sudah berlangsung sejak 6 hari sebelumnya dan selalu selesai pasca maghrib, bahkan Isya. Jadi, kalau sabtu ini saya pulang malam lagi, anak saya pasti kecewa berat. Akhirnya, saya memberanikan diri minta izin ke penguji dan panitia untuk tidak menunggu kawan-kawan yang masih diuji. Toh, saya menunggu hanya untuk penutupan.

Panitia oke saja, asal penguji setuju. Menghadaplah saya ke si bapak. Kemudian, keluar lah nasihat… Hehe.

Saya hanya di rumah selama 3-4 jam saja. Selebihnya dedikasi saya di luar rumah.

Ga protes Pak, orang rumahnya?

Yaaa.. mungkin protes. Tapi ga berani bilang. Pekerjaan saya memang menuntut begitu. Bla bla…

Mmhhh… sila kalau bapak berdedikasi hingga tak punya waktu untuk orang yang mencintai bapak sepenuh hati. Saya sih ga mau begitu Pak. Tentu yang ini dalam hati saja ya 😁.

Saya sih menghargai ya waktu si bapak untuk pekerjaannya. Tapi… Apa iya kita sampai harus mengorbankan waktu untuk keluarga? Bukankah keluarga tempat kita kembali? Kalau meninggal, emang yang ngurusin jenazah kita orang kantor? Kalo sakit, emang yang repot orang kantor?

Banyak orang, termasuk si bapak, berpikir waktu liburan nanti lah yang akan menjadi family time.

Nah, kalo liburan, Saya ga boleh diganggu.

Oke Pak. Sila deh begitu. Saya ga mau kayak bapak… Ini juga dalam hati, wakakaka.

Untuk situasi emergency, saya pun sering meninggalkan keluarga. Tapi, ga selalu. Kalau ngikutin kerjaan, kapan habisnya? Ga habis-habis kan.

Akhirnya, setelah bercakap-cakap basa basi, saya memutuskan untuk tidak minta persetujuan siapa-siapa lagi. Saya menelepon suami untuk jemput. Pelan-pelan saya melipir ke belakang, bawa tas, turun ke basement dan pulang bersama suami dan anak. Jam 11 malam, kami sudah tidur bertiga. Bahagia.

Sementara, penutupan acara uji kompetensi asesor tadi baru berlangsung pukul 1 dini hari. Terbayang, jika tetap bertahan, saya pasti menggerutu kesal. Menunggu yang tidak perlu. Sayangnya, menunggu macam itu disebut dedikasi, bagian dari attitude yang diharapkan dalam bekerja. Padahal, tidak on time itu indikasi kinerja kurang efisien ga sih?

Duh.. kalau begitu, mohon maaf… Tak jadi asesor pun tak apa.

Waktu saya mahal. Bukan untuk kerja.